Make your own free website on Tripod.com

Raudah ArRidho

SEJARAH YANG HILANG

Muka Hadapan
Mengenai Kami
Perkumpulan Kami
Hubungi Kami
KEMELUT SESUDAH RASULULLAH
Kehadiran Rasulullah
Ali bin Abi Tholib
Imam Hasan Bin Ali Bin Abi Tholib
Fatimah azzahra a.s.
Imam Husein Asyahid a.s.
Peristiwa Karbala
Imam Ali Zainal Abidin
Imam Muhammad Al-Baqir
Imam Jaafar As-shodiq
Imam Musa Al-Kadzim
Imam Ali Ar-Ridho
Imam Muhammad Ali Al-Jawad
Imam Ali Hadi An-Naqi
Imam Hasan Al-Askari
Imam Mahdi Sohibuz Zaman
Ijtihad 4 Sahabat
Ijtihad Abu Bakar
Ijtihad Umar
Ijtihad Othman
Ijtihad Ali Ibn Abi Tholib
Doa-Doa Dalam Shi'ei
Yuhana Mencari Kebenara

imamalia.s.jpg

Nama : Ali bin Abi Thalib as

Gelar : Amirul Mukminin

Julukan : Abu AL-Hasan, Abu Turab

Ayah : Abu Thalib (Bapa saudara Rasululullah saww)

Ibu : Fatirnah binti Asad

Tempat/Tgl Lahir : Mekkah, Jum'at 13 Rajab ( Didalam Baitullah)

Hari/Tgl Wafat : Malam Jum' at, 21 Ramadhan 40 H.

Umur : 63 Tahun

Sebab Kematian : Ditikam oleh Abdurrahman ibnu Muljam

Makam : Najaf Al-Syarif ( Iraq)

Jumlah Anak : 36 Orang, 18 laki-laki dan 18 perempuan

Anak laki-laki : 1. Hasan Mujtaba, 2. Husein, 3. Muhammad Hanafiah, 4. Abbas al-Akbar, yang dijuluki Abu Fadl, 5. Abdullah al-Akbar, 6. Ja’far al-Akbar, 7. Utsman al- Akbar, 8. Muhammad al-Ashghar, 9. Abdullah al-Ashghar, 10. Abdullah, yang dijuluki Abu Ali, 11. ‘Aun, 12. Yahya, 13. Muhammad al Ausath, 14. Utsman al Ashghar 15.Abbas al-Ashghar, 16. Ja’far al-Ashghar, 17. Umar al-Ashghar, 18. Umar al-Akbar

Anak Perempuan : 1. Zainab al-Kubra, 2. Zainab al-Sughra, 3.Ummu al-Hasan, 4. Ramlah al-Kubra, 4. Ramlah al-Sughra, 5. Ummu al-Hasan, 6. Nafisah, 7. Ruqoiyah al-Sughra, 8. Ruqoiyah al-Kubra, 9. Maimunah, 10. Zainab al-Sughra, 11. Ummu Hani, 12. Fathimah al-Sughra, 13.Umamah, 14.Khodijah al-Sughra, 15 Ummu Kaltsum, 16. Ummu Salamah, 17. Hamamah, 18. Ummu Kiram

 

Riwayat Hidup

 

    Imam Ali bin Abi Thalib a.s. adalah sepupu Rasulullah s.a.w. Dikisahkan bahwa pada saat ibunya. Fatimah hinti Asad, dalam keadaan hamil, beliau masih ikut bertawaf disekitar Ka'bah. Karena keletihan yang dialaminya lalu si ibu tadi duduk di depan pintu Ka'bah seraya memohon kepada Tuhannya agar memberinya kekuatan. Tiba-tiba tembok Ka'bah tersebut bergetar dan terbukalah dindingnya. Seketika itu pula Fatimah bind Asad masuk ke dalamnya dan terlahirlah di sana seorang bayi mungil yang kelak kemudian menjadi manusia besar, Imam Ali bin Abi Thalib.a.s.

    Pembicaraan tentang Imam Ali bin Abi Thalib tidak dapat dipisahkan dengan Rasulullah s.a.w. Sebab sejak kecil beliau telah berada dalam didikan Rasulullah s.a.w, sebagaimana dikatakannya sendiri: "Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti anak unta yang mengikuti induknya. Tiap hari aku dapatkan suatu hal baru dari karakternya yang mulia dan aku menerima serta mengikutinya sebagai suatu perintah".

    Setelah Rasulullah s.a.w mengumurnkan tentang kenabiannya, beliau menerima dan mengimaninya dan termasuk orang yang masuk islam pertama kali dari kaum laki-laki. Apapun yang dikerjakan dan diajarkan Rasulullah kepadanya, selalu diamalkan dan ditirunya. Sehingga beliau tidak pernah terkotori oleh kesyirikan atau tercemari oleh kelakuan, hina dan jahat dan tidak tenodai oleh kemaksiatan. Keperibadian beliau telah menyatu dengan Rasululullah s.a.w, baik dalam kelakuanya, pengetahuannya, pengorbanan diri, kesabaran, keberanian, kebaikan, kemurahan hati, kefasihan dalam berbicara dan berpidato.

    Sejak masa kecilnya beliau telah menolong Rasulullah s.a.w dan terpaksa harus menggunakan kepalan tangannya dalam mengusir anak-anak kecil serta para banjingan yang diperintah kaum kafir Quraish untuk mengganggu dan melempari batu kepada diri Rasulullah s.a.w.

    Keberaniannya tidak tertandingi, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w: "Tiada pemuda sehebat Alī". Dalam bidang keilmuan, Rasul menamakannya sebagai pintu ilmu. Bila ingin berbicara tentang kesalehan dan kesetiaannya, maka semaklah sabda Rasulullah s.a.w: "Jika kalian ingin tahu ilmunya Adam, kesalehan Nuh, kesetiaan lbrahim, keterpesonaan Mūsa, pelayanan dan kepantangan Isa, maka lihatlah kecemerlangan wajah Alī". Beliau merupakan orang yang paling dekat hubungan kekeluargaanya dengan Nabi s.a.w sebab, beliau bukan hanya sepupu nabi, tapi sekaligus sebagai anak asuhnya dan suami dari putrinya serta sebagai penerus kepemimpinan sepeninggalnya s.a.w.

    Sejarah juga telah menjadi saksi nyata atas keberaniannya. Di setiap peperangan, beliau selalu saja menjadi orang yang terkemuka. Di perang Badar, hampir separuh dan jumlah musuh yang mati, tewas di ujung pedang Imam Ali a.s. Di perang Uhud, yang mana musuh Islam lagi-lagi dipimpin oleh Abu Sofyan dan keluarga Umayyah yang sangat memusuhi Nabi s.a.w, Imam Ali a.s kembali memainkan peranan yang sangat penting yaitu ketika sebagian sahabat tidak lagi mendengarkan wasiat Rasulullah agar tidak turun dari atas gunung, namun mereka tetap turun sehingga orang kafir Quraish mengambil kedudukan mereka, lmam Ali bin Abi Thalib a.s. segera datang untuk menyelamatkan diri nabi dan sekaligus menghalau serangan itu.

    Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Imam Ali bin Abi Thalib a.s. ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian. Demikian pula halnya dengan perang Khaibar, di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi s.a.w bersabda: "Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya". Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, temyata Imam Ali bin Abi Thalib a.s. yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang perajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya hingga terbelah menjadi dua bagian.

    Begitulah kegagahan yang ditampakkan oleh Imam Ali dalam menghadapi musuh islam serta dalam membela Allah dan Rasul-Nya. Tidak syak lagi bahwa seluruh kebidupan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. dipersembahkan untuk Rasul demi keberhasilan projek Allah. Kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah benar-benar terbukti lewat perjuangannya. Penderitaan dan kesedihan dalam medan perjuangan mewarnai kehidupannya. Namun, penderitaan dan kesedihan yang paling dirasakan adalah saat ditinggalkan Rasulullah s.a.w. Tidak cukup itu, 75 hari kemudian istrinya, Fatimah Zahra, juga meninggal dunia.

    Kepergian Rasululullah s.a.w telah membawa angin lain dalam kehidupan Imam Ali a.s. Terjadinya perternuan Saqifah yang menghasilkan pemilihan khalifah pertama, baru didengarnya setelah pulang dari kuburan Rasulullah s.a.w. Sebab, pemilihan khalifah itu menurut sejarah memang terjadi saat Rasulullah belum di makamkan. Pada tahun ke-13 H, khalifah pertama, Abu Bakar as-Shiddiq, meninggal dunia dan menunjuk khalifah ke-2, Umar bin Khaththab sebagai penggantinya. Sepuluh tahun lamanya khalifah ke-2 meimpin dan pada tahun ke-23 H, beliau juga wafat. Namun, sebelum wafatnya, khalifah pertama telah menunjuk 6 orang calon pengganti dan Imam Ali a.s. termasuk salah seorang dari mereka. Kemudian terpilihlah khalifah Utsman bin Affan. Sedang Imam Ali bin Abi Thalib a.s. tidak terpilih karena menolak syarat yang diajukan Abdurrahman bin Auf yaitu agar mengikuti apa yang diperbuat khalifah pertama dan kedua dan mengatakan akan mengikuti apa yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

    Pada tahun 35 H, khalifah Utsman terbunuh dan kaum muslimin secara aklamasi memilih serta menunjuk Imam Ali sebagai khalifah dan pengganti Rasululullah s.a.w dan sejak itu beliau memimpin negara Islam tersebut. Selama masa kekhalifahannya yang hampir 4 tahun 9 bulan, Ali mengikuti cara Nabi dan mulai menyusun sistim yang islami dengan membentuk gerakan spiritual dan pembaharuan.

    Dalam merealisasikan usahanya, beliau mengbadapi banyak tantangan dan peperangan, sebab, tidak dapat dimungkiri bahwa gerakan pembaharuan yang dicanangkannya dapat medorong dan menghancurkan keuntungan-keuntungan peribadi dan beberapa kelompok yang merasa dirugikan. Akhirnya, terjadilah perang Jamal dekat Bashrah antara beliau dengan Talhah dan Zubair yang didukung oleh Mua'wiyah, yang mana di dalamnya Aisyah "Ummul Mukminin" ikut keluar untuk memerangi Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Peperangan pun tak dapat dihindari, dan akhirnya pasukan Imam Ali a.s berhasil memenangkan peperangan itu sementara Aisyah "Ummul Mu'rninin" dipulangkan secara terhormat kerumahnya.

    Kemudian terjadi "perang Siffin" yaitu peperangan antara beliau a.s. melawan kelompok Mu'awiyah, sebagai kelompok oposisi untuk kepentingan peribadi yang medorong negara yang syah. Peperangan itu terjadi di perbatasan Iraq dan Syiria dan berlangsung selama setengah tahun. Beliau juga memerangi Khawarij (orang yang keluar dan lingkup Islam) di Nahrawan, yang dikenal dengan nama "perang Nahrawan". Oleh karena itu, hampir sebagian besar hari-hari pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib a.s digunakan untuk peperangan dalaman melawan pihak- pihak oposisi yang sangat mendorong dan merugikan keabsahan negara Islam.

    Akhirnya, menjelang subuh, 19 Ramadhan 40 H, ketika sedang salat di masjid Kufah, kepala beliau ditebas dengan pedang beracun oleh Abdurrahman bin Muljam. Menjelang wafatnya, pria sejati ini masih sempat memberi makan kepada pembunuhnya. Singa Allah, yang dilahirkan di rumah Allah "Ka'bah" dan dibunuh di rumah Allah "Mesjid Kufah", yang mempunyai hati paling berani, yang selalu berada dalam didikan Rasulullah s.a.w sejak kecilnya serta selalu berjalan dalam ketaatan pada Allah hingga hari wafatnya, kini telah mengakhiri kehidupan dan pengabdiannya untuk Islam.

    Beliau memang telah tiada namun itu tidak berarti seruannya telah berakhir, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya. " (Q.S. : 2 : 154)

 

Ahli Matematika 1

Dua orang sehabat melakukan perjalanan bersama. Disuatu tempat, mereka berhenti untuk makan siang. Sambil duduk, mulailah masing-masing membuka bekalnya. Orang yang pertama membawa tiga potong roti, sedang orang yang kedua membawa lima potong roti.

            Ketika keduanya telah siap untuk makan, tiba-tiba datang seorang musafir yang baru datang ini pun duduk bersama mereka.

            “Mari, silakan, kita sedang bersiap-siap untuk makan siang,”kita salah seorang dari dua orang tadi.

            “Aduh…saya tidak membawa bekal,” jawab musafir itu.

            Maka mulailah mereka bertiga menyantap roti bersama-sama. Selesai makan, musafir tadi meletakkan uang delapan dirham di hadapan dua orang tersebut seraya berkata: “Biarkan uang ini sebagai pengganti roti yang aku makan tadi.” Belum lagi mendapat jawaban dari pemilik roti itu, si musafir telah minta diri untuk melanjutkan perjalanannya lebih dahulu.

            Sepeninggal si musafir, dua orang sahabat itu pun mulai akan membagi uang yang diberikan.

            “Baiklah, uang ini kita bagi saja,” kata si empunya lima roti.

            “Aku setuju,”jawab sahabatnya.

            “Karena aku membawa lima roti, maka aku mendapat lima dirham, sedang bagianmu adalah tiga dirham.

            “Ah, mana bisa begitu. Karena dia tidak meninggalkan pesan apa-apa, maka kita bagi sama, masing-masing empat dirham.”

            “Itu tidak adil. Aku membawa roti lebih banyak, maka aku mendapat bagian lebih banyak”

            “Jangan begitu dong…”

            Alhasil, kedua orang itu saling berbantah. Mereka tidak berhasil mencapai kesepakatan tentang pembagian tersebut. Maka, mereka bermaksud menghadap Imam Ali bin Abi Thalib r.a. untuk meminta pendapat.

            Di hadapan Imam Ali, keduanya bercerita tentang masalah yang mereka hadapi. Imam Ali mendengarkannya dengan saksama. Setelah orang itu selesai berbicara, Imam Ali kemudian berkata kepada orang yang mempunyai tiga roti: “Terima sajalah pemberian sahabatmu yang tiga dirham itu!”

            “Tidak! Aku tak mau menerimanya. Aku ingin mendapat penyelesaian yang seadil-adilnya, “Jawab orang itu.

            “Kalau engkau bermaksud membaginya secara benar, maka bagianmu hanya satu dirham!” kata Imam Ali lagi.

            “Hah…? Bagaimana engkau ini, kiranya.

Sahabatku ini akan memberikan tiga dirham dan aku menolaknya. Tetapi kini engkau berkata bahwa hak-ku hanya satu dirham?”

            “Bukankah engkau menginginkan penyelesaian yang adil dan benar?”

            “Ya”

            “Kalau begitu, bagianmu adalah satu dirham!”

            “Bagaimana bisa begitu?” Orang itu bertanya.

            Imam Ali menggeser duduknya. Sejenak kemudian ia berkata:”Mari kita lihat. Engkau membawa tiga potong roti dan sahabatmu ini membawa lima potong roti.”

            “Benar.”jawab keduanya.

            “Kalian makan roti bertiga, dengan si musafir.”

            ‘Benar”

            “Adakah kalian tahu, siapa yang makan lebih banyak?”

            “Tidak.”

            “Kalau begitu, kita anggap bahwa setiap orang makan dalam jumlah yang sama banyak.”

            “Setuju, “jawab keduanya serempak.

            “Roti kalian yang delapan potong itu, masing-masingnya kita bagi menjadi tiga bagian. Dengan demikian, kita mempunyai dua puluh empat potong roti, bukan?” tanya Imam Ali.

            “Benar,”jawab keduanya.

            “Masing-masing dari kalian makan sama banyak, sehingga setiap orang berarti telah makan sebanyak delapan potong, karena kalian bertiga.”

            “Benar.”

            “Nah…orang yang membawa lima roti, telah dipotong menjadi tiga bagian mempunyai lima belas potong roti, sedang yang membawa tiga roti berarti mempunyai sembilan potong setelah dibagi menjadi tiga bagian, bukankah begitu?”

            “Benar, jawab keduanya, lagii dengan serentak.

            “si empunya lima belas potong roti makan untuk dirinya delapan roti, sehingga ia mempunyai sisa tujuh potong lagi dan itu dimakan oleh musafir yang belakangan. Sedang si empunya sembilan potong roti, maka delapan potong untuk dirinya, sedang yang satu potong di makan oleh musafir tersebut. Dengan begitu, si musafir pun tepat makan delapan potong roti sebagaimana kalian berdua, bukan?”

            Kedua orang yang dari tadi menyimak keterangan Imam Ali, tampak sedang mencerna ucapan Imam Ali tersebut. Sejenak kemudian mereka berkata:”Benar, kami mengerti.”

            “Nah, uang yang diberikan oleh di musafir adalah delapan dirham, berarti tujuh dirham untuk si empunya lima roti sebab si musafir makan tujuh potong roti miliknya, dan satu dirham untuk si empunya tiga roti, sebab si musafir hanya makan satu potong roti dari milik orang itu”

            “Alhamdulillah…Allahu Akbar,” kedua orang itu berucap hampir bersamaan. Mereka sangat mengagumi cara Imam Ali menyelesaikan masalah tersebut, sekaligus mengagumi dan mengakui keluasan ilmunya.

            “Demi Allah, kini aku puas dan rela. Aku tidak akan mengambil lebih dari hak-ku, yakni satu dirham,” kata orang yang mengadukan hal tersebut, yakni si empunya tiga roti.

            Kedua orang yang mengadu itu pun sama-sama merasa puas. Mereka berbahagia, karena mereka berhasil mendapatkan pemecahan secara benar, dan mendapat tambahan ilmu yang sangat berharga dari Imam Ali bin Abi Thalib as.

 

Ahli Matematika 2

Pada masa pemerintahan Umar bin Khathab. Terjadilah suatu peristiwa yang menyangkut diri seorang wanita. Wanita itu didapati melahirkan anak, padahal, menurut pengakuannya, ia baru hamil 6 bulan.

            Mendengar, penentuan itu, Umar tidak percaya begitu saja. Umar berpendapat bahwa wanita tersebut pasti telah berbohong.

            “Mana mungkin orang yang baru menikah melahirkan anak dari kandungan yang berumur 6 bulan?” begitu ia berfikir, barangkali Karenanya, Umar berpendapat bahwa wanita tersebut pastilah telah hamil terlebih dahulu sebelum menikah, atau telah berzinah. Atas dasar pertimbangan itu, Khalifah memutuskan untuk menghukum rajam wanita tersebut.

            Sebelum hukuman dilaksanakan, Imam Ali yang secara kebetulan sedang lewat, menghentikan langkahnya karena melihat orang-orang sedang berkerumun, termasuk didalamnya adalah Umar. Kepada Imam Ali diceritakanlah masalah yang terjadi.

            Mendengar penuturan Umar, Imam Ali kemudian berkata: “Astaga…apakah engkau akan menentang firman Allah yang berkata:”Ibunya mengandung dan menyusui selama tiga puluh bulan.’ Pada ayat lain Allah berfirman: ‘Dan hendaklah para ibu itu menyusui anaknya dua tahun lamanya, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusunan.”

            Kalau mengandung dan menyusui adalah tiga puluh bulan, sedang menyusui saja adalah dua tahun, atau dua puluh empat bulan, maka orang yang melahirkan anak dengan usia kandungan enam bulan adalah mungkin terjadi berdasarkan firman Allah  tersebut, yakni tiga puluh dikurangi dua puluh empat bulan. Sungguh tepat sekali usia kandungan wanita itu!”

            Semua yang hadir tertegun mendengar penuturan Imam Ali tersebut. Mereka merasa lega karena belum sampai menjatuhkan hukuman secara salah. Umar sendiri menjadi orang yang paling lega karena terhindar dari kesalahan yang besar. Dan wanita itu pun dibebaskan.  

 

Biji Kurma yang Merepotkan

Seorang istri datang kepda Imam Ali dalam keadaan sangat gelisah dan tidak tenang. Di tangannya tampak sebuah kantong kecil. Wajahnya pucat dan memeras.

            “Assalamu’alaikum…”

            “Wa’alaikum salam warahmatullah wa barakatuh…” jawab Imam Ali sambil membukakan pintu.

            “Tolong aku wahai Abal Hasan…,” kata wanita itu dengan suara seakan menahan tangis.

            Ada apakah kiranya?”Tanya Imam Ali r.a.

            “Aku dan suamiku saat ini di ambang perceraian.

            “Aku masih tidak mengerti, coba ceritakan dengan tenang persoalan mu, insya Allah aku dapat membantu.”

            “Begini. Aku dan suamiku baru saja duduk-duduk sambil menikmati buah kurma. Kami berdua menikmati kurma itu dan memasukkan biji-bijinya ke dalam katong ini. Setelah habis, suamiku berkata:’Pisahkanlah biji yang aku makan dengan yang engkau makan. Kalau tidak, engkau aku cerai!’ Sekarang aku dan suamiku kebingungan. Dia sebenarnya tak bermaksud menceraikan ku, begitu pula aku tak ingin bercerai darinya. Tetapi bagaimana mungkin aku memisahkan biji-biji yang aku makan dengan biji-biji yang dimakannya, sedang keduanya telah tercampur dalam kaleng ini…?”

            Imam Ali terharu melihat keadaan wanita di hadapannya itu. Tetapi tak lama kemudian ia tersenyum, dan berkata: “Tenanglah wahai hamba Allah… Apa susahnya memisahkan biji-biji itu?”

            “ Ia telah tercampur aduk dalam kaleng ini,” kata wanita itu serius.

            “Tak mengapa. Sungguh sangat mudah melakukannya,” kata Imam Ali tenang-tenang seakan tidak terjadi sesuatu.

            “Tetapi bagaimana caranya?”

            “Pisahkanlah biji-biji itu secara berjajar, yang satu dengan yang lain mempunyai jarak sehingga yang satu benar-benar terpisah dari yang lain.”

            “Aku belum lagi mengerti. Saat ini aku tidak tahu mana biji buah kurma yang aku makan.”

            “Tak perlu engkau tahu. Yang penting, pisahkanlah dengan jarak, seperti yang aku katakan tadi. Bukankah suami mu hanya menyuruh engkau memisahkannya, dan bukan membedakan biji dari kurma yang engkau makan? Apa susahnya?”

            Mengertilah wanita itu. Ia pun menjadi lega dan bersyukur memuji Allah.”Alhamdulillah…segala puji bagi Allah, dan shalawat atas Nabi-Nya. Sungguh, tidak salah apabila Rasulullah s.a.w. Menggelari anda sebagai: ”Pintunya ilmu,” katanya, kali ini dengan tersenyum.

 

Kemenangan di Waktu Subuh

Setelah Fathul Makkah dikabarkan pada Nabi S.a.w. bahwa bani Salim mempersiapkan pemberontakan, mereka bermaksud menyerang Madinah, tapi sementara itu mereka bertahan di sebuah benteng di atas bukit, antara Makkah dan Madinah.

Rasulullah mengerahkan pasukan tiga kali berturut-turut dibawah panglima perang sahabat senior tapi hal ini mengalami kekalahan terus dan menimbulkan banyak korban. Akhirnya Rasulullah S.a.w mengirim pasukan di bawah panglima perang Ali As, dan para panglima serta pasukan sebelumnya harus bergabung dibawah Ali As.

Berbeza dengan pendataran sebelumnya, Ali mengambil jalan yang tidak seperti biasanya dia memilih jalan melalui medan berat dengan tebing yang berbukit terjal dan batu-batu yang tajam. Walaupun banyak yang menentang tapi Ali As tetap pada strateginya dan memerintahkan untuk bergerak di malam hari dan musuh akan dikejutkan dengan serangan yang mendadak. Menjelang subuh pasukan Ali As masuk ke benteng dari arah belakang dan secara mendadak. Kuda-kuda menyerang dengan nafas yang berdengus dan tampak kakinya bersentuhan dengan batu-batu tajam sehingga memercikkan api. Serangan itu betul-betul mengejutkan musuh, mereka takluk sebelum waktu subuh berakhir.

Pada waktu yang bersamaan di Madinah Nabi S.a.w. pada waktu sholat subuh membaca surat Al 'Adiyat ayat

(Wal 'Aadiyaati Dhobhaan Fal muuriyaati qadhaan Fal mughiiraati shubhaan Fa atsarna bihii nag'aan Fa washathna bihii jam'aan) "Demi kuda-kuda yang menyerang dengan nafas berdengus. Kemudian menerbitkan percikan api. Menyerbu diwaktu subuh. Menerbangkan kepulan debu. Menembus ketengah-tengah musuh serentak "

Setelah selesai shalat subuh Nabi S.a.w memberitakan pada sahabatnya bahwa pasukan Ali As telah memperoleh kemenangan.

Beberapa hari setelah itu Nabi S.a.w menyambut kedatangan pasukan Ali di luar Madinah. Beliau memeluk Ali dengan penuh bahagia. Beliau bersabda " Wahai Ali, sekiranya aku tidak takut orang-orang akan memujamu seperti orang kristien memuja Isa As, maka aku akan mengumumkan keutamaannku.Apabila mereka mendengar, mereka akan mengambil tanah yang pernah kau injak untuk menyembuhkan penyakit mereka.

Kehormatan itu diberikan kepada Ali As bukan hanya untuk menghargai kemenangannya. Nabi S.a.w menghargai keberanian Ali As untuk mengambil cara atau jalan yang tidak konvensional, tetapi produktif. Tidak lazim tetapi memberikan kemenangan.

Dikutip dari Tafsir Bil Ma'tsur oleh Jalaluddin Rakhmat

 

Menyelamatkan Bahasa

Abul Aswad Ad-Dualy adalah seorang sahabat Rasulullah s.a.w. Dan sangat dekat dengan Imam Ali as. Tampaknya ia sengaja belajar, menimba ilmu dari Imam Ali.

            Suatu malam, dalam perjalanannya, Imam Ali dan Abul Aswad melihat seorang kanak-kanak sedang bermain di depan rumahnya. Tiba-tiba sambil memandangi langit, anak itu berteriak: “Ma akhsanus-samaa’u yaa abiy.*(Secara harfiah berarti: Apa yang indah di langit ini, wahai ayah?) “Nujuu-muhaa* (Artinya :bintang-bintangnya) “Jawab sang ayah dan dalam. Tetapi, meski sudah dijawab, sang anak kembali mengulangi pertanyaannya.”

            “Maa akhsanus-samaa’u yaa abiy?”

            Lagi-lagi ayahnya menjawab:”Nujuu-muhaa…”. Tetapi si anak kembali bertanya dan si ayah kembali mengulangi jawaban yang sama.

            Melihat peristiwa itu, Imam Ali berkata kepada sahabatnya: “Sungguh, bahasa akan rusak kalau begini halnya…” Kemudian beliau menghampiri anak itu seraya berkata: “Apa sebenarnya yang ingin engkau katakan, hai anakku?”

            “Aku ingin mengatakan kepada ayahku betapa indahnya langit ini.”

            “Engkau ingin menyatakan kekagumanmu?”

            “Benar”

            “Kalau engkau mengagumi sesuatu, katakanlah dengan membuka mulutmu, agar orang tidak salah menjawab”

            “Apa yang mesti aku katakan?”

            “Ma Akhsanus samaa’a yaa abiy…”**(Dengan mengubah samaa’u menjadi samaa’a, artinya pun menjadi: Betapa indahnya langit ini, wahai ayah. Halini merupakan sebagian dari keluasan gramatika bahasa Arab)

Sang ayah pun kemudian muncul dan mengerti permasalahannya.

            Dalam perjalanan pulang, Imam Ali berkata kepada Abul Aswad: “Tata bahasa Arab mesti disusun!”

            Dan benarlah. Imam Ali kemudian menyusun, dibantu oleh Abul Aswad Ad-Dualy. Sahabat ini pun kemudian dikenal sebagai orang yang sangat memahami seluk-beluk tata bahasa Arab.

 

 

 

 

 

 

 Sifat Mu’minin

Dari Abban bin Abi ‘Iyasy dari Sulaim berkata: Telah berdirilah seorang lelaki dari sahabat Amir al-Mukminin a.s. bernama Hammam, seorang ahli ibadah yang gigih lalu berkata: Beritahukan kepadaku sifat-sifat Mukminin seolah-olah aku sedang melihat kepada mereka. Maka Amir al-Mukminin a.s. merasa berat untuk memberikan jawaban kepadanya.

Kemudian beliau berkata: Wahai Hammam! Bertakwalah kepada Allah dan berbuat baiklah, karena Allah bersama orang yang bertakwa dan orang yang berbuat baik. Maka Hammam berkata kepadanya: Aku bertanyakan anda dengan Yang telah memuliakan anda, memberi keistimewaan kepada anda, mencintai anda dan memberi kelebihan kepada anda tentang sifat-sifat Mukminin. Maka Amir al-Mukminin a.s. berdiri di atas dua kakinya. Beliau memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta bersalawat ke atas Nabi, dan Ahlul Baitnya a.s.

Kemudian beliau berkata: Amma ba‘d. Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk dan ketika Dia menciptakannya, ia kaya dengan ketaatan mereka serta aman dari kemaksiatan mereka, karena kemaksiatan mereka tidak akan memudaratkan-Nya, begitu juga ketaatan mereka tidak akan memanfaatkan-Nya. Dia telah membagi-bagikan di kalangan mereka kehidupan mereka dan meletakkan kedudukan mereka di Dunia. Dia menurunkan Adam ke Dunia adalah sebagai balasan kepada apa yang telah dilakukannya. Allah telah melarangnya, tetapi beliau menyalahinya. Dia telah memerintahkannya, tetapi beliau mendurhakai-Nya.

Lantaran itu, Mukminun di Dunia adalah Ahli Kelebihan. Mantiq mereka adalah kebenaran. Pakaian mereka adalah kesederhanaan. Perjalanan mereka adalah tawadhu‘. Mereka tunduk kepada Allah dengan ketaatan. Mereka pergi di dalam keadaan merendahkan pandangan mereka dari apa yang diharamkan oleh Allah atas mereka dan berdiri di dalam keadaan pendengaran mereka tertumpu kepada ilmu. Jiwa mereka di dalam kesusahan seperti jiwa mereka yang di dalam kesenangan meridhai Qadha’ Allah.

Sekiranya tidak ada ajal yang telah ditulis oleh Allah untuk mereka, nescaya roh-roh mereka tidak akan tinggal pada jasad-jasad mereka walaupun sekejap, karena syauq kepada pahala, dan takutkan azab. Betapa besarnya Pencipta pada diri mereka dan betapa kecilnya selain daripada-Nya pada pandangan mereka. Mereka dan Syurga seperti mereka telah melihatnya. Maka mereka dikaruniakan nikmat. Mereka dan Neraka seperti mereka telah melihatnya. Maka mereka padanya diazab.1

Hati mereka bersedih. Batasan mereka adalah dijamin. Badan mereka adalah kurus. Keperluan mereka adalah sedikit. Diri mereka adalah jujur. Pertolongan mereka pada Islam adalah besar. Mereka bersabar pada hari-hari yang pendek, kemudian mereka diikuti kerehatan yang berpanjangan. Satu perniagaan yang menguntungkan dan dipermudahkannya untuk mereka oleh Tuhan Yang Maha Mulia. Dunia menghendaki mereka, tetapi mereka tidak menghendakinya. Ia menuntut mereka, tetapi mereka menolaknya.

Adapun pada waktu malam, mereka membaca al-Qur’an dan bersedih dengannya. Mereka merujuk kepadanya untuk mengobati penyakit mereka. Tangisan dan kesedihan mereka begitu mendalam atas dosa-dosa yang dilakukan. Apabila mereka bertemu dengan ayat tasywiq (memberangsangkan), mereka cenderung kepadanya karena tamakkannya. Air mata mereka berlinang di atas pipi mereka sambil mengharapkan Allah melepaskan mereka dari Neraka. Apabila mereka bertemu dengan ayat takhwif (menakutkan), hati dan mata mereka tertumpu kepadanya. Kulit mereka menggeletar dan hati mereka menjadi lemah. Mereka menyangka suara Neraka di telinga mereka. Adapun mereka pada siang hari, adalah lemah lembut dan ulama baik yang bertakwa, seakan-akan dikuasai ketakutan.2

Orang yang melihat menyangka bahwa mereka sakit, tetapi mereka bukanlah sakit. Malah mereka dicampur aduk dengan perkara yang besar. Apabila mereka menyebut kebesaran Allah, kekuasaan-Nya, mengingati kematian dan azab Hari Kiamat, hati mereka menjadi kecut dan akal mereka menjadi lemah. Dan apabila mereka sembuh daripadanya, mereka bersegera kepada Allah dengan amalan yang baik. Mereka tidak meridhai Allah dengan sedikit. Dan mereka tidak membesar-besarkan apa yang mereka lakukan kepada-Nya. Mereka mengambil berat pada diri mereka dan daripada amalan yang dilakukan mereka mengharapkan pahala.

Jika seseorang dari mereka dipuji, dia menjadi takut terhadap apa yang mereka perkatakan kepadanya, lalu berkata: Aku lebih mengetahui tentang diriku daripada orang lain, dan Tuhanku lebih mengetahui tentangku selain daripadaku. Wahai Tuhanku! Janganlah Engkau mengambilku dengan apa yang mereka perkatakan. Jadilah aku kebaikan atas apa yang mereka sangkakan. Ampunilah aku atas apa yang mereka tidak mengetahuinya, karena Engkau mengetahui perkara yang ghaib dan penutup segala keaiban.3

Anda boleh melihat tanda mereka; pada kekuatan beragama, keimanan pada keyakinan, cintakan ilmu, pandai bersahabat, khusyuk di dalam ibadat, menanggung penderitaan, kesabaran dalam kesusahan, memberi apa yang hak, mencari rezeki yang halal, cergas di dalam petunjuk, menjauhi ketamakan, meneruskan sesuatu di dalam istiqamah, teguh melawan syahwat, tidak terpedaya akan pujian orang yang jahil. Tidak menangguhkan amalan untuk kebaikan dirinya. Matlamatnya adalah kesyukuran, sibuk dengan zikir, bermalam dengan penuh kewaspadaan, dan bergembira pada waktu pagi. Berwaspada pada tempatnya. Bergembira apabila mereka mendapat kelebihan dan rahmat sekalipun dirinya sukar menerimanya.

Mereka mencampurkan sifat lemah-lembut dengan ilmu, dan ilmu dengan akal, anda melihatnya jauh tetapi cita-citanya dekat. Sentiasa meramalkan ajalnya. Hatinya khusyuk, memadai apa yang ada. Kuat mempertahankan agamanya, mati syahwatnya, menahan kemarahannya. Akhlaknya bersih, tetangganya merasa aman dengannya, berpuas hati apa yang ditakdirkan terhadapnya. Kesabarannya kukuh, urusannya cekap, setia kepada janjinya, dan tidak menyembunyikan penyaksian musuh. Tidak melakukan sesuatu dengan riya, dan tidak meninggalkan sesuatu karena malu. Kebaikan daripadanya adalah yang diharapkan dan kejahatan daripadanya adalah dijamin.

Mereka memaafkan orang yang telah menzaliminya. Mereka memberi kepada orang yang menegahnya. Mereka menghubungi orang yang memutuskan silaturahim dengannya. Mereka tidak mempercepat apa yang dicurigainya. Percakapannya lembut dan benar. Perbuatannya adalah baik, menghadapi kebaikan dan membelakangi kejahatan. Mereka adalah tenang di dalam gegaran, sabar di dalam menghadapi perkara yang dibencinya. Bersyukur ketika senang. Tidak takut orang memarahinya. Tidak merasa bersalah apa yang mereka kasihi. Tidak mendakwa bukan haknya.Begitu juga dia tidak mengingkari haknya atasnya.

Mengakui kebenaran sebelum dipersaksikan atasnya. Tidak menghilangkan apa yang dijaganya. Tidak bermegah dengan gelaran. Tidak bersaing dengan siapapun. Tidak dikuasai oleh hasad, tidak memudaratkan tetangga, dan tidak bergembira dengan musibah yang menimpa orang lain. Menunaikan amanah, bersegera kepada solat, lambat kepada kemungkaran. Menyuruh melakukan kebaikan, melarang kemungkaran. Tidak memasuki sesuatu perkara dengan kejahilan.4 Tidak keluar daripada kebenaran dengan kelemahan. Jika mereka diam, diamnya berfaedah. Dan jika mereka bercakap, mereka tidak akan bercakap perkara yang salah. Jika mereka tertawa, mereka tidak meninggikan suaranya.

Memadai apa yang ditakdirkan untuknya. Tidak menimbulkan kemarahan dan tidak dikuasai oleh hawa nafsunya. Tidak kedekut dan tidak pula tamak kepada bukan haknya. Bergaul dengan orang ramai untuk mengetahui dan diam untuk selamat. Bertanya supaya mereka memahaminya. Berniaga untuk mendapat ganjaran. Mereka tidak diam untuk kebaikan bagi meninggikan diri. Tidak bercakap untuk memaksa orang lain. Dirinya di dalam kepenatan sedangkan orang ramai di dalam kerehatan.

Mereka memenatkan diri untuk akhiratnya dan merehatkan orang ramai daripada dirinya. Jika diserang, mereka bersabar sehingga Allah memberi kemenangan untuknya selepasnya. Siapa yang menjauhinya, mereka memaafkannya. Siapa yang mendekatinya, mereka lembut. Jika mereka berjauhan, bukanlah karena meninggikan diri. Dekatnya bukanlah suatu tipu-daya. Malah karena mengikuti orang yang terdahulu daripada ahli kebaikan. Dan mereka adalah imam bagi ahli kebaikan dan di belakang mereka5

Beliau berkata: Hammam telah melaung, kemudian tidak sedarkan diri. Maka Amir al-Mukminin a.s. berkata: Demi Tuhan! Aku telah menduga kekhawatiranku terhadapnya, dan beliau berkata: Begitulah kesan nasihat yang tepat kepada ahlinya. Ada orang berkata kepadanya: Wahai Amir al-Mukminin! Apa gerangan anda wahai Amir al-Mukminin! Beliau berkata: Setiap ajal tidak akan melepasnya. Dan setiap sebab tidak akan melewatinya. Nanti! Janganlah anda melepasinya. Sesungguhnya Syaitan telah menghembuskan nafasnya di atas lidah anda. Kemudian Hammam telah mengangkat kepalanya, kemudian terjatuh, lalu meninggal dunia6 rahimahullah.


Catatan Kaki:

1Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 303-4.

2Ibid.hlm. 303-5.

3Ibid.

4Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 305-6.

5Ibid.

6Ibid.

 

Kesalehan Sosial

Dengan susah payah, seorang pengemis datang memasuki Masjid Nabawi di Madinah. Sayang, ia hanya melihat orang-orang melaksanakan shalat dengan khusyuk. Didorong rasa lapar yang kuat, akhirnya ia meminta-minta kepada orang-orang yang sedang shalat. Hasilnya tiada.

Hampir putus asa, ia mencoba menghampiri seseorang yang khusyuk melakukan rukuk. Kepadanya ia minta belas kasihan. Ternyata kali ini ia berhasil. Orang itu memberikan cincin besinya kepada pengemis itu.

Tidak lama setelah itu, Rasulullah s.a.w memasuki masjid. Nabi melihat pengemis itu lalu mendekatinya.
''Adakah orang yang telah memberimu sedekah?''

''Ya, alhamdulillah.''

''Siapa dia?''

''Orang yang sedang berdiri itu,'' kata si pengemis sambil menunjuk dengan jari tangannya.

''Dalam keadaan apa ia memberimu sedekah?''

''Sedang rukuk!''

''Ia adalah Ali bin Abi Thalib,'' kata nabi. Ia lalu mengumandangkan takbir dan membacakan ayat, ''Dan barang siapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama Allah) itulah yang pasti menang.'' (Al-Maidah: 56)

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa kisah tersebut di atas adalah faktor yang menjadi sebab turunnya ayat sebelumnya, yaitu ''Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).'' (Al-Maidah: 55). Asbabun-nuzul ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Shofyan Ats-Tsauri.

Dalam kisah tersebut kita dapat melihat bagaimana nabi memberikan penghargaan tinggi kepada Ali bin Abi Thalib a.s karena tindakannya yang terpuji. Bahkan Allah SWT menjadikan tindakannya itu sebagai sebab turunnya suatu ayat. Ali a.s. telah membuktikan bahwa kesalehan dirinya bukan hanya pada taraf untuk dirinya dan kepada Tuhan, atau sebatas kesalehan ritual, tetapi ia wujudkan kesalehan lain, yaitu kesalehan sosial.

Kesalehan yang diwujudkan Ali a.s bisa dijadikan tauladan bahwa semestinya kesalehan ritual dapat mengantarkan seseorang pada kesalehan sosial. Ini karena memang kesalehan ritual sangat mendukung untuk itu. Karena itu, semestinya kita tidak bisa shalat dengan khusyuk ketika tetangga kita dan kawan-kawan kita masih memerlukan tadahan tangan. Juga sangat aneh jika sebuah masjid penuh sesak dihadiri para tamu-Nya, dan yang shalat di dalamnya tidak sedikit yang bermobil, sementara di samping masjid itu kawasan kaki lima masih bermaharajalela, para pengemis di persekitaran masjid masih berkeliaran.

 

 

NILAI -NILAI  YANG DIPANCARKAN DARI KEHARUMAN PRIBADI IMAM ALI BIN ABU THALIB A.S

Dalam rangka usaha meluruskan pengertian kaum muslimin mengenai ajaran agama Islam yang berkaitan dengan kewajiban berusaha mencari nafkah penghidupan, Imam ‘Ali a.s selalu memberi pengertian kepada kaum muslimin mengenai beberapa pokok ajaran Islam, antara lain:

1.         Nilai seseorang tergantung pada kadar kemahuannya.

2.         Bukankah kemiskinan itu termasuk cubaan hidup? Ketahuilah, bahwa kemiskinan yang terberat itu adalah penyakit jasmani. Dan penyakit jasmani yang terparah adalah penyakit hati. Kesehatan badan lebih berharga daripada kecukupan harta, dan hati yang bertaqwa lebih berharga daripada badan yang sehat.

3.         Barangsiapa yang enggan bekerja ia akan menghadapi cubaan hidup, dan Allah tidak memerlukankan orang yang tidak mengindahkan nikmat yang dikurniakan dalam harta dan jiwanya...”

4.         Sepuluh macam sifat yang menunjukkan akhlak mulia:

a.         penyantun

b.         pemalu

c.          jujur

d.         menunaikan amanat

e.         rendah hati

f.           waspada

g.         pemberani

h.         tabah

i.           sabar

j.           tahu bersyukur

Orang yang bahagia adalah yang dapat menarik pelajaran dari orang lain, orang yang sengsara ialah orang yang tertipu oleh hawa nafsunya.

5.         Hai para hamba Allah, janganlah sekali-kali kalian terkecoh oleh kebodohan kalian, dan jangan pula kalian menuruti hawa nafsu kalian. Orang yang tunduk kepada dua hal itu ia berada di tepi jurang dalam.

6.         Ilmu pengetahuan wajib diikuti dengan amal perbuatan. Barangsiapa berilmu ia harus beramal. Dengan amal ilmu akan meningkat tinggi dan tanpa amal, ilmu akan merosot...”

7.         Amal perbuatan adalah buah ilmu pengetahuan. Orang berilmu yang berbuat tidak sesuai dengan ilmunya, sama dengan orang bodoh yang kebingungan dan tetap bodoh. Bahkan orang seperti itu kesalahannya lebih besar, lebih pantas dikesali dan di hadirat Allah ia akan menjadi orang yang paling menyesal. Orang yang bekerja tanpa ilmu sama dengan orang yang bepergian tanpa kenal jalan, sehingga orang lain yang melihatnya akan bertanya-tanya: “berpergiankah atau pulang?!?”

8.         Barangsiapa dikaruniai kekayaan oleh Allah hendaklah ia memperhatikan kaum kerabatnya, menghormati dan menjamu tamu sebaik-baiknya, membebaskan tawanan perang dan melepaskan orang dari penderitaan, membantu kaum fakir miskin dan orang yang tenggelam di dalam hutang demi kebajikan, dan hendaknya ia bersabar tidak menuntuk hak karena ingin mendapatkan pahala semata-mata. Sifat-sifat demikian itu merupakan keberuntungan yang akan menghantarkan orang ke arah kemuliaan di dunia dan insya Allah merupakan pembuka jalan baginya untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat.

9.         Bekerjalah dengan sekuat tenagamu, janganlah engkau menjadi penumpang hasil kerja orang lain.

10.      Janganlah engkau malu kalau hanya dapat memberi sedikit, karena dapat memberi sedikit lebih baik daripada tidak dapat memberi. Jadilah engkau seorang yang penyantun, tetapi jangan menjadi seorang yang pemboros. Jadilah engkau seorang yang hemat, tapi jangan menjadi seorang yang kikir.

11.      Janganlah engkau menjadi orang yang tidak menerima peringatan, karena orang yang berakal cukup diperingatkan dengan tutur-kata yang baik, sedangkan hewan tak dapat diperingatkan kecuali dengan pukulan.

12.      Hati manusia dapat merasa jemu dan lesu sebagaimana badan juga merasa jemu dan lesu. Karena itu carilah ilmu dan hikmah sebagai ubatnya.

13.      Siapa yang tidak mengenal harga dirinya, tak berguna baginya kemuliaan asal keturunannya.

14.      Semua nikmat yang nilainya di bawah surga adalah rendah dan semua musibah yang kadarnya dibawah neraka adalah keselamatan.

15.      Orang yang mengadakan bid’ah pasti meninggalkan sunnah, karena itu hati-hatilah terhadap bida’ah. Sunnah adalah cahaya yang mempunyai tanda-tandanya sendiri dan bida’ah pun mempunyai tanda-tandanya sendiri. Orang yang paling celaka di hadirat Allah ialah pemimpin yang dzalim, ia sesat dan menyesatkan.

16.      Orang yang benar-benar ahli fiqh adalah yang tidak membuat orang lain berputus asa mengharapkan rahmat dan kasih sayang Allah dan menyelamatkan mereka dari murka-Nya.

Imam 'Ali berpendapat, orang yang hidup dicengkeram kemelaratan tentu kehilangan ketenangan dan ketenteramannya. Sukar baginya untuk menghayati kejujuran, perilaku yang baik dan menghias dirinya dengan sifat-sifat utama. Sukar pula beginya untuk membuan rasa iri hati dan dengki dari lubuk hati. Maka itu ia mudah terperosok ke dalam penyelewengan yang tidak baik.

Benar bahwa Imam 'Ali a.s hidup zuhud dan menganjurkan kezuhudan, demikian juga dengan beberapa sahabat Nabi semisal Abu Dzar Al-Ghifari. Akan tetapi mereka tak pernah menganjurkan untuk lebih suka hidup melarat daripada berkecukupan. Imam 'Ali a.s  tidak jemu-jemunya mengingatkan kepada kaum muslimin, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhirat seakan-akan engkau mati esok hari.”

Menurut Imam 'Ali upaya memperoleh rizki dengan jalan yang benar dan lurus tidak akan mendatangkan hasil lebih besar daripada yang diperlukan untuk mengatasi keperluan. Dengan tegas dan jelas Imam 'Ali berkata: “Jika kalian menempuh jalan kebenaran, tentu akan terbuka jalan yang menyenangkan kalian dan tidak akan ada orang lain yang menggantungkan penghidupannya kepada orang lain.”

Berdasarkan pengamatan yang tajam dan cermat Imam 'Ali as yakin bahwa kemelaratan dapat menjerumuskan manusia ke dalam kekufuran. Karena itulah ia memerangi segenap kekuatan yang ada, serta dengan tegas dan tandas mencemohkan orang-orang yang menganjurkan atau membagus-baguskan kemelaratan dengan dalil kezuhudan. Memang kalau hidup zuhud akan menambah iman dan taqwa kepada Allah Ta’ala, akan tetapi kalau kemelaratan akan membawa ke dalam kekufuran. Dimana nanti kita akan ‘menyembah’ selain-Nya. Itu bisa harta dan juga kekuasaan. Maka itu seumpamanya kemelaratan itu berupa manusia, seharusnya kita membunuhnya.

 

Ini hanya secuit dari sekian banyak hikmah yang boleh kita temukan dalam diri Imam 'Ali, karena Imam 'Ali a.s adalah mahasiswa utama yang menimba ilmu dari mahaguru umat sedunia, Muhammad s.a.w. Yang mana, Rasulullah saw bersabda: “Hai'Ali, Allah telah menghias dirimu dengan hiasan yang paling disukai-Nya, Allah mengaruniaimu perasaan mencintai kaum lemah hingga Allah membuatmu puas (ridho) mempunyai pengikut mereka dan mereka pun puas engkau menjadi pemimpin mereka.”

 

Menjelang Berbuka Puasa

Rumah Rasulullah sa.w tidak istimewa. Perabut rumah tangganya sangatlah sederhana. Pakaian beliau hanya beberapa potong; semuanya bukan terbuat dari bahan yang istimewa. Akan tetapi rumah tangga Rasulullah s.a.w. menjadi contoh sebuah rumah tangga yang sejahtera.

            Adalah rumah Rasulullah di belakang masjid. Di sebelah rumah beliau terdapat rumah putri kesayangannya, Fatimah Az-Zahra, yang hidup bersama suaminya, Ali bin Abi Thalib, dan ketiga putra mereka, Hasan, Husain, dan Zainab. Setiap kali membuka jendela rumahnya, tampaklah oleh beliau rumah Fatimah. Dan setiap pagi, ketika akan bershalat Subuh, Rasulullah saw. senantiasa membuka jendela rumahnya dan berseru memanggil penghuni rumah di sebelahnya itu. Hal itu dilakukannya setiap hari. Kecuali itu, beliaupun selalu mengunjungi keluarga Ali bin Abi Thalib, kemudian bercanda dengan cucu-cucunya yang masih kecil-kecil.

            Rumah tangga Fatimah Az-Zahra tampak sangat bahagia. Rumah tangga keluarga ini layaknya seperti rumah tangga Rasulullah s.a.w, senantiasa memberikan nasehat-nasehat dan bimbingan kepada keluarga puterinya itu.

            Bimbingan Rasulullah s.a.w. Itu terlihat, misalnya, ketika Fatimah, puteri kesayangannya, datang menghadap beliau untuk minta seorang pembantu. Imam Ali seniri tak sampai hati melihat istrinya selalu bekerja sendirian menumbuk gandum, sehinggga tangan puteri Rasulullah itu menebal dan menjadi kasar. Tapi apa hendak dikata, sebab ia tak punya cukup uang untuk membeli seorang budak. Akhirnya mereka pun menghadap Rasulullah untuk menyampaikan hal itu.

            Akan tetapi, apa jawab Nabi? Beliau berkata: “Tidak wahai puteriku. Maukah aku berikan kepadamu sesuatu yang lebih berharga, yang diajarkan Jibril kepadaku?”

            Fatimah pun mengangguk. Kemudian Rasulullah pun menyuruhnya membaca subhanallah pun menyuruhnya membaca Allahu Akbar sebanyak 34x, alhamdulillah sebanyak 33x, dan subhanallah sebanyak 33x, setiap selesai menjalankan shalat lima waktu.

            Begitu pula cara Rasulullah mendidik anggota keluarganya yang lain, Imam Ali, sepupu dan menantunya, menjadi orang yang terkenal ilmu, akhlak, dan keberaniannya, juga berkat didikan langsung dari Nabi seniri, Demikian juga Hasan, Husein, dan Zainab.

            Oleh sebab itu, keluarga tersebut menjadi keluarga yang sejahtera, karena setiap anggota keluarga itu merupakn peribadi-peribadi yang istimewa. Bukanlah karena mereka adalah keturunan Rasulullah maka mereka menjadi istimewa dengan sendirina, melainkan keturunan itu hanya merupakan kesempatan bagi mereka sehingga mereka dapat merasakan pendidikan dan perhatian yang lebih khusus dari Rasulullah saaw.

            Masyarakat benar-benar maklum akan keutamaan keluarga yang satu ini. Mereka berpikir, bahwa rumah tangga yang lebih baik daripada rumah tangga Ali dan Fatimah hanyalah rumah tangga Rasulullah s.a.w, saja.

            Tentang keutamaan keluarga ini, pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari, di bulan suci Ramadhan, Imam Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein sedang bersiap-siap untuk berbuka puasa. Tak ada hidangan yang tersedia di hadapan mereka kecuali masing-masing memegang sepotong roti kering. Ketika roti itu akan dimakan, terdengar suara pintu rumah mereka diketuk orang. Maka dibukakanlah pintu itu terlebih dahulu. Yang datang adalah seoang miskin, yang meminta sesuatu untuk berbuka puasa, sebab ia tak mempunyai makanan sedikit pun.

            Ia berkata: “Wahai penghuni rumah kecintaan Rasulullah! Aku adalah seorang miskin yang tak punya apa-apa, bahkan untuk berbuka puasa pada hari ini. Tolonglah aku, wahai peribadi-peribadi mulia. Berbagilah denganku atas rezeki yang diberikan Allah kepada kalian. Semoga Allah memuliakan kalian karenanya.”

            Imam Ali diam sejenak. Ia memandang anggota keluarganya yang lain. Seisi rumah berpandang-pandangan. Namun, tak lama, segera ia mengambil roti bagiannya sendiri, dan bergegas hendak menyerahkannya kepada si miskin. Tapi langkahnya terhenti. Ia sangat terharu, karena seisi rumah ternyata melakukan hal yang sama. Mereka menyerahkan bagiannya masing-masing, dan akhirnya mereka hanya berbuka dengan meminum segelas air putih.

            Hari berikutnya, kejadian serupa terulang kembali. Kali ini yang datang adalah seorang Muslim yang baru saja dibebaskan oleh kaum kafir setelah ia ditawan beberapa lama.

            “Assalamu’alaikum ya Ahlul Baitin-nubuwwah!” (Semoga keselamatan dilimpahkan atas kalian, wahai keluarga rumah tangga Nabi ) terdengar suara orang diluar.

            “Wa’alaikum salam warahmatullah,”jawab penghuni rumah itu serempak, kemudian Imam Ali bangkit membukakan pintu untuk tamunya.

            “Sungguh, aku tak tahu lagi harus pergi kemana selain ke rumah ini. Aku adalah seorang Muslim yang baru saja dibebaskan oleh musuh. Aku menginginkan kebaikan kalian, karena perutku terasa lapar, dan tubuhku sangatlah lemah kerenanya.”

            Imam Ali segera menuju ke mejanya, dan mengambil sepotong roti untuk orang tersebut. Yang lain tampak akan mengikuti seperti halnya kemarin.

            “Tak usahlah! Makan saja bagian kalian!” kata Imam Ali menasihatkan.

            “Tidak! Demi Allah, aku tak dapat merasa kenyang sementara aku mengetahui bahwa di luar ada seorang Muslim yang kelaparan,” kata Fatimah, istrinya.

            “Baiklah,” kata Imam Ali menyerah. Namun, tak urung ia pun tersentuh karena anak-anaknya yang masih kecil ikut menyerahkan bagian mereka.

            “Alhamdulillah. Sungguh kalian adalah orang-orang yang mulia. Semoga Allah memberi kalian balasan yang berlipat ganda…,” kata orang itu bersyukur sambil memegangi roti pemberian Imam Ali sekeluarga.

            Dan pada hari kedua itu pun, mereka hanya berbuka dengan meminum segelas air putih. Sampailah hari yang ketiga. Ketika keluarga ini tengah bersiap-siap menunggu adzan maghrib, mereka dikejutkan oleh ketukan pintu. Ketukan itu sebenarnya sangatlah perlahan. Imam Ali, selaku kepala keluarga, berjalan membukakan pintu.Ia terkejut, karena tamunya yang lain adalah seorang bocah.

            “Assalamu’alaikum,” kata anak itu perlahan.

            “Wa’alaikum salam warahmatullah,” jawab Imam Ali sambil berjongkok dan merangkul si kecil, seakan puteranya sendiri. “Ada apa gerangan wahaianakku?” tanya Imam Ali lembut.

            “Aku adalah seorang yatim. Ayahku telah lama meninggal dunia. Ibuku bekerja sendirian. Sedang aku, sudah beberapa hari ini perutku kosong, tak kemasukan makanan apa-apa!” katanya memelas dengan wajah tertunduk.

            Imam Ali terharu. Matanya berkaca-kaca. Ia memang sangat mencintai anak-anak, lerlebih anak yatim. Bahkan, diseluruh kota, Imam Ali dikenal sebagai”Bapaknya anak-anak yatim” sekota itu. Sebaliknya, setiap anak yatim menganggap Imam Ali sebagai ayah mereka. Tanpa fikir panjang, ia bergegas mengambil sepotong roti yang menjadi bagiannya. Tapi, lagi-lagi ia kebingungan, karena seisi rumah serempak mengikuti langkahnya. Ia menoleh ke belakang, dan dengan perasaan terharu yang semakin dalam ia berkata: “Sudahlah. Biar aku saja yang memberikan bagianku. Kalian… makanlah bagian kalian!”

            “Sungguh, bagaimana mungkin seorang ibu akan merasa kenyang, sementara ia tahu putranya mengigil karena menahan lapar?” kata Fatimah sambil juga menahan air mata.

            “Baiklah. Tetapi engkau, anak-anakku, makan sajalah bagian kalian, biar ayah dan ibu yang mengurus keperluan anak itu,” kata Imam Ali lagi. Ia terpaksa berbuat begitu, sebab terbayang jelas olehnya, bahwa putra-putrinya telah dua hari ini tak makan sesuatu selain hanya minum segelas air. Tapi dengan serta-merta lamunannya dibuyarkan oleh suara puteranya yang bernama Hasan. Anak tersebut dengan suara lemah yang dipaksakan berkata:”Tidak wahai Ayah. Bagaimana mungkin aku akan makan bagianku, sementara aku tahu bahwa seorang anak yang lebih kecil usianya daripadaku harus berjuang menahan lapar?”

            Imam Ali dan Fatimah menjadi semakin terharu.

            “Baiklah. Tetapi kalian, Husein dan Zainab, makanlah bagian kalian!” kata Imam Ali sambil dipaksakan bibirnya untuk tersenyum.

            “Tidak wahai ayah. Bagaimana aku akan makan dengan tenang, sementara aku tahu, bahwa di luar rumah ini seorang sahabatku harus menanggung lapar?” kata Husein tak kalah tangkas dari kakaknya.

AL Ridho * Gombak * Selangor* Malaysia*

al-ridhogombak.jpg