Make your own free website on Tripod.com

Raudah ArRidho

SEJARAH YANG HILANG

Muka Hadapan
Mengenai Kami
Perkumpulan Kami
Hubungi Kami
KEMELUT SESUDAH RASULULLAH
Kehadiran Rasulullah
Ali bin Abi Tholib
Imam Hasan Bin Ali Bin Abi Tholib
Fatimah azzahra a.s.
Imam Husein Asyahid a.s.
Peristiwa Karbala
Imam Ali Zainal Abidin
Imam Muhammad Al-Baqir
Imam Jaafar As-shodiq
Imam Musa Al-Kadzim
Imam Ali Ar-Ridho
Imam Muhammad Ali Al-Jawad
Imam Ali Hadi An-Naqi
Imam Hasan Al-Askari
Imam Mahdi Sohibuz Zaman
Ijtihad 4 Sahabat
Ijtihad Abu Bakar
Ijtihad Umar
Ijtihad Othman
Ijtihad Ali Ibn Abi Tholib
Doa-Doa Dalam Shi'ei
Yuhana Mencari Kebenara

PERISTIWA KARBALA

Peristiwa Karbala

Tujuan Imam Husayn A.S Bangkit Menentang Yazid:

Antara kandungan surat Imam Husein A.S kepada saudaranya Muhammad al-Hanafiyyah:
 
..." Aku keluar [mengangkat senjata menentang Yazid] bukan karena berasa iri hati dan tidak karena marah dan bukan karena mau melakukan kerusakan atau bukan juga karena mau melakukan kezaliman. Tetapi aku keluar untuk menentang [Yazid] hanya semata-mata untuk membawa islam kepada ummah datukku Rasulullah S.A.W. Aku mau menegakkan yang ma'aruf dan nahi mungkar dan memimpin ummah [ke jalan kebenaran] sebagaimana yang telah dilakukan oleh ayahku [Imam Ali A.S] dan datukku [Muhammad S.A.W]...."

 

Antara ucapan Imam Husayn A.S sebelum keluar dari Mekah bagi meneruskan perjalanan ke Iraq:

" ......Segala puji bagi Allah, barang yang dikehendaki oleh Allah dan tidak ada kekuatan yang lain melainkan Kekuasaan Allah, selawat dan salam kepada RasulNya. Garisan maut ke atas Bani Adam umpama garisan perjuangan bagi pemuda satria. Bermula keadaanku hingga akhirnya sebagaimana kepimpinan Ya'akub yang diwarisi oleh puteranya Yusuf. Sebaik-baiknya bagiku ialah perjuangan dan cahaya bumi Karbala bergemerlapan. Tidak dapat kalam menggambarkan apa yang telah terjadi pada hari ini...."

 

Dalam perjalanannya menuju Karbala Imam Husayn A.S mengungkapkan ucapan yang menggariskan pendiriannya untuk menegakkan Islam:

"Sesungguhnya dunia ini telah berubah dan mengingkari haq, kebenaran telah ditinggalkan, tidak ada lagi yang tinggal padanya melainkan semut-semut di bekas-bekas makanan. Demikiannya tandusnya kehidupan sebagai penggembala kehilangan ternakannya. Tidakkah anda melihat kebenaran dan kenapa tidak melaksanakannya? Akan tetapi kebatilan dan kejahatan mengapa tidak boleh dihentikan....untuk menggembirakan seorang beriman dalam pertemuan dengan Allah... ianya suatu kepastian. Sesungguhnya aku tidak melihat kematian dan maut yang mendatang melainkan dengan penuh kebahagiaan, hidupku bersama dengan si zalim bagaikan duri yang menikam serta api yang membakar. Sesungguhnya manusia telah menjadi hamba dunia dan agama hanya berputar di lidah-lidah mereka demikian jalan kehidupan yang dijalani oleh mereka, maka apabila mereka ditimpa dugaan lantas mereka berkata telah hampirnya kami kepada kematian."

 

Pendapat Abul A'la al-Maududi Tentang Peristiwa Karbala

...."Marilah kita tinggalkan sejenak persoalan tindakan Husein ini, apakah hal itu sah ditinjau dari segi pandangan Islam atau tidak, meskipun kami tidak pernah mengetahui seseorang pun dari para sahabat Nabi S.A.W atau tabi'in, baik di masa hidup Husein ataupun selepas wafatnya, ada yang berkata bahwa tindakan Husein adalah tindakan yang tidak sah menurut syariat, dan bahwa dengan itu ia telah melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah. Adapun yang diucapkan oleh beberapa orang sahabat Nabi S.A.W yang mencuba mencegah Husein meneruskan tindakannya itu maka sesungguhnya mereka tidak melakukannya melainkan atas dasar bahwa tindakannya itu bukan merupakan langkah yang tepat dari segi taktik semata-mata. Bahkan jika kita "mengadaikan" dapat menerima anggapan pemerintahan Yazid, namun apa yang terjadi dalam kenyataannya, sama sekali tidak dapat dikatakan bahwa Husein telah bergerak dengan pasukan tentara, tetapi hanya berangkat dari kota Madinah bersama keluarganya dan tiga puluh dua orang penunggang kuda serta empat puluh orang pejalan kaki, tidak lebih dari itu.

Hal tersebut tidak mungkin kita namakan sebagai serbuan perang dari seseorang pun. Di sisi lainnya, jumlah tentera yang dikirimkan dari kota Kufah di bawah pimpinan Umar bin Sa'd bin Abi Waqqash berjumlah empat ribu orang, tanpa adanya alasan yang mendesak pasukan tentera yang besar ini memerangi kelompok kecil tersebut dan membunuhnya. Tetapi sebenarnya mereka cukup mengepungnya dan menangkap orang-orangnya satu persatu dengan cara yang paling mudah. Sedangkan Husein sendiri hingga detik-detik terakhirnya, selalu berkata kepada mereka: “Biarkan aku pulang atau pergi ke perbatasan negeri untuk berjihad atau bawalah aku ke hadapan Yazid." Namun mereka tidak mau menerima sesuatu dari ucapannya ini, bahkan mereka berkeras untuk membawanya ke hadapan Ubaidullah bin Ziyad, gabenor Kufah. Dan Husein menolak menyerahkan dirinya kepada Ibnu Ziyad, sebab ia tahu benar apa yang dilakukan oleh Ibnu Ziyad ke atas diri Muslim bin Aqil, saudara sepupunya. Lalu mereka memeranginya, sehingga ketika semua kawannya telah gugur sebagai syuhada dan dia berdiri di tengah-tengah medan peperangan sendirian, mereka pun menyerbunya dan mengeroyoknya bersama-sama.

Dan ketika ia terluka dan kemudian jatuh, mereka menyembelihnya dan merompak apa saja yang ada di atas jasadnya, mengoyak-ngoyak baju yang menutup tubuhnya, kemudian menggilasnya dengan kuda-kuda dan menginjak-injaknya dengan kaki-kaki mereka. Setelah itu mereka beralih ke khemahnya, merompak isinya, mencabik-cabik pakaian para wanita, memenggal kepala-kepala setiap orang yang telah gugur di Karbala dan membawa semuanya ke Kufah. Ibnu Ziyad tidak cukup menjadikan itu semua sebagai barang tontonan di hadapan orang banyak tetapi ia naik ke atas mimbar Masjid Jami' dan berkata: " Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menampakkan kebenaran dan ahlinya, memenangkan Amirul Mukminin Yazid dan kelompoknya serta membunuh si pendusta putera si pendusta, Husein bin Ali dan pengikut-pengikutnya".....

Memang ada beberapa perbezaan dalam riwayat-riwayat yang menyebut menyebutkan tentang tindakan Yazid dan ucapan-ucapannya di Istana Damsyik, tetapi sekiranya kita meninggalkan semua riwayat ini dan mempercayai satu riwayat saja yang menyatakan bahwa Yazid telah menangis ketika menyaksikan penggalan kepada Husein dan kawan-kawannya lalu ia berkata: " Sesungguhnya aku sudah puas dengan ketaatan kalian tanpa membunuh Husein. Terkutuklah cucu Sumayyah. Demi Allah, sekiranya aku yang berhadapan dengannya, niscaya aku akan mengampuninya."

Dan bahwa ia juga berkata:" Demi Allah, wahai Husein, sekiranya aku berada di hadapanmu, niscaya aku tidak akan membunuhmu." Sekiranya riwayat itu kita percaya maka masih ada pertanyaan yang ingin kita tanyakan, hukuman apakah yang telah dilakukan oleh Yazid ke atas diri gabenornya yang durjana itu atas perbuatannya melakukan kezaliman yang besar ini?

Berkata Ibn Katsir bahwa Yazid tidak pernah menghukum Ibnu Ziyad, tidak memecatnya, bahkan tidak pernah mengirim sepucuk surat kecaman pun kepadanya." [Lihat S.Abul Ala Maududi; Khilafah dan Kerajaan, halaman 233-234]

 

Siapakah Yazid?

Abdullah bin Handhalah adalah seorang sahabat Nabi S.A.W. Setelah syahidnya Imam Husein A.S, ia mengumpulkan orang ramai di halaman Masjid Nabi di Madinah dan berkata mengenai Yazid:" Hai manusia kami datang kepada kalian karena seseorang yang meninggalkan solat dan mempunyai kegemaran minum minuman keras....dan gemar bermain dengan kera dan anjing. Maka apabila bai'ah kepadanya tidak dicabut, saya takut kita semua akan dihujani batu [oleh Allah] dari langit."

Hasan al-Basri ketika menyimpulkan perbuatan-perbuatan buruk Muawiyah:"Pertama, ia telah merampas kerusi khalifah tanpa permesyuaratan...... Kedua, dia berani menentukan anaknya [Yazid] yang pemabuk yang begelumang dengan khamar, mengenakan pakaian sutera dan menabuh gendang itu sebagai khalifah umat Islam setelah kematiannya.Ketiga, menasabkan Ziyad bin Sumayyah kepada Abu Sufian [ayahnya] sedangkan Rasulullah S.A.W telah bersabda:'Seorang anak dinasabkan kepada ayahnya yang sah, dan tiada hak bagi penzina'. Keempat, dia telah membunuh Hujr bin Adi dan sahabat-sahabatnya. [al-Isti'ab, Jilid 1, halaman 135; al-Tabari, Jilid 4, halaman 208]

Abdullah, putera kepada Ahmad bin Hanbal, pada suatu hari bertanya kepada ayahnya tentang hukum melaknat Yazid. Ia menjawab:" Bagaimana aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Allah?"Kemudian ia membaca ayat dari Surah Muhammad:22-23, yang bermaksud:"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan, mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan dituliskanNya telinga mereka dan dibutakanNya mata mereka." Kemudian dia berkata:"Kerusakan dan pemutus hubungan kekeluargaan yang bagaimanakah lebih besar daripada yang telah dilakukan oleh Yazid?" [Al-Bidayah, Jilid 8, halaman 223]

 

Apakah Penentangan Imam Husein A.S Terhadap Yazid Merupakan Satu Tindakan Membunuh Diri?

Persoalan semacam ini sering dikaitkan dengan ayat Qur'an Surah al-Baqarah: 195 yang bermaksud: " Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..."

Al-Tahlukah berarti segala perkara yang mencelakakan dan membawa bencana bagi manusia. Biasanya sipelaku menjadi fakir, sakit, atau mati. Sedangkan ayat tersebut didahului dengan anjuran berinfaq di jalan Allah iaitu mengeluarkan apa saja yang diredhai Allah [seperti harta benda] agar dapat mendekatkan manusia padaNya. Kemudian dilanjutkan dengan larangan menjatuhkan diri ke dalam kerusakan dengan sebab meninggalkan infaq di jalan Allah.

Firman Allah dalam Surah al-Baqarah ayat 195 yang lengkap, bermaksud:

  
          
                                    "Dan keluarkan infaq [harta bendamu] pada jalan Allah, 
 
         
                                    dan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan 
 
          dan berbuat baiklah, sesungguhnya
                                    Allah menyukai kebajikan."

Ayat di atas tentunya tidak relevan untuk mendiskreditkan perjuangan Imam Husein A.S. Sebaliknya ia menguatkan lagi kebenaran perjuangan Imam Husein A.S karena beliau A.S telah mengorbankan harta benda, putra-putranya malahan jiwa raganya sendiri untuk menegakkan agama Allah.

Segelintir orang berpendapat perjuangan Imam Husein A.S satu tindakan bunuh diri karena bilangan tentera pasukannya amat kecil berbanding tentera Yazid yang akan menentangnya; maka itu satu pebuatan sia-sia. Tetapi pendapat ini juga tidak betul jika kita mengamati contoh-contoh perjuangan para Nabi terdahulu umpamanya Nabi Musa A.S menentang Fir'aun dan perjuangan Nabi Ibrahim A.S menentang Namrud.

Imam Husein A.S telah bertindak selaras dengan tuntutan Al-Qur'an dan Hadith Nabi S.A.W. Sebuah Hadith Nabi S.A.W yang kita ketahui menyatakan bahwa:

      "Barang siapa di antara kalian melihat
                                    kemungkaran,   maka hendaklah ia menghilangkannya  dengan tangan, 
    dan apabila tidak mampu, dengan lidahnya, dan apabila masih
                                    tidak mampu dengan hatinya.Dan inilah    
        selemah-lemahnya iman."  Allah berfirman dalam al-Qur'an Surah Al-Imran:110, bermaksud: 
 "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma'ruf dan
                                    mencegah yang   
  mungkar serta beriman
                                    kepada Allah."

   

Dan ingatlah bahwa sesungguhnya Allah telah berfirman dalam Surah Al-Imran:169, yang bermaksud:

"Janganlah kamu mengira
                                    bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."

 

Cinta Kepada Imam Husein A.S

Hadith Rasulullah S.A.W yang diriwayatkan dalam Sahih Al-Tirmidzi dari Ya'la bin Murrah menegaskan kecintaan kepada Husein A.S akan mendapat cinta dari Allah SWT:

"Husein daripadaku dan
                                    aku pula daripada Husein, Allah mencintai sesiapa yang mencintai al-Husein,”

Rasulullah S.A.W mengajak kita semua mengasihi Husein A.S seperti yang dinyatakan dalam hadith yang diriwayatkan dari Barra' bin Azib:

"Aku telah melihat Rasulullah S.A.W mendokong al-Husein cucundanya yang masih kecil dan meletakkan di atas pangkuannya seraya berdo'a yang bermaksud:

 "Ya Allah sesungguhnya aku mengasihinya oleh itu kasihilah dia."

Dan Sesiapa yang memusuhinya telah memusuhi Allah SWT seperti maksud hadith yang dinyatakan di bawah:

"Dan
                                    sesiapa yang memusuhi kedua-duanya
 [Hasan A.S dan Husein A.S] maka ia telah
                                    memusuhi Allah, dan barang siapa memusuhi Allah maka ia akan di campakkan ke dalam api neraka mukanya akan terlempar
                                    dahulu."

Kesimpulannya, perjuangan Imam Husein A.S adalah berada di jalan yang benar selaras dengan tuntutan ajaran Islam yang dibawa dan diajarkan oleh datuknya sendiri Muhammad Rasulullah S.A.W.

 

Menangisi Kesyahidan Imam Husein A.S

Rasulullah S.A.W telah bersabda yang mengisyaratkan bahwa perjuangan al-Husein A.S adalah seperti perjuangan beliau S.A.W, yang bermaksud:

"Husein daripadaku dan aku daripada Husein [Husein minni wa-ana min Husein]...."

Sabda beliau SAWA yang lain yang bermaksud:

"Jika ada orang yang meninggal dunia seperti Hamzah hendaklah
                                    ada yang menangisinya..."

Allah SWT berfirman dalam al-Qur'an Surah al-Ahzab:21 yang bermaksud:

" Di dalam diri Rasulullah terdapat uswah
                                    hasanah [teladan yang baik] bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhirat serta dia selalu mengingati Allah."

Tidak diragukan lagi bahwa jika ada orang yang mengingati Peristiwa Karbala dan kemudian menangisi Imam Husein AS maka orang ini telah mengikuti saranan Rasulullah S.A.W.

Sabda Rasulullah S.A.W yang lain bermaksud:

"Keringnya air mata [terhadap sesuatu musibah] adalah tanda dari kerasnya hati. Itulah
                                    penyakit terparah yang menimpa anak cucu Adam."

Seorang sahabat Imam Ja'afar al-Sadiq A.S menemui beliau A.S pada 10 Muharram. Pada ketika itu Imam Ja'afar al-Sadiq A.S sedang menangis tersedu-sedu. Sahabat ini mungkin terlupa bahwa hari itu adalah Hari Asyura. Ia pun bertanya kepada Imam Ja'afar al-Sadiq A.S sebab-sebab beliau A.S menangis. Imam Ja'afar A.S menjawab:

"Apakah engkau lupa ini adalah hari ketika
                                    datukku al-Husayn dibunuh dengan kejam?
 Barang siapa menjadikan hari ini
                                    sebagai hari berkabungnya, maka Allah akan menjadikan Hari Qiamat kelak sebagai hari kegembiraan dan kebahagiaannya.Di
                                    syurga ia akan tinggal dengan penuh kebahagiaan."
Hari
                                    Karbala ialah pada 10 Muharram 61H....
Imam
                                    Husein A.S telah syahid pada hari Jumaat ketika berusia 57 tahun....
Andakah anda mengingatinya?

Imam Ja'afar al-Sadiq A.S berkata:

"Setiap hari adalah Asyura
 
 
 
            
                                    Setiap tanah adalah Karbala"

 

Setiap Hari, Asyura; Setiap Tanah, Karbala

Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang

IMAM Hussein (A.S.) dengan kebangkitannya menjamin ikhtiar hidup Islam yang tulen. Riwayat hidup Imam Al Hussein (A.S) yang rahmat dan revolusiner serta kebangkitan Islamnya adalah satu perkara yang amat penting untuk dipelajari dan diselidiki bagi mereka yang mahukan wujudnya keadilan llahi dan kemusnahan sistem penindasan di seluruh dunia di semua zaman. Untuk memperingati kesyahidan Hadhrat Al Hussein (AS), Imam ke Tiga dari keluarga Rasulullah (saw) dan juga 72 orang pembantunya yang setia serta saudara- maranya adalah juga penting dan ia memperkuatkan perjuangan yang sebenar bagi mereka yang beriman dan negara-negara tertindas terhadap para penzalim di merata-rata dalam apa zaman pun. la juga merupakan satu protes terhadap pelbagai dimensi dan punca kezaliman di seluruh dunia.

Sepuluh Muharram adalah hari kebangkitan Islam, satu hari tradisi untuk mengingati kesyahidan mereka dan juga yang mereka lakukan ke jalan Allah, Maha Berkuasa. Di sini kami mengulas secara ringkas peristiwa kebangkitan Imam Al Hussein (A.S.).

Setelah mengkaji akan kata-kata pepatah dan ajaran begitu juga dengan fikiran dan menumpukan perhatian pada apa yang dilakukannya, di Karbala pada tahun 61H. telah membuatkan orang Islam dan yang tertindas berkumpul di purata dunia biarpun menentang kezaliman sistem pemerintahan dan juga penindasan yang telah dilakukan dan tidak akan berhenti sehingga kebenaran dan keadilan mengatasinya.

Imam yang ketiga iaitu Hadhrat Seyyed Ash-Shohada (A.S.) telah menyelamatkan Islam dan boleh dikatakan telah mengajar para pengikutnya supaya tidak tunduk kepada kezaliman walau bagaimana kuat sekalipun pihak yang zalim itu.

Imam Al-Hussein (A.S.) dan 72 orang teman dan saudara-saudaranya termasuk juga anaknya yang baru berumur 6 bulan iaitu Alie Asghar (A.S.) telah terkorban di jalan Allah dalam mempertahankan Islam dan agamanya dalam peperangan di Karbala. Lebih daripada 30 ribu orang tentera musuh Islam telah berkumpul untuk melawan Imam kaum muslimin dan juga merupakan kaum keluarga Nabi Muhammad S.AW.

Imam dan juga para pembantunya telah memilih jihad kerana Allah dalam menghadapi tentera Yazid daripada mengambil sikap berdiam diri ataupun daripada mengangkat sumpah taat setia kepada seorang penindas dan juga penjenayah seperti Yazid Ibnu Mua'-wiyah. Yazid merupakan seorang yang terkenal yang bemiat untuk membasmikan ajaran Islam yang sebenarnya.

Enam bulan terakhir Imam berbetulan dengan 10 tahun pemerintahan Khalifah Yazid yang haram. Imam Al-Hussein dalam keadaan yang amat susah sekali dalam tertekan dan ditindas semasa di Madinah, Makkah dan juga semasa dalam perjalanan ke Kufah. Ini telah dijangkakan kerana undang-undang agama telah tidak diambil berat dan tidak dipraktikkan. Para elik kerajaan haram Umayyah telah beroleh kuasa sepenuhnya. Yang keduanya Mua'wiyah dan para pembantunya telah menggunakan apa cara sekali untuk menolak ke tepi ajaran Islam dan keluarga Nabi Muhammad S.A.W dan dengan itu akan menghapuskan nama Amirul Mukminin Imam Ali (A.S.) dan keluarganya. Yang paling penting Mua'wiyah mahu mengukuhkan akan jawatan khalifah anaknya yang didapati secara haram dan juga kerana Yazid yang begitu kekurangan prinsip dan ditentang oleh sebahagian besar orang Islam.

Setelah menolak untuk mengangkat sumpah taat setia kepada Yazid, Imam Al Hussein (A.S.) telah meninggalkan bandar suci Madinah ke Makkah bersama dengan kaum keluarga Nabi Muhammad. Semasa di Makkah penduduk Kufah telah menulis kepadanya dan juga telah menghantar wakil berjumpa dengannya.

Hadhrat Seyyed Ash-Shohada (A.S.) dengan kaum keluarganya dan rakan-rakannya telah meninggalkan Makkah menuju ke Kufah mengikut rakan-rakan-nya akan wakil dan juga saudaranya Hadhrat Muslim Ibue Aquel (A.S.). Mereka menuju ke Kufa hingga mereka berhadapan dengan tentera Yazid.

Imam dan rakan-rakannya telah dikepung di sana. Pada 10 Muharam 61 A.H pada hari Ashura yang begitu panas dan di kawasan padang pasir terpencil di Karbala, Imam (A.S.) berhadapan dengan 30 ribu orang tentera Yazid yang bersedia untuk berperang dengan Imam Al-Hussein (A.S.) dan Juga dengan para keturunan Nabi Muhammad S.A.W dan dengan rakan-rakan dan saudara-mara Imam Al- Hussein.

Pada hari Ashura tentera Yazid telah membunuh Imam ketua umat Islam dan perkara yang sama telah dilakukan terhadap abang, anak dan juga saudara maranya dan teman-temannya di Karbala

Atas perintah Yazid, orang Kufah telah membunuh Imam ketua Umat Islam yang disayangi oleh datuknya Nabi Muhammad S.A.W. Nabi Muhammad pemah berkata, "Al-Hussein ialah dari saya dan saya dari Al-Hussein".

Pada hari Ashura itu Imam Ali Ibnu Al-Hussein (A.S.) yang merupakan anak sulung Imam Al-Hussein 23 tahun telah dihinggapi dengan penyakit yang teruk. Dia merenung dalam-dalam akan masa hadapan iaitu perjuangan para pengikut ajaran Islam yang sebenamya dengan khalifah Dinasti Omanyad iaitu pemerintahan secara haram Yazid.

Dia telah melihat di Medan peperangan Karbala bagaimana para pengikut setia ajaran yang setia telah berlawan dengan gagah dan mati Syahid. Seisi rumah Imam Al-Hussein (A.S.) termasuk Imam Ali Zainal Abidin (A.S.) dan juga Hadhrat Zainab, adik lmam',~kanak-kanak dan wanita telah dipenjarakan di Karbala dan kemudian ke Kufah dan terus ke Istana Yazid di Sha'am oleh tenteranya.

Hadhrat Zainab 56 tahun, anak Imam Ali Amirul Mukminin A.S. dan hadhrat Fatimah telah menjaga akan kesemua wanita dan kanak-kanak yang berada di pihak Imam Al-Hussein selama syahidnya dia Imam Hussein. Dia telah menjaga Imam Zainal-Abidin A.S. dan juga kanak-kanak dan wanita yang telah dipenjarakan sebagai tahanan perang.

Tidak kira walaupun di mana kafilah itu berada dan pada setiap peluang, Hadhrat Zainab. Hadhrat Ummu Khalsom, adiknya dan Imam Zainal-Abidin telah memberikan ucapan yang bersemangat dan berani dan mendedahkan akan kebenaran dan tujuan Imam Al-Hussein A.S. Dinasti Umayyah telah secara salah mengumumkan yang para tahanan dan yang mati syahid di Karbala bukan pengikut agama Islam. Tapi Hadhrat Zainab dan adiknya dan Imam Zainal Abidin A.S. telah menerangkan pada oang ramai keadaan sebenamya telah membuatkan propaganda pihak kerajaan tidak berkesan. Mereka memberitahu kepada umum yang penjenayah Yazid dan ahli-ahli dinasti Umayyah membuat dosa, zaiim dan merupakan pengikut kepada Syaitan yang telah membunuh ahli keluarga Nabi Muhammad S.A.W dan juga Imam Al-Hussein, rakan-rakan dan ahli keluarganya di Karbala.

Keluarrga Nabi Muhammad S.A.W bila mereka telah menjadi tahanan dalam perjalanan ke Syam berikhtiar untuk mengingati para Syahid dalam usaha untuk menunjukkan akan kebenaran dan agar perjuangan Imam Al-Hussein terus berjalan.

Pada mulanya Imam Zainal-Abidin berhadapan dengan berbagai masalah dan kesusahan. Walau bagaimana pun Imam Zainal beijaya memenuhi akan tujuannya. Berdepan dengan Yazid, Imam Zainal telah memulakan akan misi dan tujuannya dengan memberikan ucapan yang mendedahkan akan jenayah Yazid dan rasuah kerajaannya, se-masa di tahanan dan sedang sakit teruk.

Anak perempuan Amirul Mu'minin a.s. Hadhrat Zainab juga telah memberikan ucapan yang berani dan bersemangat di kota Kufah dan Syam dan juga di Istana Yazid.

Dalam usaha untuk menghentikan akan ucapan-ucapan yang memburukkan dan merosakkan diri dan kerajaannya oleh kaum keluarga Nabi Muhammad S.A.W, Yazid yang kejam telah memerintahkan supaya para tahanan dibawa ke Madinah.

Di Madinah, Hadhrat Zainab dan yang lain-lain meneruskan akan aktiviti-aktiviti Islamnya, Gabenor itu takut dan telah menulis surat kepada Yazid mengenai akan ketakutannya akan pemberontakan dan akan berlaku kekacauan

Dalam tindakbalasnya Yazid menulis, "Kalau dia dari Madinah dan biar dia berpindah ke mana sahaja dia mahu". Gabenor itu telah bercakap dengan hadhrat Zainab tetapi dia menolak akan tawarannya dan berkata "Allah Maha Besar tahu apa yang Yazid lakukan terhadap kami. Dia telah membunuh kaum lelaki kami dan menghalang air yang mana tidakk ada orang akan menghalang walaupun pada binatang sekalipun dan membawa kami dari bandar ke bandar macam hamba. Saya bersumpah kepada Allah, jika mereka membakar kami, saya tidak akan meninggalkan makam datuk saya Nabi Muhammad S.A.W.

Hadhrat Zainab telah memainkan peranannya dengan begitu baik sekali. Ceramah yang di lakukan dalam menge-cam akan penindasan oleh kerajaan Yazid tidak boleh dilupakan dan dia telah menjadi simbol kepada umat Islam lebih daripada 14 abad kerana pekerjaan suci yang telah dia lakukan dalam menegakkan keadilan dan Islam.

Seperti apa yang telah kita lihat pemberontakan oleh Imam Al-Hussein mempunyai 2 aspek. Pertama, perjuangan jihad melawan musuh Allah. Kedua, untuk memberitahu sebab-sebab pemberontakan kepada rakyat jelata dan telah dijadikan satu sumber inspirasi untuk memberontak melawan kuasa yang zaiim selama sudah 14 abad.

Di antara keputusannya ialah pemberontakan bersama-sama dengan peperangan yang telah berterusan selama 12 tahun. Di antara yang bertanggung-jawab akan kematian Imam dan 72 orang temannya, tidak seorang pun yang lepas daripada pembalasan dan hukuman.

Sekarang, ianya telah menjadi begitu penting untuk menyebut dan berkabung atas Imam Al-Hussein dan 72 orang pembantunya. Berkaitan dengan ini arwah Imam Khomeini telah menyebut:

"Berkabung untuk Imam a.s. terutamanya yang tertindas
dan Syahid Hadhrat Abi-Abdullah Al-Hussein a.s. tidak boleh diabaikan."

Dan ia sepatutnya diberitahu segala ajaran Imam adalah untuk kenangan dan sejarah Islam. Sumpahan kepada yang menzalimi Ahlul-Bayt iaitu keluarga Nabi Muhammad S.A.W merupakan tangisan keberanian oleh negara itu kepada yang menzalimi.

Dan anda semua tahu yang segala sumpahan dan segala pengecaman terhadap Bani Umayyah maka biar sumpahan Allah terhadap mereka. Mereka telah dimusnahkan dan telah masuk ke dalam neraka."

Imam Zainal-Abidin pernah berkata," Tiap hari, Ashura, kesemua tanah Karbala, tiap bulan Muharram." Ianya diketahui dan difahami yang revolusi Islam menentang kafir dan syirik, kebenaran mengatasi kesalahan, dan tertindas terhadap penindas dan penzalim mesti diteruskan di mana-mana jua dan tiap bulan. Dan dalam menyimpan kenangan Hadhrat Imam Al-Hussein a.s. dan berkabung untuk dia dan para Syahid Islam yang lain yang telah memainkan peranan penting dalam menampakkan Islam. Kami harap agar ajaran Imam (A.S.) akan sentiasa menjadi panduan para Muslimin dan yang tertindas di seluruh dunia dan membantu mereka untuk menghalau penindas dan para penzalim." Insya-Allah.

 

 

Mengenang Asyura

Setelah kesyahidan Imam Ali AS, umat Islam telah membai'ah Imam Hasan AS sebagai khalifah. Namun berita perlantikan Imam Hasan AS tidak disenangi oleh Muawiyah. Beliau menulis surat-surat protes kepada Imam Hasan dan menolak Imam Hasan AS sebagai khalifah. Muawiyah segera mengumpulkan pasukan tentara yang besar untuk menentang Imam Hasan AS. Lalu bersiap sedia untuk menyerang Iraq.

          Setelah berita ini sampai kepada Imam Hasan AS, beliau AS mengirimkan pasukan tentara di bawah pimpinan Qays bin Sa'ad dan Ubaydillah bin Abbas sebanyak 12,000 untuk mengawasi musuh sampai Imam Hasan menyusul kemudian. Keterlambatan Imam Hasan AS berangkat itu disebabkan sikap keberatan orang Kufah untuk pergi bersamanya menentang Muawiyah. Ketika Imam Hasan AS mengajak orang-orang Kufah untuk berangkat bersamanya untuk menghadapi Muawiyah, mereka agak keberatan untuk pergi berjuang bersama Imam Hasan AS. Adi bin Hatim seorang sahabat Rasulullah SAW kemudian menyampaikan kepada orang-orang Iraq desakan untuk menjawab seruan "Imam mereka anak dari putri Rasul mereka", barulah mereka keluar menuju medan peperangan.

          Imam Hasan AS kemudian meninggalkan Kufah dengan tentaranya dan menuju al-Mada'in. Ketika itu pasukan tentara di bawah pimpinan Qays telah sampai di Maskin berhadapan dengan tentara Muawiyah. Gubenur Syria mencoba menyogok Qays dengan menawarkan wang satu juta dirham jika ia membelot dari barisan Hasan dan bergabung dengannya. Qays menolak tawaran itu. Muawiyah membuat tawaran yang sama kepada Ubaydillah bin Abbas yang segera menerimanya. Beliau bergabung dengan barisan Muawiyah bersama 8,000 orang tentaranya.

         Ketika Imam Hasan AS sampai di Sabat dalam perjalanan ke Mada'in, ia melihat beberapa orang dari pasukannya menunjukkan sikap tidak bersungguh-sungguh, acuh tidak acuh atau enggan berperang. Imam Hasan AS berhenti di Sabat, mendirikan kemah dan berkhutbah:"Wahai saudara-saudaraku, aku tidak memiliki dendam apa pun terhadap sesama Muslim. Aku tidak lebih dari seorang pengawas atas diri kalian dan diriku sendiri. Kini, aku mempertimbangkan sebuah rencana; janganlah kalian menentangku dalam hal ini. Berdamai tidak disukai oleh sebagian kalian, lebih baik daripada
perpecahan yang lebih disukai dari kalian, lebih-lebih lagi ketika aku melihat kebanyakan dari kalian surut dari perang dan ragu untuk berperang. Kerana itu aku berfikir adalah, tidak bijaksana memaksakan kepada kalian sesuatu yang tidak kalian sukai."

          Khutbahnya itu telah menyebabkan Imam Hasan AS ditikam oleh seorang Khawarij yang bernama  al-Jarrah bin Sinan al-Asadi yang mendakwa Imam Hasan telah menjadi kafir seperti ayahnya. Imam Hasan AS luka di pahanya dan berita ini telah diekploitasi oleh Muawiyah untuk memecahbelah tentara Imam Hasan di Maskin. Qays kemudian mengerahkan pasukan tentaranya bertempur dengan tentera Muawiyah. Sejumlah besar pasukan tentara Qays mulai membelot kepada Muawiyah. Qays menulis surat kepada Imam Hasan AS dan setelah berita itu sampai ke tangan Imam Hasan AS, beliau segera memanggil para pemimpin Iraq dan berbicara dengan mereka dengan rasa kesal:

"Wahai rakyat Iraq, apa yang akan aku lakukan dengan orang-orangmu yang bersamaku ini? Ada surat dari Qays yang mengabarkan kepadaku bahawa bahkan orang-orang mulia dari kalangan kalian telah menyeberang ke pihak Muawiyah. Demi Allah betapa mengejutkan dan buruknya kelakuan pihak kalian! Kalianlah orang yang memaksa ayahku untuk menerima Tahkim di Siffin dan ketika tahkim yang menyebabkannya tunduk (kerana tuntutan kalian), kalian berbalik menentangnya. Dan ketika ia mengajak kalian untuk memerangi Muawiyah sekali lagi, kalian memperlihatkan kekenduran dan kelesuan. Setelah ayahku wafat, kalian sendiri datang kepadaku dan membai'atku dengan hasrat dan keinginan kalian sendiri. Aku terima bai'at kalian dan keluar menghadapi Muawiyah. Hanya Allah yang tahu betapa aku bersungguh-sungguh untuk melakukannya. Kini kalian berperilaku seperti dulu lagi (seperti dengan ayahku). Wahai kaum Iraq, cukuplah bagiku jika kalian tidak memfitnah aku dalam agamaku, kerana sekarang aku akan menyerahkan urusan ini (khalifah) kepada Muawiyah."

          Setelah itu Imam Hasan AS mengutus Abdullah bin Naufal bin al-Harits menemui Muawiyah tentang hasratnya untuk mengundurkan diri dan membincangkan syarat-syarat pengunduran tersebut. Qays bersama tentaranya kemudian meninggalkan medan pertempuran dan menuju ke Kufah serta bergabung dengan pasukan Imam Hasan AS. Abdullah bin Naufal menuliskan syarat-syarat yang ia pikirkan dan Muawiyah menerima syarat-syarat tersebut dan memberikan kertas kosong kepada Abdullah untuk dibawa kepada Imam Hasan supaya beliau boleh menambah apa sahaja yang ia inginkan namun Imam Hasan AS kemudian menetapkan syarat-syaratnya seperti berikut:


"Ini adalah syarat yang atasnya Hasan bin Ali bin Abi Talib berdamai dengan Muawiyah bin Abi Sufian dan menyerahkan kepadanya negaranya atau pemerintahan Ali Amirul Mukminin:


1. Bahwa Muawiyah harus memerintah menurut Kitab Allah, Sunnah Rasul dan perangai Khulafa' al-Rasyidin. Muawiyah tidak akan menunjuk atau mengangkat seorang untuk jabatan khalifah sesudahnya;


2. Bahwa khalifah akan dikembalikan kepada Hasan setelah Muawiyah mati namun jika apa-apa berlaku kepada Hasan, maka Husain akan mengambil alih jabatan khalifah.


3. Bahwa Muawiyah tidak menuntut tindakbalas apa pun atas penduduk Madinah, Hijaz, dan Iraq di atas sikap mereka pada masa kekhalifahan Imam Ali AS.


4. Bahwa gubernur-gubernurnya tidak akan melaknat Amirul Mukminin di atas mimbar atau mencacinya dengan perkataan buruk atau melaknatnya dalam qunut sholat.


5. Bahwa rakyat akan dibiarkan dalam aman damai di mana juga mereka berada di bumi Allah.


6. Muawiyah tidak berhak ke atas urusan Baitul Mal di Kufah. Hasan saja yang berhak atas urusannya.


7. Bahwa tidak ada gangguan atau bahaya, secara rahasia atau terbuka, akan ditimpakan terhadap Hasan bin Ali dan saudaranya Husain atau para pengikut dan penyokong mereka atau wanita-wanita mereka.

          Walau bagaimanapun Muawiyah mempunyai tujuannya sendiri. Beliau kemudian menghasut Jud'ah al-Asy'ats meracun Imam Hasan AS. Peristiwa itu terjadi pada 28 Safar tahun tahun 50 Hijrah. Kemudian dia melantik Yazid sebagai khalifah selepasnya. Pada tahun 50 Hijrah Muawiyah mengarahkan penduduk Syria memberikan bai'ah kepada Yazid sebagai Putera Mahkota. Pada tahun 51 Hijrah Muawiyah pergi Haji ke Makkah untuk mendapatkan bai'ah umat Islam kepada Yazid. Di Madinah Muawiyah memaksa penduduk Madinah memberi bai'ah kepada Putera Mahkota Yazid. Namun terdapat empat tokoh yang tidak memberikan bai'ah kepada Yazid yaitu Husain bin Ali, Abdullah bin Umar Abdur Rahman bin Abi Bakar dan Abdullah bin Zubair.

    Muawiyah sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir telah berpesan kepada Yazid:"Wahai anakku aku telah mengatur segalanya untukmu, dan aku telah membuat semua orang Arab sepakat untuk patuh kepadamu. Tidak ada seorangpun kini yang menentang engkau dalam hak khalifahmu tetapi aku sangat cemas akan Husain bin Ali, Abdullah bin Umar Abdur Rahman bin Abi Bakar dan Abdullah bin Zubair. Di antara mereka, Husain bin Ali mempunyai daya tarik cinta dan penghormatan besar kerana hak-hak keutamaannya dan hubungan dekatnya dengan Rasul. Aku kira rakyat Iraq tidak akan meninggalkannya sampai mereka bangkit memberontak menentangmu...."
 

    Muawiyah meninggal dunia pada tahun 60 Hijrah. Yazid memerintahkan gubernur Madinah untuk memaksakan bai'ah kepada Imam Husain AS atau mengirimkan kepalanya ke Damsyik sekira dia enggan memberikan bai'ahnya.

    Setelah gubernur Madinah memberitahu Imam Husain AS tentang permintaan itu, Imam meminta penundaan waktu untuk memikirkan masalah ini, dan pada waktu malam ia berangkat dengan keluarganya ke Mekah. Dia mencari perlindungan dalam Masjidil Haram. Peristiwa ini terjadi menjelang akhir bulan Rajab dan awal bulan Sya'ban tahun 60 Hijrah. Selama hampir 4 bulan Imam Husain tinggal di Mekah. Berita ini kemudian tersebar luas di seluruh wilayah Islam ketika itu. Di satu pihak ramai orang yang tidak puas hati ketidakadilan peraturan Muawiyah dan bahkan lebih tidak puas hati ketika Yazid menjadi khalifah, menghubungi Imam Husain AS menyatakan simpati kepadanya. Di pihak lain banyak surat mulai diterima oleh Imam Husain AS khususnya dari penduduk kota Kufah, yang mengundang Imam Husain AS ke Iraq dan menerima kepimpinannya dari rakyat di sana dengan tujuan untuk memulai suatu pergerakan untuk mengatasi kezaliman yang berlaku terhadap Imam Husain AS ketika itu. Imam mengetahui bahawa beberapa orang pengikut Yazid telah menyusupi masuk dalam rombongan jemaah haji dengan senjata dalam pakaian ihram dengan tujuan untuk membunuh beliau AS.

    Imam Husain terus tinggal di Mekah hingga musim Haji ketika umat Islam dari seluruh dunia datang membanjiri Mekah untuk melaksanakan ibadat Haji. Imam mempersingkat ibadah hajinya dan memutuskan untuk pergi. Di tengah-tengah kerumunan orang ramai itu dia AS berdiri dan dalam pidato yang singkat itu dia juga menjelaskan bahawa dia akan dibunuh dan meminta kaum Muslimin membantunya untuk mencapai tujuannya dan menyerahkan hidup mereka di jalan Allah. Keesokan harinya dia berangkat dengan keluarganya dan beberapa orang sahabatnya ke Iraq.

    Imam Husain bertekad untuk tidak memberikan bai'ah kepada Yazid dan sepenuhnya mengerti bahawa dia akan dibunuh. Dia AS sadar bahawa kematiannya tidak dapat dielakkan di hadapan kekuatan tentara Bani Umaiyyah. Beberapa orang tokoh Mekah mencoba menghalangi Imam AS dan mengingatkannya akan bahaya yang akan menimpanya akibat langkah yang diambilnya itu. Imam Husain AS menjawab bahwa dia menolak bai'ah kepada penguasa yang zalim. Dia menambahkan bahawa dia menyedari bahawa ke mana pun dia pergi dia akan dibunuh. Dia akan meninggalkan Mekah demi menjaga kehormatan Baitullah dan tidak menghendaki kehormatan ini dinodai dengan cucuran darahnya di sana.

    Ketika dalam perjalanan ke Kufah, dia menerima berita bahwa agen Yazid di Kufah telah membunuh wakil dan utusan  Imam Husain AS di kota itu yatu Hani bin Urwah, Muslim bin Aqil, dan Abdullah bin Yaqtar. Kota Kufah dan sekitarnya telah dikawal dengan ketat dan sejumlah tentara yang besar sedang menanti ketibaannya. Maka tidak ada jalan baginya kecuali terus maju dan menghadapi kesyahidannya.

    Sesampainya di Karbala, Imam Husain AS dan rombongannya telah dikepung oleh tentara Yazid. Selama delapan hari mereka tinggal di tempat ini dan selama itu pula kepungan semakin menghimpit dengan jumlah tentara musuh semakin bertambah besar. Akhirnya Imam Husain AS bersama keluarganya dan sejumlah kecil sahabat-sahabatnya dikepung oleh pasukan musuh sebanyak 30,000 orang. Selama berhari-hari Imam Husain AS mempertahankan kedudukannya. Di malam hari dia memanggil sahabat-sahabatnya dan dalam satu pidato yang singkat menyatakan bahawa tidak ada jalan lain di hadapan mereka kecuali kematian dan kesyahidan. Ditambahkan bahwa karena musuh hanya berurusan dengannya. dia akan membebaskan mereka dari semua kewajiban sehingga setiap orang yang mau, boleh melepaskan diri dalam kegelapan malam dan menyelamatkan diri masing-masing. Kemudian dia memerintahkan untuk memadamkan lampu, dan kebanyakan sahabatnya, yang telah menggabungkan diri dengannya demi kepentingan peribadi telah keluar meninggalkan kelompok tersebut. Yang tinggal hanyalah beberapa orang dari mereka yang mencintai kebenaran kira-kira empat puluh orang dan beberapa orang dari Bani Hasyim.

    Sekali lagi Imam mengumpulkan sahabat-sahabatnya dan keluarga Bani Hasyim, dengan sekali lagi mengatakan bahwa musuh hanya mau berurusan dengannya. Namun setiap dari mereka menjawab dengan cara masing-masing menunjukkan kesetiaan mereka kepada Imam Husain AS - bahwa mereka tidak sedetikpun akan menyimpang dari jalan kebenaran yang dipimpin oleh Imam dan tidak akan membiarkannya sendirian. Mereka berkata bahwa mereka akan membela keluarganya selama mereka dapat mengangkat pedang sampai titik darah yang terakhir.

    Pada hari kesembilan dari bulan itu tentangan terakhir untuk memilih antara bai'ah atau perang dilakukan oleh musuh Islam. Imam minta penundaan untuk melakukan sholat malam dan memutuskan melakukan pertempuran di hari berikutnya.

    Pada hari kesepuluh bulan Muharram tahun 61 Hijrah, Imam berbaris di depan musuh dengan sekelompok kecil pengikutnya tidak lebih dari sembilan puluh orang yang terdiri dari 40 orang sahabatnya, 30 orang anggota tentara yang bergabung kepadanya, dan keluarganya dari Bani Hasyim yang terdiri dari anak-anak, saudara, anak saudaranya lelaki dan wanita dan sepupunya. Hari itu mereka bertempur dari pagi hingga hembusan nafas mereka yang terakhir, Imam keluarga Hasyim yang muda, dan sahabat-sahabatnya semuanya syahid. Di antara yang terbunuh terdapat dua orang anak Imam Hasan, yang baru berusia tiga belas tahun dan sebelas tahun, serta anak berumur lima tahun dan seorang bayi Imam Husain yaitu 'Ali Asghar. Imam Husain AS menggendong bayi itu untuk mendapatkan air sambil berkata kepada pihak musuh:

"Hai orang-orang! Kalian telah membunuh saudaraku, anak-anak, anak-saudaraku dan para pengikutku. Kini semuanya telah tiada kecuali anak kecil ini yang tersisa. Berilah anak ini sedikit minum agar....."

    Ucapan Imam Husain AS ini belum lagi selesai tetapi telah dipotong oleh anak panah yang menembus kepala bayi itu. Imam Husain AS tersentak dengan tindakan musuh itu, sementara darah memancut keluar dari bayi itu membasahi bibirnya yang sejak tiga hari lalu kering kehausan. Al-Husain AS mengangkat tangannya ke atas seraya berdoa:

"Ya Allah, saksikanlah bahwa mereka bertekad untuk menlenyapkan seluruh keluarga NabiMu."

    Imam Husain AS menatang bayi itu menuju ke kemah Zainab. Umm Kulthum berlari mendapatkan bayi itu dan mendekapnya yang sudah tidak bernyawa lagi.

    Imam Husain  AS memancu kudanya menuju ke medan pertempuran seraya berteriak:

"Apa yang membuat kalian bersemangat memerangiku? Adakah sebuah kewajiban yang aku tinggalkan? Atau Sunnah Nabi yang aku ubah?

"Tidak, karana dendam dan kebencian di hati kami padamu dan seluruh keluargamu sejak Badr dan Hunain!"

    Balas mereka dengan lantang.

    Al-Husain AS menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada seorangpun di sekitarnya.

    "Kemana semuanya yang telah membantu kami! Siapa yang akan melindungi wanita-wanita Muhammad dari niat jahat mereka! Mana Muslim bin Aqil, Hani bin Urwah, Zuhair, Habib, al-Hurr dan sahabat-sahabatnya? Mana bukti kecintaan kalian? Kini kami datang untuk menyusuli pemergian  kalian semua! Inna Lillah wa Inna Ilahi raji'un.

    Imam Husain AS memuji sahabat-sahabatnya dalam sebuah puisi yang indah:

"Mereka adalah kelompok para pemberani
membela kami dengan senjata dan nurani
Mereka adalah manusia-manusia ahli tempur
bergelut dalam dahaga, kenyang dan lumpur
Selamat meneguk air keabadian syurgawi
merasakan hangat cinta dan darah alawi
"

    Ia ke pasukan musuh dan berhasil membunuh 1,500 orang. Kemudian ia kembali ke kemahnya sambil bersyair:

"Mereka orang-orang suruhan
mendukung para munafiq kafir
menjilat bangkai
mendengus-dengus bak keldai
menjajakan fitnah dan dusta
menjual agama tak kenal cinta
membunuh kekasih demi harta
tuli, bisu, mati rasa dan buta
Siapakah mereka dan siapa aku?
Muhammad adalah datuk abadiku
Akulah putera Ali sang Khalifah
yang dibunuh orang-orang Kufah
Kami anak-anak Ali sang syurga
"

    Sekali lagi Imam Husain AS  ke arah tentara musuh dan mengibaskan pedangnya dan berhasil mengorbankan sejumlah mereka. Syimr lalu menghampiri Umar bin Sa'ad dan keduanya merancang untuk menyerbu Imam Husain AS secara serentak yaitu dengan pasukan pemanah, pasukan pedang dan pasukan tentera api dan batu.

    Imam Husain AS kemudian diserang oleh puluhan tombak, panah, batu dan api. Al-Husain AS tidak mampu lagi menghindarinya. Luka di tubuhnya kian bertambah. Namun al-Husain AS tetap melakukan tantangan dengan tenaganya yang masih ada. Khuli bin Yazid melepaskan anak panahnya mengenai dada Imam Husain AS. Imam Husain AS terhuyung-hayang dan kemudian terjatuh dari kudanya.

    Imam Husain AS berusaha menahan luka-luka yang mengenainya sambil berusaha bangkit tetapi si laknat Abu Qudamah al-Amiri melepaskan anak panahnya lalu mengenai dada kanannya. Al-Husain AS terjatuh dan cuba bangkit lagi. Ia mengerang kesakitan di kelilingi lingkaran pasukan berkuda Umar bin Sa'ad la'natullah alaihi.

    Al-Husain AS mencabut panah yang masih menacap di dada kanannya sekuat tenaga seraya mengigit bibirnya menahan kesakitan. Darah mnyembur keluar dari luka di dadanya. Imam Husain AS mengusap darah di permukaan janggutnya seraya berkata: "Demikianlah kalian mengucapkan terima kasih kalian kepada datukku! Dengan tubuh dan wajah yang berdarah inilah aku akan mengadap datukku, agar beliau tahu betapa kalian sangat membenci kebenaran dan agamanya."

    Kemudian Imam Husain AS pengsan seketika. Syabts bin Rabi'i bergegas menuju kepada Imam Husain AS untuk berbuat sesuatu namun ia berhenti dan kembali ke barisannya. Sinan bin Anas mengejek:"Hai mengapa engkau ini menjadi penakut? Mengapa engkau membatalkan niat untuk membunuh al-Husain?"

    "Hai keparat! Tahukan engkau ia tiba-tiba membuka matanya dan seketika aku lihat wajah Muhammad datuknya", bantah Syabts.

    Kemudian Sinan pula cuba membunuh Imam Husain AS tetapi mundur juga seperti Syabts. Lalu Syimr mendekati Imam Husain AS dan duduk di atas dada Imam Husain AS.

    "Siapakah engkau? Apa yang membuatkan engkau biadab?" Tanya Imam Husain AS dengan suara terputus. "Aku Syimr al-Dhibabi," Jawabnya singkat sambil menghunuskan pedangnya." Tahukah engkau siapa orang yang sedang kau duduki? Tanya Imam Husain AS."Ya. Aku tahu kau adalah al-Husain putra Ali dan Fatimah binti Muhammad binti Khadijah," Jawabnya."Lalu mengapa kau masih berniat membunuhku?", bantah al-Husain AS yang mulai merasakan sesak di dadanya."Aku mengharapkan balasan dari Yazid," Sahutnya."Tidakkah mengharapkan syafa'at dari datukku Rasulullah?"Tanya al-Husain kemudian."Hai! Sedikit imbuhan dari Yazid lebih aku sukai daripada ayahmu, datuk dan nenek-moyangmu," balas Syimr sombong."Kalau memang begitu kau harus membunuhku, maka berilah sedikit air minum terlebih dahulu!" Pinta al-Husain AS.

    Namun Syimr enggan menuruti permintaan al-Husain AS itu. Imam Husain AS meminta Syimr membuka penutup wajahnya. Syimr membuka penutup wajahnya."Benar ucapan datukku,"Ujar Imam Husain AS."Apa ucapan datukmu itu?" Tanya Syimr."Datukku pernah memberitahuku bahawa pembunuhku adalah lelaki buruk wajah  penuh bulu tebal di tubuh dan mukanya hingga lebih mirip dengan babi atau anjing hutan daripada manusia," Jawab Imam Husain AS sambil memalingkan wajahnya.

"Terkutuklah kau dan datukmu yang menyamakan aku dengan babi dan anjing. Akan aku sembelih engkau sebagai balasan atau ucapan datukmu itu," Balas Syimr dengan nada benci.

    Syimr lalu bertindak ganas. Ia mulai memotong setiap anggota badan al-Husain perlahan-lahan. Al-Husain AS hanya mampu menjerit parau menahan kesakitan:"Wa Muhammadah! WA Aliyah! Wa Hasanah! Wa Jafarah! Wa Hamzatah! Wa Aqilah! Wa Abbasah! Wa Qatilah!," setiap kali pedih luka dirasakannya.

    Akhirnya Syimr memotong leher Imam Husain AS yang memutuskan kepalanya yang suci dari badannya yang suci itu. Al-Husain AS gugur syahid sebagai Abul-Syuhada pada hari Isnin 10 Muharram tahun 61 Hijrah. Inna Lilla Wa inna Ilahi Raji'un.


Sumber-sumber Rujukan:

1. Imam Husein And The Day of Ashura, al-Balagh Foudation, 1412H.
2. Awal dan Sejarah Islam Syiah, S. Husain M. Jafri, Pustaka Hidayah, 1409H.
3. Al-Husain Darah Yang Mengalahkan Pedang, Muhsin Labib, Yayasan Islam Bagir, Bangil, 1414H.
4. Islam Syiah, Allamah M.H. Thabathabai, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1989.
5. Husayn bin Ali, Cucunda Rasulullah SAW, Fadzlullah Haji Shuib, Pustaka Warisan, Kuala Lumpur, 1989
.

  

Syuhada di Karbala:

A:

Aabis Ibn Abi Shabib Al Shakiry

L:

Layla Bint Abi Morra Al-Thaqafi

 

Abdulla Ibn Abbass

M:

Manee Ibn Ziyad

 

Anees Ibn Ma'qel Al Asbahy

 

Mohammed Ibn Al Ash'ath

 

Aslam, the Turkish slave

 

Mohteshem Al Kashany

 

Atiyya

 

Mohammed Ibn Al Hanifya

Awn Ibn Abdulla Ibn Jaafer

 

(Al) Mokhtar Al Thaqafi

 

Awn Ibn Jaafer Ibn Abi Talib

 

Moslem Ibn Oqbeh

B:

Bishr Ibn Amro Alhadhrami

 

Muhajer Ibn Aws

 

Borayr Ibn Khodhair Alhamadani

N:

Nafi'i Ibn Hilal

D:

(Al) Dhahak Ibn Abdulla Al Mushrefi

O:

Obaid Allah Ibn Ziyad

H:

Habib Ibn Muthaher

 

Omeya Ibn Sa'ad Alta'aey

 

Hafhaf Ibn Mohanned Alrasibi

 

Orwa Ibn Battan Altha'leby

 

Hakeem Ibn Tufail

 

Othman Ibn Ali Ibn Abi Talib

 

Hameed Ibn Muslim Al Azdi

Q:

Qarib (Mawlah of Imam Hussain)

 

Hani Ibn Hani Alsib'eey

 

(Al) Qassim Ibn Al Hassan

 

Harmaleh

R:

(Al) Rabab

 

Hilal Ibn Nafi'i

S:

Sahl Ibn Saad

 

(Al) Hussain Ibn Numair

 

Sarjoon (Sir Jon)

J:

Jaafar Ibn Ali Ibn Abi Talib

 

Shabib Ibn Abdullah

 

Jabir Ibn Abdulla Al Ansari

 

Shareeh Al Qadhi

 

Jon, the black slave

T:

(Al) Tawaboon

 

Jonadah Ibn Ka'ab Alansari

Y:

Yazeed Ibn Mu'aweeya

 

Jondob Ibn Hojair Alkoholani

 

Yazeed Ibn Thabeet AlAbdy

 

Jibleh Ibn Ali Al Sheybani

Z:

Zayd Ibn Al-Arqam

K:

(Al) Komayt Ibn Zayd Al Asadi

 

Zayneb Bint Ali

Aabis Ibn Abi Shabib Al Shakiry

Kalangan orang-orang yang yakin dan berani.  Mereka adalah kalangan Syuhada di karbal dan orang-orang syiah yang palingtaat.  Dia adalah Muslim Ibn Aqeel's utusan Imam Hussain memberitahu bahawa orang-orang kufah sangup berjuang dengan Imam Hussain.  Pada hari asyura tiada seorang pun keluar untuk berperang kerana keberanian sehingga Omar Ibn Sa'ad memekik kepada tenteranya dan berkata : Apa terjadi kepada kalian lemparkan batu kepadannya.



 

AL Ridho * Gombak * Selangor* Malaysia*

al-ridhogombak.jpg