Make your own free website on Tripod.com

Raudah ArRidho

SEJARAH YANG HILANG

Muka Hadapan
Mengenai Kami
Perkumpulan Kami
Hubungi Kami
KEMELUT SESUDAH RASULULLAH
Kehadiran Rasulullah
Ali bin Abi Tholib
Imam Hasan Bin Ali Bin Abi Tholib
Fatimah azzahra a.s.
Imam Husein Asyahid a.s.
Peristiwa Karbala
Imam Ali Zainal Abidin
Imam Muhammad Al-Baqir
Imam Jaafar As-shodiq
Imam Musa Al-Kadzim
Imam Ali Ar-Ridho
Imam Muhammad Ali Al-Jawad
Imam Ali Hadi An-Naqi
Imam Hasan Al-Askari
Imam Mahdi Sohibuz Zaman
Ijtihad 4 Sahabat
Ijtihad Abu Bakar
Ijtihad Umar
Ijtihad Othman
Ijtihad Ali Ibn Abi Tholib
Doa-Doa Dalam Shi'ei
Yuhana Mencari Kebenara

IMAM HASAN BIN ALI BIN ABI THOLIB

 

Imam Hasan Al-Mujtaba as

Nama : Hasan

Gelar : al-Mujtaba

Julukan : Abu Muhammad

Ayah : Ali bin Abi Thalib

Ibu : Fathimah az-Zahra

Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Selasa 15 Ramadhan 2 H.

Hari/Tgl Wafat : Kamis, 7 Shafar Tahun 49 H.

Umur : 47 Tahun

Sebab Kematian : Diracun Istrinya, Ja'dah binti As-Ath

Makam : Baqi' Madinah

Jumlah Anak : 15 orang; 8 laki-laki dan 7 perempuan

Anak Laki-laki : Zaid, Hasan, Umar, Qosim, Abdullah, Abdurrahman, Husein, Thalhah

Anak Perempuan : Ummu al-Hasan, Ummu al-Husein, Fathimah, Ummu Abdullah, Fathimah, Ummu Salamah, Ruqoiyah

 

Riwayat Hidup

 

"..Maka katakanlah (hai Muhammad): mari kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian.. ."(Surah Al-lmran 61)

 

"Sesungguhnya Allah SWT menjadikan keturunan bagi setiap nabi dan dari tulang sulbinya masing-masing, tetapi Allah menjadikan keturunanku dan tulang sulbi Ali bin Abi Thalib". (Kitab Ahlul Bait hal. 273-274)

 

"Semua anak Adam bernasab kepada orang tua lelaki (ayah mereka), kecuali anak-anak Fathimah. Akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka."(Tafsir Al Manar, dalam menafsirkan Surah al-An’am ayat 84)

 

    Satu ayat di atas serta dua hadis di bawahnya menunjukkan bahwa Hasan dan Husein adalah kecintaan Rasul yang nasabnya disambungkan pada dirinya. Hadis yang berbunyi: "Tapi Allah menjadikan keturunanku dari tulang sulbi Ali Bin Abi Thalib", menunjukkan bahwa Rasulullah yang tidak berbicara karena kemauan hawa nafsu kecuali wahyu semata-mata, ingin mengatakan bahwa Hasan dan Husein adalah anaknya beliau s.a.w. Begitu juga hadis kedua, beliau mengungkapkan bahwa anak Fathimah bernasab kepada dirinya s.a.w. Pernyataan tersebut dipertegas oleh ayat yang di atas, dimana Allah sendiri menyebut mereka dengan istitah ‘anak-anaknya’ yakni putra-putra Muhammad Rasululullah s.a.w.

 

    Nabi juga sering bersabda: "Hasan dan Husein adalah anak-anakku". Atas dasar ucapan nabi inilah, Ali bin Abi Thalib berkata kepada anak-anaknya yang lain: "Kalian adalah anak-anakku sedangkan Hasan dan Husein adalah anak-anak Nabi". Karena itulah ketika Rasulullah s.a.w masib hidup mereka berdua memanggil nabi s.a.w "ayah". Sedang kepada Imam Ali a.s. Husein memanggilnya Abu Al Hasan, sedang Hasan memanggil sebagai Abu al-Husein. Ketika Rasulullah s.a.w berpulang kerahmat Allah, barulah mereka berdua memanggil hadrat Ali dengan "ayah".

    Beginilah kedekatan nasab mereka berdua kepada Rasululullah s.a.w. Sejak hari lahirnya hingga berumur tujuh tahun Hasan mendapat kasih sayang serta naungan dan didikan langsung dari Rasululullah s.a.w, sehingga beliau dikenal sebagai seorang yang ramah, cerdas, murah hati, pemberani, serta berpengetahuan luas tentang seluruh kandungan setiap wahyu yang diturunkan saat nabi akan menyingkapnya kepada para sahabatnya.

    Dalam kesalehannya, beliau dikenal sebagai orang yang saleh, bersujud dan sangat khusyuk dalam shalatnya. Ketika berwudhu beliau gemetar dan di saat shalat pipinya basah oleh air mata sedang wajahnya pucat karena takut kepada Allah SWT. Dalam belas dan kasih sayangnya, beliau dikenal sebagai orang yang tidak segan untuk dengan pengemis dan para penghuni kota yang bertanya tentang masalah agama kepadanya.

    Dari sifat-sifat yang mulia inilah beliau tumbuh menjadi seorang dewasa yang tampan, bijaksana dan berwibawa. Setelah kepergian Rasulullah s.a.w beliau langsung berada di bawah naungan dan didikan ayahnya Ali bin Abi Thalib a.s. Hampir tiga puluh tahun, beliau bernaung di bawah didikan ayahnya, hingga akhirnya pada tahun 40 Hijriyah. Ketika ayahnya terbunuh dengan pedang beracun yang dipukulkan Abdurrahman bin Muljam, Hasan mulai menjabat keimamahan yang ditunjuk oleh Allah SWT.

    Selama masa kepemimpinannya, beliau dihadapkan kepada orang yang sangat memusuhinya dan memusuhi ayahnya, Muawiyah bin Abi Sofyan dari bani Umayyah. Muawiyah bin Abi Sofyan yang sangat tamakan kepada kekuasaan selalu menentang dan menyerang Imam Hasan a.s. dengan kekuatan pasukannya. Sementara dengan kelicikannya dia menjanjikan hadiah-hadiah yang menarik bagi jeneral dan pengikut Imam Hasan yang mau menjadi pengikutnya.

    Karena banyaknya pengkhianatan yang dilakukan pengikut Imam Hasan a.s. yang merupakan akibat pujukan Muawiyah, akhirnya Imam Hasan menerima tawaran darinya. Perdamaian bersyarat itu dimaksudkan agar tidak terjadi pertumpahan darah yang lebih banyak di kalangan kaum muslimin. Namun, Muawiyah mengingkari seluruh isi perjanjian itu. Kejahatannya pun semakin merajalela, khususnya kepada keluarga Rasulullah s.a.w dan orang yang mencintai mereka akan selalu ditekan dengan kekerasan dan diperlakukan dengan tidak senonoh.

    Dan pada tahun 50 Hijriah, beliau dikhianati oleh isterinya, Ja'dah putri Ash'ad, yang menaruh racun diminuman Imam Hasan. Menurut sejarah, Muawiyah adalah dalang dari usaha pembunuhan anak kesayangan Rasulullah s.a.w ini.

    Akhirnya manusia agung, pribadi mulia yang sangat dicintai oleh Rasulullah kini telah berpulang ke rahmatullah. Pemakamannya dihadiri oleh Imam Husein a.s. dan para anggota keluarga Bani Hasyim. Karena adanya beberapa pihak yang tidak setuju jika Imam Hasan dikuburkan didekat maqam Rasulullah dan ketidaksetujuannya itu dibuktikan dengan adanya hujan panah ke keranda jenazah Imam Hasan a.s. Akhirnya untuk kesekian kalinya keluarga Rasulullah yang teraniaya terpaksa harus bersabar. Mereka kemudian menglihkan pemakaman Imam Hasan a.s. ke Jannatul Baqi' di Madinah. Pada tanggal 8 Syawal 1344 H (21 April 1926) kemudian, pekuburan Baqi' diratakan dengan tanah oleh pemerintah yang berkuasa di Hijaz.

    Imam Hasan telah tiada, pemakamannya pun digusur namun perjuangan serta pengorbanannya yang diberikan kepada Islam akan tetap terkenang di hati sanubari setiap insan yang mengaku dirinya sebagai pengikut dan pencinta Muhammad s.a.w serta Ahlul Baitnya.

 

Laki-laki Serupa Nabi

Setelah perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib as, Fatimah as, puteri Rasulullah s.a.w, melahirkan anak laki-laki yang mungil, lucu, dan sehat. Putera yang lahir pada pertengahan bulan Ramadhan tahun ketiga Hijrah itu disambut oleh Rasulullah dengan penuh kecintaan. Rasulullah mengangkatnya, menggendong, merangkul, mendekapkan ke dadanya, kemudian membisikkan adzan di telinga sebelah kanan cucunya itu dan iqamat di telinga sebelah kirinya. Setelah itu, Rasulullah berpaling kepada Ali, menantunya, seraya berkata: “Akan engkau beri nama siapa anak ini?”

            “Demi Allah, aku tak akan mendahului Anda ya Rasulullah,”jawab Ali.

            “Aku sendiri tak akan mendahului Tuhanku,”kata Nabi lagi.

            Di dalam sebagian riwayat diceritakan, bahwa tak lama sesudah dialog tersebut, Jibril kemudian datang menyampaikan pesan tentang nama anak itu, yaitu: Hasan.

            Rasulullah s.a.w sangat mencintai cucunya ini. Di antara sabda beliau sehubungan dengan Al Hasan as adalah:

*”Barangsiapa ingin melihat pemuda ahli surga, maka hendaknya ia melihat    Hasan bin Ali.”

*”Hasan adalah dari aku dan aku dari Hasan, Allah mencintai orang yang mencintainya.”

            Di dalam hadis yang lain disebutkan, bahwa suatu kali orang melihat Rasulullah s.a.w. memanggul Hasan bin Ali. Di antara orang yang melihat peristiwa itu ada yang mengatakan kepada Al Hasan:”Sungguh, ini adalah tunggangan yang paling nikmat, Nak.” Mendengar ucapan orang itu, Rasulullah saww berkata: “Penunggang yang paling menyenangkan adalah anak ini.”

            Atau, pada kali yang lain, ketika sedang bersujud, Rasulullah berasa bahwa Hasan menaiki pundak beliau. Maka Rasulullah pun melambatkan sujudnya sampai cucunya itu turun.

            Beliau juga pernah bersabda:”Engkau menyerupaiku dalam bentuk dan perangai.”

(Benarlah demikian. Bahkan, pada suatu hari Abu Bakar ash-Shiddiq menggendong Al Hasan sambil berkata: “Engkau lebih menyerupai Nabi daripada Ali.”)

            Sedangkan terhadap Al Hasan as dan saudaranya Al Husain as, Rasulullah s.a.w bersabda:

            “Keduanya (Hasan dan Husain) adalah kembang mekarku di dunia.”

            “Keduanya ini adalah anakku dan anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan, aku mencintai keduanya dan aku cinta kepada siapa yang mencintai keduanya.”

            Sabda-sabda tersebut di atas cukup menunjukkan kemuliaan Al Hasan.

            Dengan dekatnya hubungan antara Rasulullah s.a.w. dengan cucunya ini, dapatlah dimengerti bahwa dengan sendirinya Al Hasan as sempat mengenyam hidup bersama Rasulullah s.a.w untuk jangka waktu yang cukup lama. Ibu Al Hasan, Fatimah az Zahra, adalah satu-satunya puteri Rasulullah yang paling lama mendampingi hidup ayahandanya. Fatimah hadir di saat ayahandanya menghadap kembali kepada Allah SWT. Sedangkan ayah Al Hasan, Imam Ali, seperti sudah diterangkan, adalah orang yang sangat dekat dengan Nabi dan termasuk sahabat yang paling berilmu.

            Atas dasar kenyataan itulah maka orang tak lagi merasa sangsi terhadap keluasan ilmu Al Hasan as di samping sifat-sifat luhur lain yang mendekat pada peribadinya, antara lain sifat kedermawanannya yang sangat menonjol.

            Tentang ilmunya, diriwayatkan bahwa, suatu hari, Al Hasan as berjumpa dengan seorang Yahudi yang sudah tua. Yahudi tua itu tampak kepayahan. Tubuhnya lemah dan pakaiannya kumal. Siang itu, ia tengah memanggul sekendi air, berjalan di bawah terik matahari yang menyekat. Ketika kepayahan itulah ia berjumpa dengan Al Hasan as yang berpakaian rapih bersih. Yahudi tersebut berhenti. Dipandangi cucu Rasulullah itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Perbuatan tersebut dilakukannya berulan-ulang. Al Hasan as merasa heran karenanya. Namun belum sempat ia menyampaikan sesuatu, orang tua itu lebih dulu berkata, “Wahai cucu Rasulullah. Ada pertanya yang aku ingin engkau menjawabnya!”

            “Tentang apakah itu?’ tanya Al Hasan.

            “Datukmu dulu pernah berkata, bahwa dunia ini adalah penjaranya orang Mukmin dan surganya orang kafir.”

            “Benar demikianlah adanya.”

            “Terus terang, aku melihat yang sebaiknya. Perhatikanlah keadaanku dan keadaanmu. Aku melihat dunia ini adalah sebagai surga bagimu yang mukmin, dan neraka bagiku yang kafir.”

            “Dari mana engkau menarik kesimpulan tersebut?”

            “Lihatlah. Engkau hidup dalam keadaan senang laksana di surga, sedangkan aku? Hidupku sangat sengsara, tak ubahnya dengan hidup di neraka.”

            “Engkau keliru, hai Yahudi. Sesungguhnya, apabila dibandingkan dengan apa yang akan diberikan Allah kepadaku di surga nanti, maka kesenanganku di dunia ini tak ada artinya, sehingga dunia ini ibarat neraka bagiku. Sebaliknya, apabila engkau tahu apa yang akan engkau terima di akhirat nanti, maka engkau akan tahu, bahwa hidupmu yang sekarang ini jauh lebih baik, sehingga di dunia ini engkau seakan berada di surga. Itulah makna ucapan kekeku Rasulullah s.a.w.”

            Mendengar jawaban Al Hasan as yang sangat mengena itu, si Yahudi tertegun. Mulutnya terkunci, tak berkata apa-apa lagi.

            Di samping keluasan ilmunya, Al Hasan as dikenal juga sebagai orang yang sangat dermawan. Pernah, pada suatu hari, Al Hasan as melihat seseorang sedang berdoa. Orang tersebut mengadukan kesulitan hidupnya kepada Allah SWT. Mengetahui keadaan orang itu dan mendengar doanya, dengan serta merta Al Hasan as memberinya uang dalam jumlah yang cukup besar, sehingga orang itu merasa sangat kegirangan.

            Atau pada hari yang lain, yaitu di tengah perjalanannya untuk menunaikan ibadah haji bersama adiknya, Al Husain, dan Ja’far bin Abdullah r.a., sekali lagi kedermawanan Al Hasan terungkap. Alkisah, dalam perjalanannya menuju Mekkah, ketiga orang ini kehabisan bekal. Tak ada lagi sisa makanan dan minuman yang dapat mereka gunakan untuk meneruskan perjalanan yang masih cukup jauh. Mereka sangat memerlukan tambahan bekal. Namun bagaimana?

            Di samping pasir yang tandus itu, di tengah kebingungan mereka, tiba-tiba tampak sebuah rumah. Mereka bertiga kemudin mendatangi rumah tersebut.

            “Assalamu’alaikum,” kata mereka hampir serempak.

            “Wa’alaikum salam,” terdengar seseorang menjawab dari dalam rumah. Orang itu kemudian keluar, yang ternyata adalah seorang wanita tua.

            “Dari manakah kalian?” tanya wanita itu.

            “Kami dari Madinah!” Al Hasan menjawab.

            “Siapakah kalian?”

            “Kami adalah dari Quraisy. Saya adalah Hasan bin Ali, ini adikku Husain, dan itu Ja’far dari kelurgaku juga.”

            “Hendak ke mana kiranya Tuan-Tuan?”

            “Kami hendak ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji.”

            “Adakah sesuatu yang dapat aku bantu untuk kalian?”

            “Terus terang, kami kehabisan bekal. Apakah ibu mempunyai air yang dapat kami bawa?”

            “Astaga..! Ada, ada…silahkan kalian bawa ini!” kata ibu itu sambil menyerahkan tempat airnya.

            “Masihkah kalian mempunyai makanan?”

 Tanya ibu itu lagi.

            “Tidak. Adakah ibu mempunyai makanan?

Kami bermaksud membelinya,” kata Al Hasan.

            “Membeli? Tidak Demi Allah, hanya itu satu-satunya yang aku miliki dan aku bersumpah Tuan-Tuan harus makan itu,” kata ibu tersebut seraya menunjuk satu-satunya domba yang ia miliki.

            Domba itu kemudian dipotong, sebagian dimasak untuk dimakan Al Hasan, Al Husain, dan Ja’far. Sedangkan yang sebagian lagi di bawakan si ibu sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan. Ibu tua itu tak mau menerima hadiah apa-apa dari ketiga orang tamunya.

            “Demi Allah, aku melakukannya dengan ikhlas,” kata ibu itu lagi.

            “Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan ibu. Kami berharap, apabila ibu datang ke Madinah, sudilah kiranya ibu singgah ke rumah kami. Kami akan senang sekali!” kata Al Hasan mewakili yang lain.

            “Insya Allah.”

            “Assalamu’alaikum,” kata mereka bertiga.

            “Wa’alaikum salam,” jawab ibu itu sambil memandangi kepergian ketiga tamunya.

            Tak lama setelah kepergian tamunya, suami wanita itu pulan. Ia terkejut melihat domba satu-satunya yang ia miliki tak lagi tertambat di tempatnya. Ia segera menanyakan hal tersebut kepada isterinya.

            “ke manakah gerangan domba kita?”

            “Oh … tadi ada tiga orang yang datang kemari. Mereka kehabisan bekal dalam perjalanan mereka untuk berhaji. Aku tak punya apa-apa selain domba itu. Maka ia kupotong dan sebagian dagingnya aku berikan kepada mereka.”

Begitulah jawab sang isteri.

            “Aduuh… Bagaimana engkau dapat berbuat demikian? Siapakah ketiga orang itu?’

            “Mereka mengatakan berasal dari suku Quraish.”

            “Dari mana kamu tahu? Bagaimana kamu bisa percaya begitu saja terhadap ucapan mereka? Kamu tidak mengenalnya, maka bagimana kamu bisa percaya bahawa mereka dari Quraish?” tanya sang suami tak habis pikir.

            “Tandanya tampak dari wajah-wajah mereka!” jawab isterinya.

            Dialog tersebut tersebut hanya berlangsung sampai di situ. Sang suami pun mengikhlaskan pemberian itu setelah mendengar keterangan isterinya.

            Alkisah, beberapa waktu kemudian, daerah tempat ibu itu tinggal tersarang penjenayah yang sangat dahsyat. Orang-orang daerah tersebut semuanya pergi meninggalkan desa mereka untuk mencari nafkah. Mereka tersebar ke mana-mana. Ada yang ke Makkah, ke Madinah dan juga ke tempat-tempat lain. Nasib ibu tua dan suaminya pun tak berbeda dengan tetangganya yang lain. Sang ibu dan suaminya pergi menuju Madinah. Di kota yang baru ini mereka berjalan mencari nafkah untuk menyambung hidup.

            Di tengah pengembaraannya menyusuri jalan-jalan di Madinah, tanpa sadar, ibu itu melewati rumah Al Hasan as Sang ibu rupanya sudah tak ingat lagi kepada ketiga tamunya yang dahulu. Itulah sebabnya, ia tak berusaha mencari mereka. Secara kebetulan, ketika ibu itu lewat, Al Hasan sedang duduk di depan rumahnya. Al Hasan melihat mereka, dan mengejar sepasang suami-isteri itu, kemudian menegurnya.

            “Ingkatkah ibu kepada saya?” tanyanya.

            “Demi Allah, aku tidak ingat siapa engkau,” jawab ibu itu.

            “Ingkatkah ibu kepada tiga orang tamu yang kehabisan bekal di tengah perjalanan mereka untuk berhaji?”

            “Tidak!”

            “Baiklah, apabila ibu tak ingat kepada saya, maka saya masih dapat mengenali ibu. Saya adalah Hasan bin Ali, orang yang perarnah ibu beri makanan dan minuman untuk bekal saya dan dua orang saudara yang lain menuju Mekkah. Mari, silahkan ibu ke rumah saya!” kata Al Hasan as seraya mengiringi keduanya menuju kediamannya.

            Di rumah Al Hasan itulah keduanya menceritkan keadaan yang menimpa desa mereka. Al Hasan menyambut keduanya dengan sambutan yang sangat baik. Dijamu kedua tamunya itu dengan penuh hormat. Sebelum pulang, Al Hasan as memberi keduanya uang seribu dinar dan beberapa ekor kambing. Kemudian Al Hasan memanggil pembantunya dan berkata: “Antarkan kedua tamuku ini ke rumah saudaraku, Husain, dan ke rumah Ja’far!”

            “Baik Tuan!” kata kadamnya.

            Mereka bertiga kini dalam perjalanan menuju rumah Husain bin Ali as

            “Assalamu’alaikum,” kata kadam Al Hasan.

            “Wa alaikum salam,” terdengar jawaban dari dalam rumah.

            Tak lama setelah itu, Al Husain membukakan pintu. Ia mengenal kadam Al Hasan.

            “Aku disuruh mengantarkan kedua tamu ini kemari,” kata teman itu. Al Husain melihat tamunya. Ternyata ia pun masih mengenal ibu tersebut. Al Husain segera menyambutnya dengan penuh hormat. “Mari, silakan masuk! Alhamdulillah, akhirnya Allah mempertemukan kita kembali.”

            “Allah Mahabesar!” jawab si ibu.

            Setelah berbincang-bincang, sebelum minta diri, Al Husain memberi ibu tersebut seribu dinar uang dan beberapa ekor domba.

            “Sungguh Anda sangat mulia,” kata si ibu. “Semoga Allah yang membalas semua kebaikan ini,” tambah suaminya.” Assalamu’alaikum.”

            “Wa’alaikumsalam!” jawab Al Husain.

            Mereka berdua mohon diri, dan bersama kadam Al Hasan pergi ke rumah Ja’far.

            Tak beza dengan Al Hasan dan Al Husain, Ja’far bin Abdullah pun menyambut kedua tamunya itu dengan baik. Ternyata, ia pun masih mengenal si ibu tua.

            “Astaga… bagaimana kabar kalian!” tanya Ja’far setelah membalas salam keduanya.

            “Alhamdulillah, Allah masih melindungi kami,” kata si suami. “Dan Mahabesar Allah yang telah mempertemukan kita kembali,” kata si isteri.

            Setelah  lama mereka berbincang-bincang, Ja’far memerintahkan kadamnya menyiapkan beberapa ekor domba, sedangkan ia sendiri masuk mengambil uang. Ia pun memberi ibu tersebut uang seribu Dinar dan beberapa ekor Domba. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ja’far dan bersyukur kepada Allah SWT, mereka pun memohon pulang.

            Suami isteri itu kemudian kembali ke desanya dengan bekal tiga ribu dinar uang dan beberapa ekor domba. Mereka menjadi orang yang terkaya di desanya.

            Kedermawanan Al Hasan as itu sesuai dengan sabda Nabi s.a.w.:”Kepada Al Hasan aku wariskan kesabaran dan kedermawananku.”

            Sejarah mencatat, bahwa setelah Imam Ali bin Abi Thalib as wafat, orang ramai membaiat Al Hasan as sebagai Khalifah yang baru. Pada masa itu, keadaan kaum Muslim masih belum bersatu benar. Pemberontakan telah terjadi sejak Ali bin Abi Thalib a.s menjadi Khalifah. Berontakan-berontakan dengan beberapa kelompok kaum Muslimin – yang memerangi Imam Ali a.s dengan alasan menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan tak lagi dapat dihindari. Di antara orang yang gigih menuntut balas atas kematian Utsman, adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia yang pada masa pemerintahan Utsman menjadi gubenur di Syam – sudah sejak beberapa waktu sebelumnya menyiapkan tentara. Utsman adalah kerabatnya dari kalangan Bani Umayyah. Dengan tak memberi kesempatan kepada Imam Ali untuk menyelidiki kenapa terbunuhnya Utsman, Mu’awiyah berangkat memerangi Imam Ali. Sebenarnyalah, Mu’awiyah sangat menginginkan jabatan Khalifah. Karena ia sadar bahwa kaum Muslimin bakal memilih Ali bin Abi Thalib, maka ia buru-buru memerangi Imam Ali as dengan dalil menuntut balas atas terbunuhnya Utsman. Dalam peperangan dengan Imam Ali itu, Mu’awiyah dan pengikutnya terdesak. Maka selamatlah mereka dari kehancuran.

            Namun demikian pemerintahan Imam Ali ternyata berakhir dengan peristiwa pembunuhan atasnya, ketika beliau sedang memimpin shalat Subuh. Suasana negara menjadi tidak menentu sepeninggal Imam Ali. Dalam keadaan kacau itulah Al Hasan dibaiat. Mu’awiyah tak tinggal diam mendengar pembaiatan atas Al Hasan as. Ketika mulai menjabat sebagai Khalifah, Al Hasan yang sadar akan apa yang bakal dilakukan oleh Mu’awiyah, segera menulis surat kepada Mu’awiyah, mengingatkan akan pentingnya persatuan, dan meminta Mu’awiyah untuk juga membaiatnya. Suarat itu ditulis dengan kata-kata yang baik. Tetapi Mu’awiyah segera membalas surat Al Hasan. Mu’awiyah yang pada waktu itu juga mengangkat diri sebagai Khalifah, menyatakan bahwa ia lebih mempu dan lebih berhak menjadi Khalifah daripada Al Hasan as. Mu’awiyah tak lupa menawarkan “suap” kepada Al Hasan as.

            Singkat cerita, keadaan semakin dekat dengan pertelingkahan antara Al Hasan dengan Mu’awiyah. Dan Mu’awiyah mulai mencari pengaruh. Ia membujuk setiap orang dan kepala-kepala suku dengan bujukan wang. Tak sedikit orang yang karena bujukan duniawi itu akhirnya berpihak kepada Mu’awiyah. Setelah merasa kuat, Mu’awiyah kemudian menyiapkan pasukan dari Syam menuju Kufah.

            Al Hasan a.s mengetahui semua rencana dan persiapan Mu’awiyah. Dengan cepat ia mengumpulkan penduduk Kufah, yang semuanya berpihak dan memaksa dia untuk menjadi Khalifah. Tapi, ternyata pengikut Al Hasan a.s tak cukup setia seperti pengikut Mu’awiyah. Setelah pecah pertempuran, panglima pasukan Al Hasan sendiri belot, menjadi pengikut Mu’awiyah, karena imbuhan wang satu juta dirham.

            Berita pembelotan panglima perang Al Hasan a.s itu segera tersebar. Perajurit  lainnya yang mendengar berita itu kemudian menjadi lalai. Dengan membabi buta, mereka bahkan menyerang kemah Khalifah Al Hasan sendiri. Mereka merampas harta benda Al Hasan a.s yang ada dikemah tersebut. Salah seorang dari mereka, Al Jarrah bin Asad, bahkan menyerang Al Hasan sehingga menimbulkan luka-luka pada tubuh beliau.

            Al Hasan berkata kepadanya, dan perkataannya itu juga ditujukan kepada yang lain: “Dulu kalian membunuh ayahku. Kini kalian menyerang dan berusaha untuk membunuh diriku.”

            Nampaknya, Al Hasan sudah benar-benar tak dapat mempercayai pengikutnya sendiri. Orang yang benar-benar setia kepadanya terlalu sedikit untuk dapat meneruskan peperangan. Dengan pertimbangan itu, dan mengingat pentingnya keutuhan dan persatuan umat, Al Hasan a.s berniat mengakhiri perang yang jauh tak seimbang, karena hal itu hanya akan menambah banyaknya jumlah korban yang jatuh.

            Namun Al Hasan tidak semudah itu melepaskan jabatan dan membiarkan Mu’awiyah berkuasa semaunya. Sebelum menyerahkan kekhalifahan kepada Mu’awiyah, terlebih dahulu ia mengadakan perjanjian. Di antara isi perjanjian yang panjang tersebut, salah satu bagiannya menyebutkan, bahwa sepeninggal Mu’awiyah, kepemimpinan umat akan diserahkan kembali kepada kaum Muslimin untuk memilih sendiri pemimpin yang mereka kehendaki. Di sinilah tampak bagaimana Al Hasan benar-benar memperhatikan kepentingan kaum Muslimin. Pasal itu akhirnya dilanggar oleh Mu’awiyah yaitu dengan mengangkat putranya, Yazid, sebagai pengganti dirinya, sementara kaum Muslimin tak dapat berbuat apa-apa di bawah ancaman pedang dan sebahagiannya lagi luluh karena bujukan wang dan jabatan.

            Setelah dicapai kesepakatan dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sebelum meninggalkan Iraq untuk menuju Madinah, Al Hasan sempat menyampaikan pesan dan kesannya untuk penduduk Iraq. Ia antara lain berkata:

            “Wahai penduduk Iraq, ketahuilah, bahwa ada tiga hal yang menyebabkan aku tak lagi berani menggantungkan diriku pada kalian dan tidak dapat mempercayai kalian. Pertama, kalian telah membunuh ayahku; kemudian kalian telah berusaha untuk membunuh aku; dan yang terakhir, kalian telah menyerang dan merampas barang-barang di kemahku. Aku yakin, bahwa orang yang menggantungkan nasibnya kepada kalian, pasti akan ditimpa kekalahan…”

            Setelah itu, Al Hasan meninggalkan Kufah menuju ke Madinah, Konon, penduduk Kufah menangisi perpindahan Al Hasan. Namun rupanya benarlah kata pepatah:”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.” Al Hasan tak lagi dapat mengubah pendiriannya.

            Telah bulat tekad Al Hasan a.s untuk meninggalkan Kufah, betapapun orang menahannya. Ia kemudian hidup di Madinah, menekuni ibadah, mendalami ilmu, dan selalu mengisi waktunya dengan amal-amal yang dapat mendekatan diri kepada Allah SWT. Banyak waktu dihabiskannya di Masjid Rasulullah dan membantu setiap orang yang kesusahan.

            Al Hasan a.s dikenal sebagai orang yang tak memzeda-bezakan pangkat dan kedudukan. Suatu hari, sekelompok orang miskin mengundangnya untuk makan bersama. Al Hasan duduk, makan bersama mereka meski hanya bersantap dengan sepotong roti kering. Semua itu ia lakukan dengan sepenuh hati, tanpa bersifat perasaan terpaksa sedikit pun. Setelah itu, ia ganti mengundang orang-orang tersebut untuk makan dirumahnya. Atau pada kali yang lain, ia memenuhi undangan anak-anak kecil. Begitulah hari-hari Al Hasan di Madinah.

            Sampai ketetapan Allah datang kepadanya. Hari itu, 28 Safar tahun 50 Hijriyah, Al Hasan merasakan sesuatu yang tidak enak pada tubuhnya. Ia terbaring lemah. Al Husain a.s, adik kandungnya, duduk disamping tubuh kakaknya. Ia merasa hairan mengetahui sakit kakaknya yang sangat mendadak itu. Rupanya, Al Hasan a.s telah diracuni.

            “Katakan, siapakah yang telah meracunimu?” tanya Al Husain.

            “Tiga kali sudah aku diracuni orang, namun yang sekali ini sungguh luar biasa!” kata Al Hasan as.

“Katakanlah, siapakah orang yang telah meracunimu itu!” pinta Al Husain a.s mendesak.

            Rupanya, Al Hasan sengaja tak mau menyebutkan nama orang yang telah meracuninya, meskipun Al Husain mendesak menanyakan hal tersebut.

            Tak ada catatan yang pasti tentang orang yang meracuni Al Hasan. Sebagian riwayat menyebutkan, bahwa Al Hasan diracuni oleh isterinya sendiri yang bernama Ja’dah binti Asy’ats. Terbujuk oleh rayuan Mu’awiyah untuk dikawinkan dengan putranya yang bernama Yazid, ditambah imbuhan seratus ribu dinar, Ja’dah terpikat untuk membunuh Al Hasan. Diceritakan, bahwa Ja’dah kemudian menerima wang sebesar seratus ribu dinar itu, namun Mu’awiyah menolak untuk mengawinkan dia dengan Yazid. Ketika ditanya tentang alasannya tidak mengawinkan Ja’dah dengan Yazid, Mu’awiyah berkata: “Bagaimana mungkin aku berani mengawinkan dia dengan anakku? Apabila ia telah tega meracuni cucu Rasulullah s.a.w, maka apa pula yang akan dia lakukan terhadap puteraku, Yazid?” Ja’dah tertegun dan baru sadar setelah semuanya terjadi.

            Jenazah Al Hasan as dimakamkan di pekuburan Baqi’, dekat makam neneknya, Fatimah binti Asad. Kaum muslimin berkabung mendengar berita wafatnya Al Hasan a.s. Masih jelas dalam ingatan mereka, betapa Al Hasan sangat menyerupai Nabi hampir dalam semua hal. Kerinduan orang kepada Nabi yang biasanya terobati dengan hadirnya Al Hasan a.s kini tak mungkin dinikmati lagi…

AL Ridho * Gombak * Selangor* Malaysia*

al-ridhogombak.jpg