Make your own free website on Tripod.com

Raudah ArRidho

SEJARAH YANG HILANG

Muka Hadapan
Mengenai Kami
Perkumpulan Kami
Hubungi Kami
KEMELUT SESUDAH RASULULLAH
Kehadiran Rasulullah
Ali bin Abi Tholib
Imam Hasan Bin Ali Bin Abi Tholib
Fatimah azzahra a.s.
Imam Husein Asyahid a.s.
Peristiwa Karbala
Imam Ali Zainal Abidin
Imam Muhammad Al-Baqir
Imam Jaafar As-shodiq
Imam Musa Al-Kadzim
Imam Ali Ar-Ridho
Imam Muhammad Ali Al-Jawad
Imam Ali Hadi An-Naqi
Imam Hasan Al-Askari
Imam Mahdi Sohibuz Zaman
Ijtihad 4 Sahabat
Ijtihad Abu Bakar
Ijtihad Umar
Ijtihad Othman
Ijtihad Ali Ibn Abi Tholib
Doa-Doa Dalam Shi'ei
Yuhana Mencari Kebenara

solarr.gif

Imam Muhammad Al-Jawad

Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad as

Imam Muhammad al-Jawad a.s. dibesarkan oleh ayahnya yang suci yaitu Imam Ali ar-Ridha a.s. selama 4 tahun. Kondisi kehidupan yang tidak kondusif memaksa Imam al-Ridha a.s. untuk pindah dari Madinah ke Khurasan, Iran, dan meninggalkan anak bungsunya. Imam a.s. sangatlah mengetahui tentang rencana jahat yang akan dilakukan oleh raja yang berkuasa, dan Imam a.s. tahu beliau tidak akan kembali ke Madinah untuk selama-lamanya. Jadi sebelum keberangkatannya dia mengangkat anaknya Imam al-Jawad a.s. sebagai penggantinya.

    Imam Ali ar-Ridha a.s. diracun pada tanggal 17 Safar 203H dan bersamaan dengan itu Allah mengangkat Imam al-Jawad a.s. bertanggung jawab pada posisi Imamah. Pada umur yang masih sangat muda, 8 tahun, tidaklah terlihat bahwa Imam yang masih muda tersebut memiliki ketinggian ilmu dan pengetahuan. Tetapi setelah beberapa hari berlalu beliau a.s. tidak hanya sering menang berdebat dengan ulama-ulama tentang fiqih, hadis, tafsir, dsb, tetapi juga meraih respect dan penghargaan mereka dalam kemampuannya. Sejak saat itulah dunia menyadari bahwa Imam a.s. memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas dan ilmu tersebut bukanlah dipelajari dan didapat, tetapi merupakan pemberian dari Allah SWT.

    Umur dari Imam Muhammad al-Jawad a.s. lebih pendek dari umur ayah-ayahnya, maupun putra-putranya. Beliau diangkat menjadi Imam pada umur 8 tahun, dan kemudian diracun pada umur 25; tetapi karya-karyanya sangatlah banyak dan ketinggian beliau diakui oleh banyak orang. Imam a.s. mewakili sifat ramah dan santun Rasulullah S.A.W dan kelihaian dari Imam Ali a.s. Warisan kehidupannya antara lain kejujuran, keramahan, kesantunan, ketegasan, pemaaf dan toleransi. Diri beliau yang sangat bersinar adalah karakternya yang selalu menunjukkan keramahan kepada siapapun tanpa kecuali, membantu yang membutuhkan; menjaga keadilan dalam situasi apapun, hidup sederhana, menolong yatim piatu, fakir miskin dan tunawisma; mengajarkan kepada yang tertarik untuk belajar dan membimbing rakyat ke jalan yang benar.

    Al-Ma'mun, raja Abbasiyah, menyadari bahwa untuk kelangsungan kerajaannya dia harus memenangkan simpati rakyat Iran yang selalu bersahabat terhadap Ahlul-Bayt Rasulullah S.A.W. Akibatnya al-Ma'mun terpaksa, dari segi politik, untuk berhubungan dengan anggota dari Bani Fatimah dengan mengorbankan ikatan keluarganya dengan Bani Abbas untuk meraih simpati kaum Shiah. Dia mengumumkan bahwa Imam Ali ar-Ridha a.s. sebagai pewarisnya, walaupun tanpa persetujuan Imam a.s., dan mengawinkan saudaranya Ummu Habihah. Al-Ma'mun berharap bahwa Imam ar-Ridha a.s. akan memberikan bantuan dalam urusan-urusan politik. Tetapi ketika dia menyadari bahwa Imam a.s. tidak terlalu tertarik pada urusan politik dan rakyat kebanyakan semakin dekat kepada Imam a.s. karena ketinggiannya, dia meracuni Imam a.s. Kemudian dia berniat untuk mengawinkan puterinya Ummu'l Fadl dengan Imam al-Jawad a.s. dan memanggil Imam dari Madinah ke Iraq. Bani Abbas sangat marah ketika tahu bahwa al-Ma'mun merancaga untuk mengawinkan anaknya dengan Imam al-Jawad a.s. Mereka berusaha untuk memaksa al-Ma'mun agar mengurungkan niatnya. Tetapi al-Ma'mun tetap terpersona pada ilmu dan ketinggian ilmu dari Imam a.s. Dia kerap berkata bahwa walaupun Imam al-Jawad a.s. masih sangatlah muda, tapi beliau mewarisi segala sifat-sifat ayahnya dan seluruh ulama-ulama Islam di dunia tidak ada yang menyaingi beliau a.s. Ketika Bani Abbas menyadari bahwa al-Ma'mun semakin dekat kepada Imam a.s. mereka menyuruh Yahya bin Aktham, ulama paling utama di Baghdad, untuk berdebat dengan Imam a.s. Al-Ma'mun mempersiapkan acara ini dan mengumumkannya secara besar-besaran. Selain untuk kalangan kerajaan dan pejabat, telah disediakan sekitar 900 kerusi untuk para ulama. Dunia terpana ketika seorang anak kecil dihadapkan untuk berdebat dengan para ulama-ulama veteran di Iraq. Imam al-Jawad a.s. duduk di sebelah al-Ma'mun hadap-berhadapan dengan Yahya bin Aktham, yang kemudian bertanya,"Apakah kau izinkan aku untuk bertanya?" "Tanyalah apa saja yang engkau mau," jawam Imam a.s. Kemudian sesi ini dilanjutkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Imam a.s. yang dijawab dengan sangat baik oleh Imam a.s. Ketika pada akhirnya Imam a.s. bertanya balik kepada Yahya bin Aktham, dia tidak bisa menjawab. Kemudian al-Ma'mun berkata,"Tidakkah aku sudah mengatakan bahwa Imam datang dari keluarga yang telah dipilih oleh Allah sebagai tempat penyimpanan ilmu pengetahuan? Apakah ada satu orang pun di dunia ini yang bahkan mampu untuk menyaingi seorang anak kecil dari keluarga ini?" Lalu semuanya menyahut,"Tidak diragukan lagi bahwa tidak ada yang menyamai Muhammad bin Ali al-Jawad." Dan kemudian al-Ma'mun menikahkan anaknya Ummu'l Fadl dengan Imam a.s. Satu tahun setelah pernikahannya Imam a.s. memutuskan untuk kembali ke Madinah dengan istri beliau.

    Sepeninggal al-Ma'mun, al-Mu'tasim menaikit tahta, dia menggunakan kesempatan ini untuk menjelek-jelekkan Imam a.s., menyakitinya dan menyebarkan berita bohong terhadapnya. Dia memanggil Imam a.s. ke Baghdad. Setibanya Imam a.s. di Baghdad pada tanggal 9 Muharram 220H al-Mu'tasim meracuni diri beliau. Imam a.s. meninggal pada tanggal 28 Zulqaidah 220H dan dikuburkan disisi kakek beliau, Imam Musa al-Kazhim a.s., Imam ketujuh dalam Shiah Imamiyah di pinggiran kota Baghdad.

 

Imam Muhammad Al-Jawad as

Nama : Muhammad

Gelar : Al-Jawad, Al-Taqi

Julukan : Abu Ja'far

Ayah : Ali Ar-Ridha

Ibu : Sabikah yang dijuluki Raibanah

Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 10 Rajab 195 H.

Hari/Tgl Wafat : Selasa, Akhir Dzul-Hijjah 220 H.

Umur : 25 Tahun

Sebab kematian : diracun istrinya

Makam : Al-Kadzimiah

Jumlah Anak : 4 Orang; 2 laki-laki dan 2 perempuan

Anak Laki-laki : Ali, Musa

Anak Perempuan : Fatimah, Umamah 

 

Riwayat Hidup

 

    Ahlul Bait Nabi s.a.w yang akan kita bicarakan kAliini adalah Muhammad al Jawad. Beliau adalah putra dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. yang dikenal sebagai orang yang zuhud, alim serta ahli ibadah. lbunya Sabikah, berasal dari kota Naubiyah. Di masa kanak-kanaknya beliau dibesarkan, diasuh dan dididik oleh ayahandanya sendiri selama 4 tahun. Kemudian ayahandanya diharuskan pindah dari Madinah ke Khurasan. ltulah pertermuan terakhir antara beliau dengan ayahnya, sebab ayahnya kemudian mati diracun. Sejak tanggal 17 Safar 203 Hijriah, Imam Muhammad aL-Jawad memegang tanggung jawab keimaman atas pernyataan ayahandanya sendiri serta titah dari Ilahi.

    Beliau hidup di zaman peralihan antara al-Amin dan al-Makmun. Pada masa kecilnya beliau merasakan adanya kekacauan di negerinya.     Beliau juga mendengar pengangkatan ayahnya sehagai putra mahkota yang mana kemudian terdengar khabar tentang kematian ayahnya.     Sejak kecil, beliau telah menunjukkan sifal-sifat yang mulia serta tingkat kecerdasan yang tinggi. Dikisahkan bahwa ketika ayahnya dipanggil ke Baghdad, beliau ikut mengantarkannya sampai ke Makkah. Kemudian ayahnya tawaf dan berpamitan kepada Baitullah. Melihat ayahnya yang berpamitan kepada Baitullah, beliau akhirnya duduk dan tidak mau berjalan. Setelah ditanya, beliau menjawab: "Bagaimana mungkin saya bisa meninggalkan tempat ini kalau ayah sudah berpamitan dengan Bait ini untuk tidak kembali kemari". Dengan kecerdasannya yang tinggi beliau yang masih berusia empat tahun lebih boleh merasakan akan dekatnya perpisahan dengan ayahnya.

    Dalam bidang keilmuan, beliau telah dikenal karena seringkali berbincang dengan para ulama di zamannya. Beliau mengungguli mereka semua, baik dalam bidang fiqih, hadis, tafsir dan lain-lainnya. Melihat kepandaiannya, al-Makmun sebagai raja saat itu, berniat mengawinkan Imam Muhammad al-Jawad dengan putrinya, Ummu Fadhl.

    Rencana ini mendapat tantangan keras dari kaum kerabatnya, karena mereka takut Ahlul Bait Rasulullah s.a.w akan mengambil alih kekuasaan. Mereka kemudian mensyaratkan agar Imam dipertemukan dengan seorang ahli agama Abbasiyah yang bernama Yahya bin Aktsam. Pertemuan pun diatur, sementara Qodhi Yahya bin Aktsam sudah berhadapan dengan Imam. Tanya jawab pun terjadi, ternyata pertanyaan Qodi Yahya bin Aktsam dapat dijawab oleh Imam dengan benar dan fasih. namun pcrtanyaan Imam tak mampu dijawabnya. Gemparlah semua hadirin yang ikut hadir saat itu. Demikian pula halnya dengan al-Makmun, juga mersa kagum sembari herkata: "Anda hebat sekali, wahai Abu Ja'far". Imam pun akhirnya dinikahkan dengan anaknya Ummu al-Hadlil, dan sebagai tanda suka cita, al-Makmun kemudian membagi-bagikan hadiah secara royal kepada rakyatnya. Setahun setelah pernikahannya Imam kembali ke     Madinah hersama istrinya dan kembali mengajarkan agama Allah.

Meskipun di zaman al-Makmun, Ahlul Bait merasa lebih aman dari zaman sebelumnya, namun beberapa pemberontakan masih juga terjadi. Itu semua dikarenakan adanya perlakuan-perlakuan yang semena-mena dan para bawahan al-Makmun dan juga akibat politik yang tidak lurus kepada umat.

    Setelah Al-Makmun mati, pemerintahan dipimpin oleh Muktasim. Muktasim menunjukkan sifat kebencian kepada Ahlul Bait, seperti juga para pendahulunya. Penyiksaan, penganiayaan dan pembunuhan terjadi lagi, hingga pemberontakan terjadi dimana-mana dan semua mempergunakan atas nama "Ahlul Bait Rasulullah s.a.w". Melihat pengaruh Imam Muhammad yang sangat besar ditengah masyarakat, serta kemuliaan dan peranannya dalam bidang politik, ilmiah serta kemasyarakatan, maka al-Muktasim tidak berbeda dengan para pendahulunya dalam hal takutnya terhadap keimamahan Ahlul Bait Rasulullah s.a.w.

Pada tahun 219 H karena kekhawatirannya al-Muktasim meminta Imam pindah dari Madinah ke Baghdad sehingga Imam berada dekat dengan pusat kekuasaan dan pengawasan. Kepergiannya dielu-elukan oleh rakyat di sepanjang jalan.

    Tidak lama kemudian, tepatnya pada tahun 220 H, Imam wafat melalui rencana pembunuhan yang diatur oleh Muktasim yaitu dengabn cara meracuninya. Menurut riwayat beliau diracun oleh istrinya sendiri, Ummu Fadl, putri al-Makmun atas hasutan al-Muktasim. Imam Muhamad wafat dalam usia relatiisf muda yaitu 25 tahun dan dimakamkan disamping datuknya, Imam Musa Kazim, di Kazimiah, perkuburan Qurays di daerah pinggiran kota Bagdad. Meskipun beliau syahid dalam umur yang relatif muda, namun jasa-jasanya dalam memperjuangkan dan mendidik umal sangatlah besar sekali.

Enter supporting content here

AL Ridho * Gombak * Selangor* Malaysia*

al-ridhogombak.jpg