Make your own free website on Tripod.com

Raudah ArRidho

SEJARAH YANG HILANG

Muka Hadapan
Mengenai Kami
Perkumpulan Kami
Hubungi Kami
KEMELUT SESUDAH RASULULLAH
Kehadiran Rasulullah
Ali bin Abi Tholib
Imam Hasan Bin Ali Bin Abi Tholib
Fatimah azzahra a.s.
Imam Husein Asyahid a.s.
Peristiwa Karbala
Imam Ali Zainal Abidin
Imam Muhammad Al-Baqir
Imam Jaafar As-shodiq
Imam Musa Al-Kadzim
Imam Ali Ar-Ridho
Imam Muhammad Ali Al-Jawad
Imam Ali Hadi An-Naqi
Imam Hasan Al-Askari
Imam Mahdi Sohibuz Zaman
Ijtihad 4 Sahabat
Ijtihad Abu Bakar
Ijtihad Umar
Ijtihad Othman
Ijtihad Ali Ibn Abi Tholib
Doa-Doa Dalam Shi'ei
Yuhana Mencari Kebenara

Sejarah Rasulullah

SETIAP pergantian zaman selalu diikuti dengan lahirnya tokoh-tokoh besar, yang besar tidaknya ditentukan oleh perananya dalam menciptakan proses perubahan sosial dalam masyarakat. Menurut ‘Ali Syari’ati, ada tiga hal yang perlu diamati untuk mengenal ketokohan setiap pemimpin dunia.

Pertama, peranan sosial dengan sistem kepribadian yang dibangunnya megambarkan paradigma pandangan-dunia yang sistemik. Ajaran-ajarannya memberikan inspirasi dan gairah hidup bagi pembelaan nilai-nilai kemanusiaan.

Kedua, peninggalan dari ajaran-ajarannya sebagai bukti-bukti dari sejarah peradaban yang merupakan representasi akumulatif dari dirinya.

Ketiga, pendukung-nya merupakan hasil bentukan sistem yang berdasarkan kerangka dasar paradigma perubahan.

Di antara sosok manusia besar yang pernah hidup dalam blantika sejarah kemanusiaan adalah Nabi Muhammad saw. Kebesarannya terbentuk karena perpaduan harmonis antara nilai Rububiyah Ilahi dengan semangat pembelaan terhadap kemanusiaan dan kealaman. Tetapi sering terjadi, tokoh besar ini dipahami secara keliru. Kesalahan itu antara lain karena latar sejarah kelahirannya yang diterima oleh masyarakat telah mengalami reduksi yang sedemikian rupa.

Dalam al-Quran, berita kelahiran nabi dan rasul selalu berbarengan dengan peristiwa-peristiwa spektakuler. Nabi Musa as misalnya. Sebelum kelahirannya, para ahli nujum Fir’aun meramalkan bahwa akan lahir seorang anak manusia yang akan menghancurkan kedudukannya sebagai raja. Fir’aun segera mengumumkan maklumat untuk memeriksa setiap bayi yang lahir dan memerintahkan untuk membunuhnya jika bayi itu laki-laki. Tetapi yang terjadi justru berlawanan dengan senario Fir’aun. Nabi Musa malah tumbuh besar di dalam istananya, secara perlahan merosakan dan menghancurkan kekuasaannya.

Nabi ‘Isa as lahir dalam keadaan tidak memiliki bapa, seperti dijelaskan dalam al-Quran. Maryam as ketika mendapat berita dari malaikat Jibril akan lahirnya seorang bayi dari rahimnya. Maryam berkata, “Bagaimana mungkin saya akan mendapatkan anak sementara saya tidak pernah bersuami dan saya bukanlah pelacur (penzina)”. Dengan mukjizat Allah, ‘Isa as setelah lahir segera memiliki kemampuan berbicara, memberikan pembelaan terhadap orang-orang yang akan bertindak jahat kepada dirinya dan ibunya.

Melihat peristiwa yang pernah terjadi dan di alami oleh para nabi dan rasul sebelum Muhammad, maka kelahirannya dapat dipastikan diikuti pula oleh peristiwa spektakuler.

Kita ketahui dari sejarah dan hadis bahwa ketika Nabi Muhammad saw lahir, dinding-dinding istana Khasrow retak dan menaranya roboh. Api di kuil-kuil persembahan Persia padam. Danau dan sawah mengering. Berhala-berhala yang memenuhi pelataran Ka’bah tumbang. Cahaya dari tubuh Nabi memancar naik ke langit dan menerangi semua tempat yang dilaluinya. Anusyirwan dan pendeta-pendeta Zaratustra mendapatkan mimpi yang menakutkan. Ketika lahir, Nabi kecil itu telah tersunat dan tali pusar-nya pun sudah terpotong. Saat lahir ke dunia, beliau berkata; “Allahu Akbar, al-Hamdulillah, Dia-lah Allah yang harus disembah siang dan malam.”

Peristiwa yang mengawali kelahiran setiap Nabi tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua peristiwa itu berada dalam senario dan perencanaan Allah, khususnya yang berkenaan dengan kelahiran Nabi Muhammad baik dalam kitab Taurat maupun Injil. Allah berfirman kepada Nabi ‘Isa:

 

Dan ingatlah ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah padamu, membenarkan apa yang sebelumnya dari Taurat pemberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.” Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. 61:6).

 

Seandainya telah terjadi keterputusan proses transformasi pendelegasian tugas kerasulan di bumi, maka sistem kesetimbangan alam raya akan mengalami gangguan. Dan itu berarti kiamat pasti telah terjadi.

Dalam pandangan para arif dan ahli kalam, peristiwa kelahiran Nabi Muhammad saw telah “dicatat” Allah Swt sejak pertama kali Dia “merencanakan” penciptaan alam semesta. Mereka mengatakan bahwa ketika alam akan diciptakan, Allah pertama kali menciptakan Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad kemudian Tajalliyyat Allah diturunkan ke alam semesta. Allah menciptakan alam semesta sebagai manifestasi atas kecintaannya kepada Muhammad. Karenanya konsepsi dasar penciptaan Allah diikadkan melalui tali cinta kasih Allah kepada Nur Muhammad. Kelahiran Muhammad mengalami dua periode. Periode pertama di alam roh dan periode kedua di dunia.

Banyak riwayat hadis menyebutkan bahwa seluruh makhluk mengucapkan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj, Nabi Muhammad saw berhenti di Baitul Maqdis melaksanakan solat dan berjamaah dengan semua nabi dan rasul. Nabi sebagai Imam. Pertemuan tersebut diawali dan diakhiri dengan menyampaikan shalawat kepadanya sebagai tanda perhormatan tertinggi yang diberikan Allah kepada Muhammad.

 

Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bersalawat atas Nabi. Hai orang-orang yang beriman bersalawatlah kepadanya, dan berilah salam dengan sungguh-sungguh. (QS. 33:56)

 

Dengan kedudukan Nabi Muhammad saw yang mulia itu, maka proses kelahirannya dapat dipastikan sangat spektakuler.

Manusia agung tersebut hadir ketika awan gelap jahiliyah telah menutup jazirah Arab sepenuhnya. Perbuatan buruk dan haram, perang berdarah, penindasan terhadap budak dan perempuan, merompak, pembunuhan bayi telah memusnahkan seluruh tatanan moral dan menempatkan masyarakat Arab dalam situasi kemerosotan budaya yang luar biasa.

Tapi tak disangka bahwa di tengah kebejatan moral yang sedemikian itu ada sekelompok keluarga yang menjaga kehormatannya, harga dirinya, nilai-nilai kemanusiaannya dan transendensi imannya. Keluarga ini menatang dan menjaga amanat yang digariskan oleh nenek moyangnya Nabi Ibrahim as dalam meletakkan dasar-dasar agama Tauhid. Setelah membangun “Rumah Allah” Ka’bah Ibrahim berdoa:

Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata (berdoa), “Ya Tuhan kami, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan berikanlah rezeki kepada penduduknya dengan buah-buahan (yaitu) terhadap orang-orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang ingkar maka Aku menyenang-nyenangkannya sementara, kemudian Aku memasukkannya ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Ibrahim berdoa) “Ya Tuhan kami, utuslah seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan kepada mereka Kitab (al-Quran) dan hikmah, serta membersihkan dosa mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 2: 126, 129).

 

Sepeninggal Ibrahim as dan Ismail as, secara temurun mereka menitipkan urusan pemeliharaan Baitullah Ka’bah ke tangan orang-orang saleh dari keturunannya. Dari merekalah datuk dan kakek Nabi Muhammad secara bergantian memelihara Ka’bah; yang kalau diurut adalah: ‘Abdullah, ‘Abd al-Muththalib, Hasyim, ‘Abd Manaf, Qushai, Kilab, Ka’ab, Lu’ai, Ghalib, Fihr, Malik, Nazar, Kinanah, Khuzamah, Mudrikah, Ilyas, Mazar, Nazar, Ma’ad bin Adnan. Silsilah inilah yang senantiasa disampaikan oleh Nabi Muhammad saw tentang datuk-datuk beliau.

Husein Haekal menggambarkan demikian indah bagaimana kepercayaan dan keyakinan tauhid kakek Rasulullah saw, ‘Abdul Muththalib, ketika menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw.

Dalam upacara pemberian nama di hari ketujuh kelahirannya, ‘Abdul Muththalib menyembelih unta dan mengundang banyak orang. Sebagian orang bertanya ehwal pemberian nama Muhammad kepada cucunya yang keluar dari tradisi penamaan di kalangan orang Arab. Abdul Muththalib menjawab, “Aku inginkan dia menjadi orang yang paling terpuji bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi.” Sebuah ungkapan kesadaran dan pengakuan tauhid terhadap keberadaan yang Mahakuasa.

Ketika pasukan Abrahah akan menyerang Makkah, ‘Abdul Muththalib berdoa kepada Allah sambil memeluk dan menarik tali pintu Ka’bah:

 

Ya Allah! kami tidak meletakkan iman kami kepada siapapun selain Engkau, untuk selamat dari kejahatan dan bencana.

Ya Allah! Tolaklah mereka dari rumah suci-Mu, musuh Ka’bah adalah musuh-Mu.

Wahai Pemberi Rezki, putuskan tangan mereka agar mereka tidak mencemari rumah-Mu. Bagaimanapun, keselamatan Rumah-Mu adalah tanggung jawab-Mu.

Jangan biarkan datangnya hari ketika salib menjadi jaya atasnya dan penduduk negeri-negeri mereka merebut negeri-Mu dan menguasainya

 

Kelahiran Nabi Islam 

Mata bersinar seterang cahaya matahari, kenyataan kata-kata yang keluar dari bibirnya lebih jelas dari sinar matahari, hatinya lebih segar dari bunga kebun Yatsrib dan Thaif, kebiasaan dan moralnya lebih baik dari pada cahaya bulan malam Hijaz, pikirannya lebih cepat dari angin yang kencang, lidahnya yang mempesona, hatinya yang penuh dengan cahaya, putusan yang kokoh bagaikan pedang tajam dan kata-katanya yang menyenangkan keluar dari mulut. Dialah Muhammad putra Abdullah, Nabi yang berasal dari tanah Arab, Nabi penghancur berhala, berhala yang memisahkan seorang saudara dengan saudaranya yang lain, dia tidak hanya meluluh-lantakkan berhala kayu dan batu tapi dia juga menghancurleburkan berhala kekayaan, kebiasaan buruk dan penyembahan pada roh nenek moyang.

             Satu-satunya perkara yang pengecut Quraish inginkan adalah wang, ia harus dipindahkan dari tangan pengembara Arab kekantong mereka. Sesuatu yang mereka anggap sangat berharga dalam kehidupannya adalah keuntungan atau laba, dalam mengusahakan mereka harus mengadakan perjalanan di padang pasir dengan mengendarai unta, mereka siap menghadapi kesulitan seberat apapun, setelah itu pulang ke kampung halamannya Mekkah, yang merupakan kota berhala, di mana wang adalah benda yang selalu mereka idam-idamkan.

            Tiba-tiba mereka mendengar suara yang menggetarkan urat syaraf mereka, impian mereka hancur berantakan. Dunia memalingkan wajahnya sambil berkata : “Harga manusia tidak semurah yang kamu kira, keadaan pengembara Arab tidak seperti apa yang kamu pikirkan, inilah suara Muhammad”.

            Orang-orang Arab pada zaman itu adalah orang yang sangat bangga dan egois, mereka menganggap orang-orang ajam (selain Arab) adalah orang yang rendah. Tidak hanya ini saja, mereka pun menilai bahwa orang Ajam adalah bukan manusia. Muhammad tidak menyetujui keyakinan mereka ini. Menanngapi sikap orang Arab ini, beliau mengatakan :”Tidak ada orang Arab yang lebih unggul dari bukan Arab kecuali kesalehannya. Tidak peduli suka atau tidak, umat manusia adalah bersaudara.”

            Orang-orang mustadh’afin (tertindas), tuna wisma dan tak berdaya wajahnya terbakar oleh angin panas, masyarakat mengasingkannya dan menyesengsarakan kehidupannya. Di mata masyarakat, mereka lebih rendah dari pada butiran pasir dan kehidupannya tidak membuat orang lain iri hati. Sebenarnya merekalah sahabat Nabi yang sejati, sebagaimana sahabat Nabi Isa dan orang-orang besar dunia lainnya. Demi merekalah Nabi Muhammad s.a.w berusaha mencegah kediktatoran, melarang perbudakan, membebaskan budak sahabatnya dan mendirikan baitul mal sehingga seluruh rakyat bisa mengambil manfaat tanpa diskriminasi. Beliau mengarahkan masyarakt untuk berusaha mencapai kesejahteraan umum. Dia menuntut orang Quraish yang merupakan kerabatnya untuk memperbaiki tindak-tanduknya, beramal saleh, serta mengerjakan sesuatu karena Allah yang telah memadukan ciptaan-Nya yang tersebar menjadi kesatuan yang lengkap.

            Namun, kaum Quraish menghasut orang-orang jahiliah dan anak-anaknya sendiri untuk melempar dan mengejek beliau.

            Kaum budak yang tertindas, tidak berumah dan tak mempunyai kemampuan apa-apa, di antaranya Bilal , muadzin Nabi, sangat gembira mendengar kata-kata Nabi, “Semua manusia diberi rizqi oleh Allah dan Allah sangat mencintai umat yang suka menolong makhluq-nya”. Ini adalah da’wah Muhammad.

            Orang-orang yang memusuhi, melempari dan mengejeknya mendengar suara yang menggetarkan : “Bila kamu (Muhammad) berbuat kejam dan berhati keras niscaya mereka semua akan meninggalkanmu semenjak dulu. Ampunilah mereka, bermohonlah kepada Allah untuk menghapus dosa mereka dan bermusyawarahlah bersama mereka dalam masalah tertentu. Tetapi ketika kamu sudah mencapai suatu keputusan berimanlah kepada Allah. Allah mencintai orang-orang yang beriman. Inilah suara Muhammad. “

            Kata-kata suci berikut ini terpatri dalam pikiran orang-orang yang berusaha berjalan menuju Allah demi kehidupan yang lebih baik, mereka siap sedia mendukung (Muhammad) dalam usaha menghancurkan penyembahan berhala dan perbuatan jahat, mereka takut kalau-kalau hak dan perbuatan baiknya tersia-sia di medan pertempuran.

            Ingatlah! Jangan berkhianat, jangan menyia-nyiakan amanat, jangan membunuh anak-anakmu baik laki-laki ataupun perempuan, jangan membunuh orang tua, jangan membunuh rahib di biara, jangan membakar pohon kurma, jangan menebang pohon dan meruntuhkan  bangunan. Ini adalah seruan Muhammad.

            Orang-orang Arab mendengar seruan yang menyejukkan ini dan menyebarkannya ke empat penjuru dunia. Mereka mencelup pejabat dan raja perkasa dengan permohonan ini, menjadikan persahabatan sesama umat manusia dan menguntaikannya dalan satu keyakinan, serta menciptakan hubungan antara manusia dan Tuhannya.

            Naungan Muhammad tersebar sedemikian rupa sehingga seluruh isi dunia menjemput kedatangannya, negeri-negeri dari timur sampai barat mulai menghasilkan buah kebaikan, pengetahuan, kedamaian, dan persahabatan.  Nabi Islam membentangkan tangan dan menebarkan benih-benih persahabatan dan persaudaraaan ke seluruh dunia. Olah karena itu, pengikut Muhammad ada di mana-mana. Satu di antara mereka mungkin ada dari Paksitan dan ada yang lainnya dari Spanyol, tapi walaupun demikian mereka menduduki derajat yang sama. Nabi tetap menghormati dan menghargai orang-orang Timur yang sampai saat ini masih memegang teguh mahkota kerajaan.

            Panggilan Muhammad adalah panggilan persaudaraan. Ia menghentikan tangan para penguasa yang berusaha merenggut harta warganya dan menyamakan hak asasi manusia. Dalam agama yang dia anut, tidak ada diskriminasi antara orang kecil, pejabat, warga negara, orang Arab dan orang ajam karena mereka semua adalah hamba Allah, hanya Allah-lah yang memberi rizki kepada mereka.

            Suara mulia ini mampu memerdekakan perempuan dari penindasan laki-laki, membebaskan para pekerja dari ketidakadilan pemilik modal (kapitalis) dan melepaskan budak dari ketaatan yang berlebihan kepada tuannya. Islam menentang Plato dan para filosof lainnya yang mencabut hak sosial para pekerja hanya karena pekerjaannya yang hina, mereka membahagi masyarakat ke dalam kelas-kelas, sebaliknya Nabi Islam mendorong manusia berpartisipasi dalam urusan pemerintah, beliau mengharamkan riba dan eksploitasi manusia oleh yang lainnya.

            Makhluk yang murah hati ini adalah pribadi agung yang menaburkan berkah pada umat manusia, yang melenyapkan kesesatan, karenanyalah nilai kehidupan menjadi dan mulia, kebebasan menjadi perkara yang besar, serta realitas atau kenyataan menjadi terangkat, dialah Muhammad s.a.w.

            Nabi Muhammad itu  menjadi suri tauladan, dasar bagi hubungan sosial kemasyarakatan, alasan bagi orang yang menapaki jalannya, kebenaran yang menjelaskan mana yang baik dan mana yang salah. Tidak pernah kita melihat manusia yang tercerahkan ini di muka bumi, yang diriya sendiri menderita dan mengalami kesakitan tetapi memberi berkah dan membahagiakan orang lain tersebut. Tidak pernah pula kita melihat penguasa yang tak pernah makan kenyang bila rakyat sekelilingnya kelaparan, tidak mau mengenakan pakaian yang bagus bila yang lain berpakaian jelek, tidak mau mengumpulkan kekayaan karena banyak orang  miskin di sekitarnya. Demikianlah kajian sejarah singkat yang dikemukakan oleh seorang penulis Barat, bernama George Jordac. Memang, Nabi mulia ini merupakan satu-satunya manusia terbesar yang telah mempengaruhi sejarah peradaban manusia sepanjang zamannya. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.

 

 

Muhammad Rasulullah s.a.w 

Nama  : Muhammad s.a.w

Gelar : Al-Musthafa

Julukan : Abu Al-Qosim

Ayah : Abdullah bin Abdul Muththalib

lbu : Aminah binti Wahab

Tempat/Tgl. Lahir : Makkah, Senin, 12 Rabiul Awal

Hari/Tgl. Wafat : Senin, 28 Shofar Tahun 11 H.

Umur : 63 tahun

Makam : Madinah

Jumlah Anak : 7 orang, 3 laki-laki dan 4 perempuan

Anak laki-laki : Qosim, Abdullah dan lbrahim

Anak perempuan : Zainab, Ruqoiyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah.

 

Riwayat Hidup

 

    Riwayat Hidup Nabi Muhammad s.a.w di kala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya lahirlah seorang bayi dan keluarga yang sederhana di kota Makkah, yang kelak akan membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia. Ayahandanya bernama Abdullah putra Abdul Muththalib yang wafat sebelum beliau dilahirkan 7 bulan. Kehadiran bayi itu disambut oleh datuknya Abdul Muththalib dengan penuh kasih sayang dan kemudian bayi itu dibawanya ke kaki Ka'bah. Di tempat suci inilah bayi itu diberi nama Muhammad, suatu nama yang belum pernah ada sebelumnya.

    Dan dalam usia enam tahun beliau juga kehilangan ibudanya yang tercinta, Aminah binti Wahab. Setelah kematian kedua orang tuanya, datuk beliau Abdul Muthalib mengambil alih pendidikan nya. Menjelang wafatnya, Abdul Muththalib menunjuk putranya, Abu Thalib, sebagai wali dari Nabi Muhammad s.a.w. Beliau dikenal sebagai orang yang tampan, ramah, jujur dan suka menolong sesamanya. Dan pada usia 25 tahun, beliau menikah dengan seorang bangsawan nan rupawan, Khadijah binti Khuwailid. Pada usia 40 tahun, Muhammad saww mendapat wahyu dari Allah SWT dan diangkat sebagai Nabi untuk sekalian alam. Ketika itu beliau senantiasa merenung dalam kesunyian, memikirkan nasib umat manusia. Hingga datanglah Jibril a.s. dengan membawa berita gembira, lalu menyapa dan memerintahkan: "Bacalah dengan nama Tahanmu".

    Kemudian Rasululullah s.a.w mulai berdakwah mengajak kerabatnya menuju kepada pengesaan Allah SWT yang meniupakan asal muasal dari segala yang wujud. Khadijah, istrinya merupakan orang pertama dari kalangan kaum wanita yang mempercayai kenabiaannya. Sedang laki-laki pertama yang mengikuti dan mengimani ajarannya adalah, Ali bin Abi Thalib a.s. Selama tiga tahun Rasululullah saww berdakwah secara diam-diam di kalangan keluarganya dan setelah turun ayat 94 dari Surah Al-Hijr yang berbunyi: "Maka siarkanlah apa-apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan herpalinglah dari orang-orang musyrik", Rasulullah s.a.w mulai berdakwah secara terang-terangan.

    Narnun, temyata kaum Quraish menolak ajakan suci dari Rasulullah s.a.w, bahkan bapa saudaranya sendiri, Abu Lahab, termasuk salah seorang yang memusuhinya. Melihat permusuhan kaum Quraish pada beliau s.a.w, bapa sudaranya, Abu Thalib, berkata: "Bagaimana rancangan mu dalam menghadapi permusuhan ini, wahai anak saudara ku? Akankah engkau menghentikan misimu?". Dengan spontanitas Rasululllah s.a.w menjawab: "Wahai pbapa saudara ku! Andai matahari diletakkan di tangan kiriku dan bulan di tangan kananku, agar aku menghentikan misi ini, sungguh aku tidak akan menghentikannya, hingga agama Allah ini meluas ke segala penjuru atau aku binasa karenanya".

    Bagi Muhammad s.a.w demi projek Allah apapun boleh terjadi. Gangguan demi gangguan, penderitaan demi penderitaan. ejekan, fitnahan, cemohan serta penganiayaan, telah mewarnai kehidupannya. Kaum Quraish bukan hanya mengganggu Rasulullah s.a.w akan tetapi para sahahatnya seperti, Amar serta kedua orang tuanya, Bilal dan yang lainnya juga tidak luput dari penyiksaan dan penganiyayaan.

    Melihat tingkah laku umatnya, khususnya kaum Quraish, Rasulullah s.a.w sangat sedih sekali. Beliau s.a.w yang dikenal sebagai pembawa rahmat, penuh belas kasih, terhiasi dengan kasih sayang, merasa sedih karena beliau tahu bahwa penolakan dan gangguan kaumnya itu tidak lain hanya akan mengakibatkan kesengsaraan dalam kehidupan mereka di dunia dan di akhirat. Kesedihan itu semakin bertambah ketika pada tahun kesepuluh dari kenabiaannya, istrinya, Khadijah, yang sangat menyanyanginya, yang membantu penyebaran misi Allah dengan harta dan jiwanya, yang selalu menghibur dan membahagiakan Rasulullah s.a.w di saat beliau diganggu dan dianiaya oleh kaumnya, meninggal dunia. Tidak hanya itu, bapa saudaranya, Abu Thalib, yang memelihara sejak kecil hingga dewasa, yang selalu membela dengan jiwa dan raganya, juga meninggal dunia pada tahun yang sama.

    Setelah kepergian dua orang terkemuka, pembela Rasululah s.a.w dalam segala keadaan, gangguan kaum kalir Quraish semakin menjadi-jadi. Dan pada tahun ke-13 dari kenabiannya, Rasulullah s.a.w berhijrah ke kota Madinah, setelah kaum kafir Quraish bersepakat untuk mcmbunuhnya. Di tempat hijrahnya itulah Rasulullah s.a.w mulai mendapat sambutan, sehingga beliau mampu menyebarkan misi Allah dengan lebih leluasa dan mendirikan negara Islam di bawah pimpinan beliau sendiri.

    Negara Islam yang masih muda belia itu dipaksa untuk menghadapi tentangan dan serangan yang datang dan kaum kafir Quraish Mekkah dan dan kaum Yahudi yang ada disekitar Madinah. Kemudian terjadilah peperangan-peperangan yang dipaksakan kepada negara Islam yang masih muda itu, oleh pihak-pihak yang tidak setuju terhadap misi suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. Peperangan itu berawal dengan perang Badar, Uhud, Khandak dan peperangan yang lainnya. Berkat bantuan Allah, dan kepandaian Rasulullah dalam mengatur siasat serta berkat keberanian para sahabatnya, khususnya keluarganya seperti Hamzah bin Abdul Muthalib, Ja'far bin Abi Thalib, Ali bin Abi Thalib, akhirnya negara Islam yang baru didirikan itu mampu menahan segala serangan dan berdiri dengan kokoh. Setelah Rasulullah s.a.w berhasil mendirikan negara Islam kemudian beliau memberikan pengajaran dan pengalaman yang lebih kepada shabatnya.

    Bukti keberhasilan yang beliau ajarkan adalah banyaknya para sahabat yang menjadi cerdik pandai dan yang paling pandai di antara sahabatnya adalah sepupunya sendiri yang sekaligus suami dari putrinya yaitu Ali bin Abi Thalib a. s. Karena banyaknya kegiatan yang beliau laksanakan, serta bertambahnya usia, menyebabkan kekuatan fisik beliau cepat menurun.

    Akhirnya, tepat pada tanggal 28 Shafar tahun 11 H dalam usianya 63 tahun, Nabi suci, Nabi pilihan yang sekaligus penutup segala nabi yang sejak awal kehidupannya senantiasa mengabdikan diri pada Allah SWT, harus meninggalkan dunia fana ini menuiu ke hadirat Allah SWT. Beliau telah tiada, namun namanya tetap terukir indah sepanjang masa.

 

AL Ridho * Gombak * Selangor* Malaysia*

al-ridhogombak.jpg