Make your own free website on Tripod.com

Raudah ArRidho

SEJARAH YANG HILANG

Muka Hadapan
Mengenai Kami
Perkumpulan Kami
Hubungi Kami
KEMELUT SESUDAH RASULULLAH
Kehadiran Rasulullah
Ali bin Abi Tholib
Imam Hasan Bin Ali Bin Abi Tholib
Fatimah azzahra a.s.
Imam Husein Asyahid a.s.
Peristiwa Karbala
Imam Ali Zainal Abidin
Imam Muhammad Al-Baqir
Imam Jaafar As-shodiq
Imam Musa Al-Kadzim
Imam Ali Ar-Ridho
Imam Muhammad Ali Al-Jawad
Imam Ali Hadi An-Naqi
Imam Hasan Al-Askari
Imam Mahdi Sohibuz Zaman
Ijtihad 4 Sahabat
Ijtihad Abu Bakar
Ijtihad Umar
Ijtihad Othman
Ijtihad Ali Ibn Abi Tholib
Doa-Doa Dalam Shi'ei
Yuhana Mencari Kebenara

Muhammad Al-Mahdi 

5dnya.jpg

Imam Mahdi as

"Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar,untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai."  (QS. 9:33).

Ath-Thabarsi dalam Tafsir Majma'ul Bayan fi tafsir Al-Qur'an jilid VII hal 66 menafsirkan sbb:

"Dialah yang telah mengutus RasulNya; yang di maksud Rasul disini adalah Muhammad S A W. (Dengan membawa) petunjuk; yakni hujjah-hujjah, penjelasan-penjelasan, dalil-dalil dan bukti-bukti. Dan agama yang benar; yakni agama Islam dan syariat-syariat yang mempunyai konsekwensi pembalasan berupa pahala, dan semua agama selainnya adalah bathil, yang mempunyai konsekwensi siksaan.

      Untuk dimenangkan-Nya atas segala agama; yang dimaksud: Dia akan mengunggulkan agama Islam diatas semua agama lainnya dengan hujjah, sehingga dimuka bumi ini tak ada satu agamapun yang tinggal kecuali dikalahkan, dan tak seorangpun yang bisa mengalahkan pemeluk Islam dengan hujjah, malah sebaliknya pemeluk Islam mengalahkan mereka dengan hujjah.

      "Imam Abu jakfar Muhammad Al-Bagir A S. mengatakan: " Sesungguhnya hal itu terjadi pada masa munculnya Al-Mahdi dari kelurga Muhammad, pada saat itu tak akan ada lagi seorang manusiapun kecuali dia mengakui Muhammad." pendapat ini didukung oleh Al-Sudiy dan Al-Kalbi.

      Al-Migdad bin Al-Aswad mengatakan: 'Aku mendengar Rasulullah S A W bersabda: " Tidak akan tinggal satu rumahpun, baik rumah permanen dipedesaan maupun perkemahan yang berpindah-pindah, kecuali Allah memasukkan kedalamnya, seruan Islam, entah dengan kemuliaan ataupun dengan kehina-dinaan. Adapun yang dimaksud "dengan kemuliaan" adalah, bahwa Allah menjadikan penghuni rumah itu sebagai pemeluk Islam hingga mereka menjadi mulia dengannya, Sedangkan "dengan kehinaan" maksudnya adalah, Allah menjadikan penghuninya tunduk kepada Islam.

      Dalam buku Al-Bahrul Muhith, Abu Hayyan Al-Andalusi mengutip pendapat A-Sudiy mengenai firman Allah : "Untuk dimenangkan atas segala Agama" mengatakan: "Hal itu akan terjadi pada saat munculnya Al-Mahdi. Pada saat itu tak seorangpun manusia yang tinggal kecuali dia masuk kedalam Islam atau membayar pajak (Jizyah)".

      Imam Malik (pemimpin mazhab Maliki) berkomentar mengenai firman Allah (QS. 28. 5) : "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin, dan menjadikan mereka mewarisi (bumi)." sbb: "Pembuktian atas ayat ini belum terjadi, dan bahwa ummat Islam masih menunggu munculnya manusia yang akan menjadi sarana bagi terwujudnya ayat tersebut"(Ath-Thabarsi dalam Majma'ul Bayan fi Tafsir Al-Qur'an jilid V hal  24). Ketika kaum Alawiyin (keturunan Fatimah A S)tertimpah penindasan yang teramat sangat oleh penguasah Abbasiyah, Muhammad ibn Jakfar Al-Alawy mengadukan pada Imam Malik dan dijawab oleh Imam Malik bersabarlah sampai datang tafsirnya ayat tsb diatas (QS. 28. 5), demikian riwayat Abul Faraj Al-Isfahany dalam buku Maqatil Aththalibiyin hal 539.

      Assayyid Abdullah Syabr dalam bukunya Haqqul Yakin jilid I hal 222 menuturkan bahwa hadits mengenai Imam Mahdi jumlahnya lebih dari lima ratus  yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, penyusun kitab Jami'ul Ushul dan orang-orang selain mereka. Selanjutnya beliau berkata dalam kitab-kitab yang Mu'tabar dan kitab Ushul yang telah diakui, terdapat lebih dari seribu hadits.

      Al-Juwaini Al-Khurasany mengeluarkan dari Sa'id bin Jubair dan Abdullah bin Abbas, yang disebut juga oleh Al-Majlisi dalam kitab Biharul Anwar jilid LI hal. 71 dari Akmaluddin sbb: Telah bersabda Rasulullah S A W : "Sesungguhnya para Khalifahku dan Washi (pemegang wasiat)ku serta hujjah-hujjah Allah terhadap makhluk sesudahku adalah 12 Orang, yang pertama adalah saudaraku, dan yang terakhir adalah anakku" Ditanya kepada beliau: 'Wahai Rasulullah, siapa saudara Tuan itu ?' 'Beliau menjawab: Ali bin Abi Thalib.' Ditanyakan lagi: 'Dan siapa putra Tuan itu ?' 'Beliau menjawab: 'Al-Mahdi,yang akan memenuhi dunia dengan keadilan, sebagaimana ia (dunia) telah dipenuhi dengan kejahatan dan kedzaliman.

      "Dan demi Dia(Allah), yang telah mengutusku sebagai Nabi, seandainya umur dunia ini hanya tinggal sehari saja , niscaya Allah akan memanjangkan hari itu sampai Dia membangkitkan didalamnya, anakku Al-Mahdi. Maka turunlah Ruhullah Isa putra Maryam A S, Dia akan shalat dibelakangnya, dan bumi akan bersinar dengan Nur Tuhannya, dan kekuasaannya akan mencapai timur dan barat."

      Imam Ahmad ibn Hambal (pemimpin mazhab Hambali) telah meriwayatkan dari 2 sufyan (yaitu Sufyan ibn Uyainah dan Sufyan Ats-Tsauri) bahwa Rasulullah bersabda : "Dunia tidak akan lenyab dan tidak akan musnah, sampai muncul seorang laki-laki dari Ahlil-Baitku yang menginjaknya, yang namanya sama dengan namaku." ( Kanzul Umal jilid XIV hal.263 oleh Al-Muttaqi al-Hindy ). Hadits yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Turmudzi.

      Dalam buku Al-Jami'ush Shaghir, jilid II hal. 580 oleh As-Suyuthi yang mengutib dari Abu Dawud diriwayatkan bahwa Nabi S A W bersabda: "Al-Mahdi itu dari (keturunan)-ku, keningnya lebar, hidungnya mancung, dia akan memenuhi dunia dengan keadilan, sebagaimana ia telah dipenuhi dengan kejahatan dan kedzaliman, dia akan menjadi pemimpin selama 7 tahun. Selanjutnya Assuyuthi dalam kitabnya yang lain Al-Hawi lil Fatawa  jilid II hal. 57 menerangkan dalam bab hadits mengenai Al-Mahdi sbb: "Ini adalah serangkaian hadits dan atsar yang disepakati, yang bertutur mengenai Al-Mahdi. Aku telah menyaring sebanyak 40 hadits yang dikumpulkan oleh Al-Hafid Abu Nu'aim, dan menambahkannya apa yang dia tidak memilikinya. Aku memberi catatan dengan huruf "Kaf"

     Kami akhiri sampai disini hadits-hadits mengenai Al-Mahdi, kami tidak dapat menyebutkan satu persatu karena jumlahnya sangat banyak sekali, yang dirawikan oleh ulama-ulama besar kepercayaan ummat Muhammad S A W, cukuplah bagi anda disini kami sebutkan fatwa Sekjen Rabithah Alamil Islami dan Rektor Universitas Islam Madinah yang dimuat dalam Majalah Al-Jami'ah Al-Islamiyah, No. 3 hal 161 - 162 sbb: " Sesungguhnya masalah Al-Mahdi merupakan masalah yang menjadi pengetahuan umum, dan hadits-hadits mengenainya banyak sekali, bahkan mencapai tingkat mutawatir. Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa munculnya tokoh yang dijanjikan ini merupakan suatu perkara yang telah tetap kebenarannya (yakni suatu kebenaran yang tak bisa diragukan lagi), dan munculnya adalah benar.

      Seorang dozen dalam Universitas tersebut bernama Ustad Syeh Abdul Muhsin Al-Ibad dalam bukunya : Muhadharah haula al-imam Al-Mahdi wa At-Ta'liq 'Alaiha, hal. 26, yang juga disampaikan dalam kuliahnya yang berjudul "Akidah Ahlus Sunnah dan Atsar tentang Al-Mahdi Al-Muntadhar sbb: Jumlah yang saya ketahui dari nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits Al-Mahdi dari Rasulullah S A W, adalah 26 orang mereka adalah :

1. Ustman ibn Affan, 2. Ali ibn Abi Thalib, 3. Thalhah ibn Ubaidillah, 4. Abdurrahman ibn Auf, 5. Al-Husain ibn Ali, 6. Ummu Salamah, 7. Ummu Habibah, 8. Abdullah ibn Abbas, 9. Abdullah ibn Mas'ud, 10. Abdullah ibn Umar, 11. Abdullah ibn Amr, 12. Abu Sa'id Al-Hudri, 13. Jabir ibn Abdullah, 14. Abu Hurairah, 15. Anas ibn Malik, 16. Ammar ibn Yasir, 17. Auf ibn Malik, 18. Tsauban maula Rasulullah, 19. Qurrah ibn Ayas, 20. Ali Al-Hilali, 21 Hudzaifah ibn Al-Yaman, 22. Abdullah ibn Al-Harits ibn Hamzah, 23. Auf ibn Malik, 24. Imran ibn Husain, 25. Abu Ath-Thufail, 26. Jabir Ash Shadafi. Selanjutnya beliau berkata : "Dan hadits -hadits Al-Mahdi itu telah dinukil oleh sejumlah besar imam dalam kitab-kitab shahih dan sunan, Mu'jam dan Musnad, serta lain-liannya. Jumlahnya kitab-kitab mereka yang saya ketahui atau yang saya ketahui bahwa mereka menukilnya 38.

Sangat panjang sekali bila saya sebut satu persatu disini, sebagai contoh cukup dibawah ini:

Abu Dawud dalam Sunannya, Turmudzi dalam Jami'nya, Ahmad dalam Musnadnya dan Ibn Hibban dalam Shahihnya, Al-Hakim dalam Al-Mustadarak, Abu Bakar ibn Abi Syaibah dalam Mushnif, Al-Hafizh (si penghafal lebih dari 100.000 hadits) Abu Nu'aim dalam kitab Al-Mahdi, Ath-Thabary dalam ketiga kitabnya Alkabir, Al-awsath dan Ashshaghir, Darul Qutny dalam Al-Afrad, Ibnu Asakir dalam Tarikhnya, Assuyuthi dalam Al-Urf Al-Wardy dan Al-Hawy fil Fatawa, Ibnu Jarir dalam Tahzib al Atsar, Al-Baihagy dalam Dala'ilun Nubuwah, Ibnu Sa'ad dalam Thabaqod.

Demikianlah jawaban saya ini, saya akhiri semoga anda menjadi puas dengan keterangan yang singkat ini, adapun buku-buku yang anda tunjuk itu adalah buku-buku yang dikarang oleh ulama-ulama yang kurang penerangan, mungkin juga kurang bahan rujukan atau mereka yang dihinggapi penyakit kebencian terhadap keluarga Nabi S A W, yang nota bonekanya adalah kebencian terhadap Nabi sendiri, mereka mengira ini adalah masalah yang ringan yang tiada perhitungannya disisi Al-Khaliq, ilmu mereka tidak sampai pada kerongkongan mereka, mereka merasa puas dengan apa yang telah dicapai dengan cara demikian itu, semoga Allah S W T menjadikan kita semua menjadi hamba-hambanya yang mengimani apa-apa yang wajib diimani dan memberi petunjuk selalu untuk mengikuti apa-apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya S A W, Semoga Allah mempercepat kehadiran Imam Mahdi yang dinanti-nantikan itu dan menjadikan kita sebagai bala tentaranya yang selalu setia mengikuti perintahnya Amin.

  Pertanyaan

Imam Mahdi siapa namanya ?

Ada yang mengatakan Mahdi bin Hasan, Ada pula yang mengatakan Mahdi bin Hanafiah dan ada lagi yang mengatakan Mahdi bin Abdullah.

Mohon dijelaskan dan bagaimana silsilahnya ?.

  Jawaban

Segala Puja dan Puji untuk Allah, shalawat dan salam untuk Nabi yang dicintai dan dikasihi oleh ruh, jiwa dan jasad kita demikian juga untuk kelurganya athoyyibin athohirin.

Masalah Imam Mahdi adalah salah satu masalah yang cukup rumit dalam Islam namun kesahihannya tidak dapat dmungkiri menurut Imam Suyuti dari jalur ulama jumhur lebih dari 500 hadits yang berkualitas shahih dan hasan, sedang menurut jalur ulama yang menghubungkan diri pada Imam Ja’far Ashshadiq ada sekitar 6.000 hadits. Dibawah ini adalah Hadits-hadits tambahan dari yang lalu :

a. Al-Mahdi adalah berasal dari keturunanku, yaitu anak cucu Fathimah. (riwayat : Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Al-Baihaqi dll).

b. Kami anak-anak Abdul Muththalib, adalah pemimpin para penghuni surga. Aku, Hamzah, Ali, Jakfar, Alhasan, Alhusain dan Almahdi. (Sunan Ibnu Majah jilid II halaman 1368).

c. Dunia tidak akan lenyap dan tidak akan musnah, sampai muncul seorang laki-laki dari Ahli Baitku yang menginjaknya, namanya sama dengan namaku. (Kanzul Umal jilid XIV halaman 263 oleh Al-Muttaqi Al-Hindi). dilain riwayat :”nama ayahnya sama dengan nama ayahku”.

d. Almahdi berasal dari keturunan Hasan (Sunan Abu Dawud)

e. Almahdi berasal dari keturunan Husain (Ashshawa’iqul Mughriqah oleh Ibnu Hajar dan Al-Fushulul Muhimah oleh Ibnu Khallikan).

  Dari uraian diatas yang paling jelas adalah bahwa Imam Mahdi itu dari keturunan Rasulullah Muhammad bin Abdilllah dari keturunan putrinya yaitu Sayyidatinah Athahirah Fathimah Azzahrah a. s. dan nama Imam Mahdi adalah Muhammad. Jadi Imam Mahdi itu bukan Ibnu Hanafiah, sebab Ibnu Hanafiah adalah dihubungkan kepada Muhammad Ibnu Hanafiah yaitu anak Sayyidinah Ali bin Abi Thalib yang ibunya dari suku Hanafiah (bukan Siti Fatimah). Yang menjadi masalah sekarang adalah : Namanya Muhammad bin Abdullah atau Muhammad bin Hasan, dan apakah dari keturunan Hasan atau Husain yang kedua-duanya adalah anak pasangan suami - istri Sayyidinah Ali bin Abi Thalib dengan Siti Fathimah binti Rasulillah S A W.

  Mari Kita amati keterangan dibawah ini yang dinukil dari kitab : ”Is’af Al-Raghibin fi Sirah Al-Mushthafa wa Fadha’il Ahli Baithi Al-Thahirin” karya Al-Imam Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Syaih Muhammad bin Ali Al-Shabban Rahimahullah sebagai berikut :

Sayyidi Abdul Wahab Al-Sya’rani mengatakan di dalam kitabnya Al-Yawaqit wal Jawahir bahwa Al-Mahdi itu berasal dari putra Imam Hasan Al-Askari. Lahir pada malam pertengahan bulan sya’ban tahun dua ratus lima puluh lima Hijriyah. Ia tetap hidup sampai sekarang dan akan bergabung dengan Nabi Isa a. s. Demikianlah yang diberitahukan oleh Syaih Hasan Al-Iraqi kepadaku, dari Imam Al-Mahdi, ketika Syaih Hasan berjumpa dengannya, yang kebetulan dihadiri juga oleh Sayyidi Ali Al-Khawwash rahimahumallaahu Ta’ala.

  Syeih Muhyiddin di dalam kitab Al-Futuhat mangatakan : ”Ketahuilah Bahwa Al-Mahdi a. s. itu mesti keluar, namun tidak akan keluar kecuali apabila dunia sudah penuh dengan kezaliman dan dialah yang akan melenyapkan kezaliman itu dan menggantikan dengan keadilan. Dia berasal dari keturunan Rasulullah S A W dari putra Fathimah r. a. datuknya adalah Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan ayahnya adalah Imam Hasan Al-Askari bin Imam Ali Al-Naqi bin Imam Muhammad Al-Taqi bin Imam Ali Al-Ridha bin Imam Musa Al-Kazhim bin Imam Jakfar Ashshadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

  alam Kitab Ash-Shawa’iqal Muhriqah karya Ibnu Hajar dalam bab mengenai ihwal Al-’Askari terdapat uraian sebagai berikut : ”Beliau (Imam Hasan Al-’Askari) tidak meninggalkan keturunan seorang pun selain putranya yaitu Abal Qasim Muhammad AlHujjah a.s., yang umurnya ketika ayahnya wafat adalah 5 tahun. Tetapi dalam usia tersebut Allah telah menganugrahkan kepadanya hikmah, dan dia dinamakan Al-Qa’im Al-Muntadzar. Dikatakan bahwa, yang demikian itu karena dia telah ”dirahasiakan” , kemudian menghilang dan tidak diketahui kemana perginya. Penulis lain dari kalangan jumhur ulama juga menuturkan hal serupa, misalnya Ibnu Khallikan, pengarang Al-Fushulul Muhimah, Mathalibus Su’ul, Syawahidun Nubuwah sebagai mana yang diterangkan oleh syaih Abdullah Syabar dalam karyanya yang berjudul Haqqul Yaqin. Wallahu a’lam

 

Imam Muhammad Al-Mahdi as

Narna : Muhammad

Gelar : Al-Mahdi, Al-Qoim, Al-Hujjah, AL-Muntadzar,

Shohib Al-Zaman, Hujjatullah

Julukan : Abul Qosim

Ayah : Hasan AL-Askari

Ibu : Narjis Khotun

Tempal/Tgl Lahir : Samara', Malam Jum'at 15 Sya'ban 255 H.

Ghaib Sughra : Selama 74 Tahun, di mulai sejak kelahirannya hingga tahun 329

Ghaib Kubra : Sejak Tahun 329 hingga saat ini

 

Riwayat Hidup

 

"Dan sungguh telah Kami tulis dalam zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfud, bahwu bumi ini akan diwarisi oleh hamha-hamba-Ku yang saleh (QS:21:105)

 

    Kaum muslimin, dengan segala perbedaan mazhab yang ada, sepakat mengen akan datangnya sang pembaharu bagi dunia yang telah dilanda kezaliman dan kerusakan, untuk kemudian memenuhinya dengan keadilan. Rasulullah s.a.w mengabarkan bahwa sang pemhaharu ini mempunyai nama yang sama dengan namanya.

    Manusia pilihan itu tidak lain adalah Muhammad bin al-Hasan al-Mahdi bin Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad bin Ali al-Ridha bin Musa al-Kazim bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang juga putra Fatimah az-Zahra binti Rasulullah s.a.w.

    Beliau dilahirkan di Samara' pada tahun 255 H. Ibunya adalah Narjis yang dulunya seorang jariah. Hingga berumur 5 tahun, beliau diasuh, dibimbing dan dididik oleh ayahandanya sendiri. Hasan al-Askari. Hingga saat ini beliau masih hidup dan akan muncul dengan seizin Allah untuk memenuhi bumi dengan keadilan.

    Kehidupan politik di zaman heliau sarat dengan kekacauan, fitnah dan pergolakan yang terjadi di mana-mana. Keadaan ini dilukiskan oleh Thahari: "Pada masa pemerintahan al-Mukhtadi seluruh dunia Islam dilanda oleh fitnah".(Tarikh Thabari, Jilid VII hal 359)

    Dalam situasi seperti inilah, Imam akhirnya ghaib dan hanya beberapa orang saja yang bisa menermuinya. Keghaiban Imam Mahdi terdiri dari dua periode; Ghaib Sughra dan Ghoib Kubra. Ghaib Sughra berlangsung sejak kelahiran beliau tahun 225 H, semasa hidup ayahnya. Pada masa Ghaib Sughra ini beliau hanya bisa ditermui oleh empat orang wakilnya yaitu:

1.      Utsman bin Said al-Umari al-Asadi.

2.      Muhammad bin Utsman bin Said al-Umari al-Asadi, wafat tahun 305 H.

3.      al-Husein bin Ruh al-Naubakti, wafat tahun 320 H.

4.      Ali bin Muhammad al-Samir, wafat 328/329 H.

    Keghaiban Sughra ini berlangsung selama 70 tahun. Sedang Ghaib Kubra terjadi sejak wafatnya wakil Imam yang keempat, Ali bin Muhammad Al-Samir, hingga Allah mengijinkan kemunculannya. Dalam masa Ghaib Kubra ini terputuslah hubungan beliau dengan para pengikutnya. Semoga Allah mempercepat kemunculannya. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

HANYA MASA AKAN MENENTUKAN KEZAHIRAN BELIAU, SEMOGA ALLAH MEMPERCEPATKAN KEZAHIRANYA YA! ILAHI !!

Mantle Clock

AL Ridho * Gombak * Selangor* Malaysia*

al-ridhogombak.jpg